Salim Said Luncurkan Buku "Jangan Banyak Tanya Ini Cuma Dongeng"
Penulis : Benjamin Tukan (btukan37@gmail.com)
JURNALTIMUR.COM,- Salim Said meluncurkan buku kritik sastra yang berjudul
'Jangan Banyak Tanya Ini Cuma Dongeng :Sejumlah Tulisan tentang Sastra. Buku
yang diterbitkan PT Balai Pustaka (Persero), diluncurkan di Galeri Cipta II, Taman
Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, Rabu (18/4/2018). Pada peluncuran buku ini Dr Ignas
Kleden MA menyampaikan orasi sastra
bertajuk : "Sastra dan Humaniora".
Buku Salim Said ini merupakan kumpulan
tulisan atas komentar terhadap berbagai karya sastra dari sejumlah sastrawan
Indonesia seperti Rustandi Kartakusuma, Slamet Muljana, Sori Siregar, Bur
Rasuanto, Mansur Samin, Kuntowijoyo, Pramoedya Ananta Toer, Saribi Arifin,
Ahmad Tohari, Asahan Alham Aidit, Ahmad Mustofa Bisri, HB Jassin, Taufiq
Ismail, Seno Gumira Adjidarma, Leila S Chudori, dan Eka Kurniawan. Buku berisi
18 ulasan mengenai puisi, cerpen, novel, dan drama dari akhir 1950-an hingga
2010-an.
Direktur Utama Balai Pustaka Achmad
Fachrodji. saat peluncuran buku tersebut mengatakan buku kritik sastra telah lama vakum dari dunia
kesusasteraan Indonesia. Padahal, buku dengan konsep ini merupakan referensi
penting bagi sastrawan-sastrawan muda untuk menggali kekayaan kesusasteraan
Indonesia di masa lalu.
"Ibaratnya, setelah kemarau
berbulan-bulan, segalanya terbayar oleh hujan satu hari," ungkap Achmad
Fachrodji.
Ia menuturkan, buku Salim Said ini merupakan
rangkuman kritik Said Salim sejak 1960. Baru sekarang, beliau mau
mempublikasikannya dengan menggandeng Balai Pustaka.
Salim saat didaulat memberikan sambutan mengatakan, dulu seorang diakui dalam dunia kesusateraan Indonesia bila memenuhi dua syarat yakni membuat buku sastra terbitan Balai Pustaka dan karangan dimuat di majalah yang dipimpin Pak Jassin.
"Ini dua paspor untuk masuk dalam lingkungan yang disebut sebagai sastrawan Indonesia. Alhamdulillah di kemudian hari, keduanya saya dapat. Sebagian karangan di buku ini dimuat di majalah yang dipimpin Pak Jassin dan ketika ditetbitkan di buku kumpulan komentar karya sastra, diterbitkan oleh Balai Pustaka. Saya bersyukur," kata Salim Said.
Salim Said selain dikenal luas sebagai
kritikus karya sastra, juga merupakan pengamat militer nasional terkemuka. Dia
telah melahirkan sejumlah buku militer, di antaranya adalah Militer Indonesia
dan Politik: Dulu, Kini, dan Kelak dan Dari Gestapu ke Reformasi: Serangkaian
Kesaksian.
Salim Said sehari-hari dikenal sebagai Guru Besar Ilmu Politik pada Universitas Pertahanan Indonesia (Unhan) dan pengajar tetap pada Sekolah Staf dan Komando TNI, Seskoal, dan STIK/PTIK.
Sebagai sastrawan, tulisan-tulisannya juga pernah dimuat di berbagai
majalah bertema sastra seperti Mimbar Indonesia, Horison, dan lain-lain. Ia pernah
mengenyam pendidikan teater, jurnalistik, psikologi, sosiologi, yang sejak muda
telah aktif berkecimpung di dunia sastra dan seni, serta pengamat film. Selain
itu era 90-an pernah menjadi Ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), dan menjadi
wartawan Majalah Tempo (1971-1987) dan lain-lain.
Salim Said lahir di Parepare, Sulawesi Selatan pada 1943. Jelang usia 16, dia merantau untuk bersekolah di Jawa dan menekuni dunia seni. Setelah lulus SMA di Solo, dia kuliah di Jakarta di Universitas Indonesia dan Akademi Tentara Nasional Indonesia. pendidikan tinggi di Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI, 1963–1965), Akademi Jurnalistik di Utrecht, Negeri Belanda (1969–1970), Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (1963–1968), dan tamat dari jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Indonesia (1976). Meraih gelar MA bidang International Affairs (MAIA) dari Ohio University, Athens, Ohio, Amerika Serikat (1980) M.A. (1983) serta Ph.D. (1985) Ilmu Politik dari Ohio State University, Columbus, Ohio.
Salim Said pernah menjadi anggota Dewan Film Nasional (1989–2001) di samping Ketua Dewan Kesenian Jakarta (1990–1998). Beliau juga pernah menduduki posisi Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Ceko (2006–2010) setelah pada awal reformasi menjadi anggota Badan Pekerja MPR.
Meski penulis buku ini dikenal sebagai spesialis buku tentang peran politik militer Indonesia serta tentang film dan perfilman namun dunia sastra adalah salah satu yang sejak muda menarik minat dan perhatiannya.
Prof Taufik Abdullah dalam kata pengantar buku ini mengatakan, dalam buku
ini Salim Said bukan lagi sang komentator sasra yang siap perang, tapi sang
penikmat sastra yang ingin menggali pesan tidak tertulis. Profesor Taufik
Abdullah menyebut bahwa sastra adalah 'kekasih lama' Said.
"Dalam suasana yang semakin akademis,
dia merasa terpanggil dan menengok kembali 'kekasih lama', dunia sastra yang
nyaris terlupakan," kata Taufik.
"Kombinasi latar belakang kewartawanan,
akademikus, sutradara teater, dan Ketua Dewan Kesenian Jakarta memperkaya
wawasan buku ini," kata Taufik.
Begitulah setelah sekian puluh tahun waktu
berjalan – sejak bukunya tentang dunia film di Indonesia diterbitkan – setelah
menerbitkan sejumlah buku mengenai peran politik militer Indonesia, Salim
kembali mengintip dengan penuh perhatian dunia sastra. Ketika hal ini telah
dikerjakan, sebagaimana tampak jelas dari beberapa tulisannya yang dimuat dalam
buku ini, Salim bukan lagi sang komentator sastra yang ”siap perang”, tetapi
sang penikmat sastra yang ingin menggali pesan tidak tertulis tetapi terasa
berada di belakang berbagai cerita yang dibacanya. Maka bisalah dipahami juga kalau
kadang-kadang dia memuji, tapi terkadang juga mengecam keras.”
Terbitnya buku ini juga merupakan dedikasikan untuk mengenang HB Jassin (Alm), Paus sastra Indonesia. Memperingati 100 Tahun dan sekaligus menandai kebangkitannya kembali PT Balai Pustaka (Persero). Usia Balai Pustaka, 22 September 2017, genap satu abad. Sejak zaman kolonial, perannya di bidang kesusasteraan Indonesia sangat besar, namun belakangan terasa menurun. Kini mencoba bangkit kembali.

Tidak ada komentar