Geliat Petani Mete Flores Timur
JURNALTIMUR-DOKUMENTASI FBC 2013,-
Jambu mete, salah satu komoditi eksport.
Sejumlah tempat negeri ini jadi sumber produksinya. Flores, salah satu daerah
asal mete dan Flores Timur mendapat
tempat yang turut diperhitungkan. Bukan soal produksi saja tetapi desa
Balukhering di kecamatan Tanjung Bunga, Kabupaten Flores Timur telah terbukti
sebagai daerah asal bibit jambu mete bersertifikasi.
Kurang
lebih duapuluh-an tahun sejak “Orde
Baru” kabupaten Flores Timur telah berjaya dengan komoditi ini. Bahkan di
berbagai kesempatan, komoditi ini selalu dijuluki primadona kabupaten Flores
Timur.
Ini bukan
sekedar julukan. Sejarah produksi mete di kabupaten ini memberi catatan bahwa
komoditi ini telah turut menyelamatkan ekonomi para petani Flores Timur pada
krisis ekonomi tahun 1998 dan 1999 silam.
Saat itu,
para petani jambu mete di Flores Timur panen uang. Kenaikan nilai tukar dolar
beberapa kali lipat dari Rp 2.500 saat itu turut mendongkrak kenaikan harga
jual biji mete gelondongan mencapai Rp 15.000 sampai 20.000 per kg dari
sebelumnya Rp 2.500 per kg.
Yakobus
Seng Tukan, petani jambu mete dari kecamatan Lewolema mengatakan, kejayaan
petani jambu mete Flores Timur ini dimungkinkan dua hal. Pertama, pada masa itu
produksi jambu mete berada di puncak kejayaan. Kedua adalah harganyapun
menggiurkan. “Dengan begitu, petani jambu mete yang biasa menjual jambu mete
dengan harga tertinggi Rp 2.500 per kg mengalami kenaikan hingga Rp 15.000 per
kg,” ungkapnya.
Lima
Tahun Terakhir
Kini, masa
kejayaan itu menjadi noslatgia masa lalu. Kurang lebih lima tahun terakhir dan
terlebih dua tahun paling akhir, penghasilan petani jambu mete terus melorot.
Secara
keseluruhan, produksi ratusan hektare kebun mete petani Flotim terus menurun.
Diduga hal ini disebabkan usia tanaman jambu mete sudah tua dan juga karena
cuaca dan iklim memburuk karena pemanasan global.
Penurunan
drastis produksi jambu mente ini kemudian mendorong sejumlah kelompok tani
jambu menempuh cara kreatif agar bertahan dalam situasi sulit ini. Caranya
adalah memulai usaha pengolahan biji mete menjadi kacang mete dengan nilai jual
yang tinggi dan stabil.
Yakobus
Seng Tukan bersama kelompoknya di desa Bantala telah memulai upaya ini tahun
2002. Saat itu, kelompok tani Dei Pigere yang diorganisirnya bekerja sama
dengan seorang pengusaha kacang mete di Larantuka melakukan latihan pengupasan
biji mete menjadi kacang mete.
“Latihan
selama seminggu ini diikuti oleh belasan petani. Dari jumlah itu, tidak sampai
lima orang yang mahir mengupas bijia mete”, demikian kisah Yakobus sambil
menambahkan, walau hanya lima orang namun telah menjadi pengalaman baru yang
memberi nilai tambah.
Dikatakanya,
saat itu pengupasan biji mete belum populer. Para petani biasa menjual biji
mete gelondongan dengan harga yang tak menentu setiap tahun. “Pengalaman
menjual kacang memberi pelajaran bahwa harga kacang mete tetap stabil. Tahun
2002 harga biji mete bergerak antara Rp 2000 hingga Rp 12.000. Namun harga
kacang mete stabil di angka Rp 60.000” demikian katanya.
Dengan
nada guyon ia mengatakan, untuk mendapat uang Rp 600.000 petani harus
mengumpulkan kurang lebih satu karung biji mente. Jika menjual kacang mete
hanya butuh 10 kg. “Sebelumnya saya ke pasar pikul karung berisi biji mete.
