BreakingNews

Warga Perlu Tahu Pengurangan Risiko Bencana

JURNALTIMUR-FBC,- Bumi ini semakin tua dan rapuh. Iklim dan cuaca juga tak menentu, Bahkan mudah sekali terjadi bencana. Hampir dipastikan bahwa berbagai bencana tersebut selalu bersentuhan dengan kehidupan manusia.


 “Perubahan iklim global yang menyumbang bagi berbagai bencana iklim tak lepas dari campur tangan manusia”, demikian salah satu point sari pati isi pelatihan Pengurangan Risiko Bencana Berbasis Masyarakat yang diselenggarakan Yayasan Pengkajian dan Pengembangan Sosial (YPPS) bertempat di pondok belajar Liberti, 3 sampai 4 Oktober 2012.


Pelatihan atas dukungan AusAid melalui Oxfam ini untuk memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengurangi risiko jika terjadi bencana. Hadir 15 utusan dari empat desa sasaran kerja YPPS. 


Sebagaimana UU Nomor 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana mengatur kewajiban-kewajiban masyarakat dalam penanggulangan bencana. Hal yang terkesan kurang diperhatikan selain tuntutan-tuntutan pemenuhan hak oleh pemerintah ketika terjadi bencana. 


Padahal pasal 27 bab V UU itu menyebutkan masyarakat berkewajiban menjaga kehidupan sosial masyarakat yang harmonis, memelihara keseimbangan, keserasian, keselarasan, dan kelestarian fungsi lingkungan hidup;melakukan kegiatan penanggulangan bencana serta memberikan informasi yang benar kepada publik tentang penanggulangan bencana. Untuk menjawab hal-hal inilah, latihan ini dilaksanakan.


Refleksi peserta latihan yang berasal dari desa Nurri, Pajinian, Kolaka, Painapang, Lamatewelu, Nobo dan Waibao ini memperlihatkan bahwa iklim menjadi salah satu sumber bencana tersering di Flores Timur. Sebab terbesar buruknya iklim terlihat dari kekeringan, kebakaran, banjir, gagal panen dan berbagai wabah penyakit. 


Petrus Pati Hokor, Fasilitator materi belajar tentang perubahan iklim menjelaskan bahwa iklim yang berubah dengan dampak pada berbagai bencana langsung maupun tidak langsung itu bersumber dari tingginya tingkat eksploitasi dan eksplorasi alam semesta untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya.


Di level masyarakat Flores Timur, demikian fasilitator latihan ini, terletak pada pola bertani tebas bakar yang menggundulkan hutan dan penggunaan bahan-bahan kimia yang mengabaikan kapasitas dan kerentanan alam pertanian Flores Timur yang tersebar di desa-desa. 


Hal ini sekaligus memberi catatan kritis tentang berbagai kebijakan pertanian dan juga adopsi cara-cara pertanian dari luar yang diterapkan tanpa memeperhatikan kondisi fisik alam Flores Timur yang pada dasarnya kering dan gersang. Karena itu, Ramli Lanan dalam latihan ini menjelaskan pentingnya pertanian berkelanjutan yang ramah terhadap alam dan iklim. 


Refleksi peserta latihan yang 100 persen petani dari desa-desa mengatakan, dalam sepuluh tahun terakhir terjadi berbagai perubahan cuaca dan iklim yang sangat merugikan secara sosial dan ekonomi. Pengalaman sebagai petani mengatakan dalam refleksi dan belajar bersama ini bahwa dua tiga tahun terakhir petani mente di Flores Tumur menghadapi gagal panen karena tanaman ini gagal berbuah.


Kasus jambu mente menjadi media belajar. Pengalaman petani bahwa, tahun 2009 dan 2010 silam ketika musim bunga mente, curah hujan berlebihan sehingga tanaman ini gagal berbuah. Dua tahun terakhir, panas berlebihan sehingga tanaman ini juga gagal berbuah. 


Perubahan curah hujan tak tentu seperti ini merupakan salah satu ciri perubahan iklim global. Di beberapa tempat curah hujan berkurang dan di tempat lain berlebihan. Bahkan dalam satu wilayah hujan terlokalisir di tempat-tempat tetentu. Kondisi seperti ini sangat merusak ketahan ekonomi dan sangat mengancam kualitas kehidupan maasyarakat.


