Peo Lambang Persatuan Orang Boawae
![]() |
Peo di
tengah kampung Boawae
|
JURNALTIMUR-FBC,- Peo dibangun
warga di tengah kampung. Sebuah kayu Hebu (kayu Pemali) bercabang dua. Kayu ini dipancang pada tugu bundar yang tersusun dari batu dan tanah. Peo melambangkan persatuan
Peo terdapat di So’a dan Bajawa tetapi bentuknya tidak sama. Walaupun berbeda namun
harus tetap menggunakan kayu Hebu. Nama kayu ini tentu berbeda dengan kayu yang digunakan orang
Bajawa. Mungkin lain lagi nama kayu ini dalam bahasa orang So’a.
“Dahulu nenek moyang saya juga mau mendirikan
Peo di kampung Rabu namun gagal. Tatkala ia bersiap-siap hendak membangun, tiba-tiba ia meninggal dunia. Akhirnya Peo tidak jadi dibangunkannya.
Hingga kini di Rabu tidak ada Peo”, kenang pengajar di tiga Sekolah Dasar di
Kabupaten Ngada dan Nagekeo.
Peo itu ada cabang dua. Tidak hanya tiang tunggal.
Ketika upacara pembunuhan kerbau (Pa) maka talinya diikat pada pangkal batang
kayu. Pada dua cabang dipasang sebatang kayu arah vertikal. Peo tempat Hele
Tali kerbau yang hendak dibunuh secara adat.
“Jumlah kerbau yang dibunuh
sebanyak 50-60 ekor. Kerbau yang dibunuh warga Boawae tahun terakhir 1988
berjumlah 44/45 ekor kerbau. Tahun 1955 di kampung Toeteda sebanyak 50-60 ekor
kerbau dibunuh. Di kampung Boawae ini dibunuh 50-60 kerbau pada tahun 1956”,
tutur bekas pengajar bidang studi Sejarah, Ilmu Bumi dan Olah Raga dan
Kewarganegaraan pada SMP & SD.
Sa’o Wajo
merupakan rumah adat orang Boawae. Sa’o Waja (rumah kokoh dan tangguh)
ini milik suku Deu. Namun dikerjakan bersama-sama dengan keempat suku
lainnya. Rumah adat dibangun dengan konstruksi berkolong.Ruang dalam
terbagi atas beberapa bagian.
Pada ruang tenda atas diletakan tanduk-tanduk
kerbau. Ada pula tanduk yang bergantungan menempeli dinding. Ruang depan tempat
agak luas untuk duduk para tua adat suku. Sebuah ruang lagi untuk menaruh
peralatan makanan dan bahan persembahan bagi arwah nenek moyang. Bilik ini
khusus diurusi oleh ana susu lelaki dewasa yang berperan pembawa
persembahan sesaji. Saat ini diembani oleh bapak Blasius Lewa.
Jaheda adalah
rumah/pondok kecil berkolong dibangun suku Deu. Ja berarti kuda. Heda
ialah sebuah rumah kecil. Ia hanya punya empat tiang. Ia terdiri atas ruang dan
kolong. Tampak tanduk bergantungan pada sekeliling ruang atas di loteng. Pada
kolong ditempati lukisan dua binatang dari kayu. Ukiran kepala
kuda dan badan hingga ekornya berukiran naga. (Guche Montero)
Sumber Tulisan : FBC 2012
Sumber Tulisan : FBC 2012

Tidak ada komentar