BreakingNews

Warga “Medsos”


JURNALTIMUR.COM Banyak hal kini sedang berubah. Hal yang dahulu hanya menjadi konsumsi di wilayah privat kini diumbar ke ranah publik. Banyak yang resah dengan fenomena ini, tapi banyak juga yang tidak peduli bahkan meyakini diri bahwa inilah saat yang tepat untuk mengatakan tentang diri kepada yang lain. Bukan orang mengada-ada atau kepingin membuat kondisi menjadi runyam, tapi apa yang diperbincangkan, memang sering di perbincangkan di ruang privat,  hanya kini  memindahkan perbincangan ke arena yang luas.

Itulah fenaomena media sosial (Medsos) yang kini menjadi sebuah realitas baru yang dialami manusia saman ini. Melalui Facebook, Instagram, ask.fm, Path, Snapchat, Line, atau Twitter, orang menulis dan mengatakan apa saja. Orang terlibat dalam dan menjadi internet citizen ( netizen). Menulis untuk diri sendiri dan mungkin sadar hal itu akan dibaca orang, atau menulis tentang diri sendiri untuk dibaca orang. Kadang hanya sebatas hiburan, tapi lama-lama menjadi aktivitas rutin.

Ketika sebuah postingan status tiba-tiba mendapatkan tanda jempol atau mendapat komentar, di sana lalu orang mulai sadar bahwa apa yang diperbuat dan dilakukannya mendapat respon orang lain. Diri yang menulis kemudian merasa dan meyakini bahwa diri, tindakan, dan pikiran yang sedang diceritakan ternyata berguna bagi yang lain. Lama kelamaan apa yang disukainya dari yang dilihat dan dibaca dirasa pantas untuk dibagikan tak penting mempersoalkan isi dan kebenaran.

Merasa berada dalam media yang sama, orang berburu untuk menjadi terkenal. Berburu untuk menjadi pusat perhatian. Dalam media yang sama, sepertinya tak perlu lagi membicarakan tentang pemenuhan syarat menjadi terkenal, minimal dari sisi kualiatas.  Asal tidak punya malu, berani dan konsisten, hasil yang diharapkan untuk menjadi orang terkenal bisa segera dipanen.  Dalam bahasa lain, siapa yang kreatif memanfaatkan media sosial  maka segera ia akan menjadi yang diharapkan yakni menjadi terkenal dengan segala turunannya yakni kaya, punya uang, tampan, cantik dan menggoda.

Dikutip dari Kompas, 29 Desember 2016, Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2016 menunjukkan, pengguna internet di Indonesia saja mencapai 132,7 juta orang. Sebagian besar dari mereka adalah mahasiswa (89,7 persen), pelajar (69,8 persen), dan pekerja (58,4 persen). Kaum muda menjadi pengguna internet tertinggi karena generasi milenial inilah yang paling mudah berinteraksi dengan dunia maya. Dari semua jenis konten internet, media sosial adalah konten yang paling banyak diakses, yaitu 129,2 juta orang (97,4 persen). Begitu pula dengan hiburan yang diakses 128,4 juta orang (96,8 persen).

Dengan pengguna sebanyak itu, kini media sosial (medsos) seolah menjadi media sekaligus ruang kerja, ruang pamer, dan panggung untuk mencapai ketenaran. Siapa saja yang berhasil ngetop dan punya banyak pengikut, maka sponsor mulai datang, rekening bank pun bertambah hingga puluhan juta rupiah per bulan. Ternama, terkenal, ngetop bukan hanya berkat kelakuan positif. Mereka yangmendapat banyak cemooh dan hujatan pun bisa ngetop karena yang paling penting di medsos adalah memiliki sangat banyak follower (pengikut). Tidak ada persyaratan, pengikut harus memuja. Pemilik akun tidak bisa menghalangi mereka yang hobi menghujat atau beriklan dan berjualan. Semua dihitung sebagai pengikut. (Kompas, 29 Desember 2016)

Era digital sekarang memang menawarkan banyak kemungkinan. Dengan memuja kebebasan, orang bisa menjadi apa saja. Orang bisa terkenal sekali tapi juga bisa hancur berantakan. Ada haters (pembenci) tapi juga ada lovers (pencinta). Tidak ada acuan disitu semuanya berlomba menikmati ekpresi massal. Semuanya bisa dibuat-buat, dan sengaja diciptakan.

Dalam ekspresi massal yang dipuja-puja itu, keresehan dan kecemasan pun semakin menjadi-jadi. Akal sehat, tradisi dan kebiasaan begitu diporakporandakan dengan berita-berita yang sengaja dipalsukan. Logika diputarbalikan dengan kepercayaan-kepercayaan semu. Solidaritas yang menjadi inti postif dari media sosial, kemudian beralih menjadi ketakutan, merembet ke dunia sosial harian minus media sosial. Bukan tidak mungkin dalam dunia nyata berpikir dan bertindak tergantung rujukan media sosial yang dibacanya.

Kita masih membutuhkan posisi yang pas antara media sosial yang kini menjadi rujukan itu menjadi suatu yang lebih bermakna dalam dunia keseharian. Bukankah  rasionalitas dan perasaan  menyumbangkan sisi human yang menjadi dasar hidup kita?  

Tidak ada komentar