Tim YPPS yang mengorganisir dan memfasilitasi latihan ini menjelaskan, perubahan iklim yang dirasakan hingga ke desa-desa berkaitan dengan isu global “pemanasan dan iklim”. Kajian-kajian akademis tentang isu ini memperlihatkan industrialisasi dan tingginya penggunaan bahan bakar fosil sebagai sebab utama kerusakan iklim global. Pertambangan dan industri yang sangat diandalkan dalam pembanguna modern ini menyumbang paling besar terhadap buruknya iklim. Hal ini yang dirasakan penghuni sejagat termasuk warga pedesaan di Flores Timur.


Latihan ini juga merefleksikan berbagai bencana di Flores Timur akhir-akhir ini dan paling sering terjadi yang disebut bencana-bencana iklim, seperti banjir bandang, kebakaran karena kekeringan dan kemarau panjang, abrasi dan gelombang pasang, angin dan badai.


Egidius Ola Padak, salah satu peserta latihan ini mengatakan, pendidikan-pendidikan dan penyebaran informas seperti ini sangat penting bagi masyarakat umum. Perubahan dan pembaharuan pengetahuan seperti ini menurutnya akan berpengaruh ke perubahan kesadaran dan perbuatan.


“Masyarakat membakar lahan, menggunakan pupuk dan bahan kimia berlebihan dalam pertanian karena belum memiliki pengetahuan yang lengkap”, kata Ola Padak.


Menurutnya, petani tahu bahwa pupuk dan bahan-bahan kimia itu baik untuk menaikan produksi. Sedangkan dampak dan pengaruh lingkungan bahkan iklim umumnya belum diketahui secara luas karena belum ada yang menjelaskan kepada mereka. “Karena itu latihan seperti ini sangat bagus, dan harus diberikan kepada lebih banyak peserta lagi”, demikian kata Ola Padak di teras Pondok Liberti usai latihan ini.


Peserta lainnya, Agnes Tukan, seorang guru dari kampung Welo desa Painapang mengatakan, dengan latihan ini masyarakat sebelumnya tidak tau menjadi tahu. “Mayoritas masyarakat di Welo itu petani dan nelayan, sama seperti di desa lainnya. Pengetahuan terhadap bencana, terlebih iklim sangat kecil”. Namun demikian, lanjutnya, hidup dan kehidupan masyarakat sebagai petani dan nelayan sangat dekat dengan iklim dan sebab-sebab kebencanaan.  “Pengetahuan yang saya dapatkan dari latihan ini akan saya sebarkan agar semakin banyak orang tahu, sadar dan sama-sama melakukan perubahan”, kata Agnes menyampaikan tekatnya.


Menurutnaya penyebaran pengetahuan dan informasi kepada masyarakat merupakan bagian dari upaya-upaya dini pengurangan risiko bencana. Dari pengetahuan yang disebarkan, masyarakat menjadi tahu dan bisa mengambil langkah-langkah perbaikan. “Ini yang disebut upaya pengurangan risiko berbasis masyarakat”, kata Agnes Tukan.


Hal ini kemudian mendapatkan refleksi bersama bahwa, dalam banyak kejadian bencana, korban menjadi sangat besar karena faktor ketidak tahuan masyarakat. Magda Rianghepat menjelaskan, dengan mengetahui banyak hal seputar bencana dan potensi serta ancaman di komunitas masing-masing, warga boleh mengembangkan berbagai upaya menuju pengurangan risiko berbasis masyarakat.


Ia memberi contoh, pemetaan bersama kondisi riil desa untuk mengenal ancaman dan sumber-sumbernya sehinga bisa menyusun rencana aksi pengurangan risiko bencana, menentukan  bersama-sama titik aman dan jalur evakuasi jika harus menyelamatkan diri dan apa saja yang harus dipersiapkan pada masa pra bencana.


 Lain lagi dengan Maria Titi Betan dari desa Kolaka kecamatan Tanjung Bunga. Menurutnya, latihan seperti ini membuka wawasan tentang upaya dini mengurangi risiko bencana. Ia menyarankan agar tiap desa di Flores Timur memetakan jenis bencana dan membangun sistem di desa untuk mengurangi risikonya. “Seperti membentuk Tim Siaga atau kelompok penanggulangan bencana desa sebagai relawannya desa”, kata Titi Betan. (Melky Koli Baran)***

Sumber : FBC 2012 





Tidak ada komentar