Setelah belajar kupas mete, saya ke pasar tidak pikul karung lagi. Malah pernah
saya bawa tas kulit yang di dalamnya saya isi 10 kg kacang mete”, kata Yakobus.
Hal yang
sama diceriterakan Yohanes Lae Ruron dan instrinya Maria Arofa anggota kelompok tani Nubun Tawa kampung Welo desa
Painapang kecamatan Lewolema. Ditemui di Welo beberapa waktu lalu, Yohanes dan
istrinya berceritera harus berpikir serius menghadapi anjloknya produksi dan
harga jambu mete. Menurutnya, dataran Welo merupakan salah satu daerah produksi
Mete andalan masyarakat desa Painapang. Karena itu, dari segi penghasilan
keluarga, para petani di wilayah ini mengandalkan mete sebagai salah satu sumber
utama penghasilan tahunan.
“Jika
komoditi ini bermasalah baik produksi maupun pemasaran, maka sangat mengganggu
pendapatan keluarga-keluarga di wilayah ini”, kata Yohanes sambil serius
bersama istrinya mengupas biji-biji mete untuk mendapatkan kacang.
Karena
anjloknya produksi mete beberapa tahun terakhir, Yohanes dan warga kampung Welo
yang bergabung dalam Koperasi Nubun Tawa memutuskan untuk mendalami usaha
pemecahan biji mete, walau dengan peralatan manual. “Melalui usaha ini, kami
tidak lagi jual biji mete tetapi jual kacang mete".
Dijelaskan
Yohanes, Koperasi Nubun Tawa resmi berdiri tahun 2011 dan kini beranggotakan 36
petani jambu mete dari 36 kepala keluarga petani. Koperasi ini menjalani usaha simpan pinjam,
produksi dan pemasaran jambu mete.
“Melalui
koperasi ini, kami melakukan usaha produksi dan pemasaran bersama. Hasil panen
jambu mete semua anggota wajib dijual ke koperasi. Selanjutnya koperasi yang
melakukan penawaran kepada para pengumpul antar pulau”, kata Yohanes. Dari
pengalaman dua tahun musim panen, koperasi ini berhasil memasarkan ke Surabaya
30 ton biji mete tahun 2011. Selanjutnya tahun 2012 menjual 28 ton di pasar
lokal Flores Timur.
Walau
melakukan pemasaran bersama, permainan harga dari para pembeli sebagai
pengalaman buruk sebelumnya masih terulang. “Karena itu, masih sering mengalami
kerugian”, kata Yohanes. Untuk itulah,
koperasi Nubun Tawa harus mencari cara lain yang tidak berisiko. “Pilihannya
jatuh pada produksi kacang mete”, tambahnya.
Ia
menjelaskan, setiap anggota dilatih memecahkan biji mete untuk mendapatkan
kacangnya. Kacang mete produksi tiap anggota dikumpulkan di koperasi. Tugas
koperasi adalah mencari pasar yang bisa memberi keuntungan.
“Atas
kerja keras para pengurus mencari peluang pasar maka dalam musim panen 2012
koperasi ini telah mendapatkan peluang
pasar di Denpasar dan Batam”, demikian cerita Yohanes Lae Ruron, sambil
menambahkan, setiap minggu sejak musim panen bulan Agustus 2012, koperasi Nubun
Tawa memasarkan 15 sampai 40 kg kacang mete dengan harga Rp 90.000 per kg.
“Kami pasarkan tiap minggu antara 15 sampai 40 kg tergantung permintaan yang
kadang berfariasi”, jelasnya.
Dibandingkan
dengan penjualan biji mete gelondongan, Yohanes mengatakan, menjual kacang
lebih menguntungkan.
Untuk
menghasilkan 1 kg kacang mete, demikian tutur Yohanes dan istrinya, dibutuhkan
4 kg biji mete. 4 kg biji
mete jika dijual dengan harga Rp 10.000 maka petani hanya mendapat Rp 40.000.
Jika harganya di bawah Rp 10.000 maka penghasilan petani di bawah Rp 40.000. Kerugian kedua adalah petani terpaksa
menjual habis hasil panennya pada musim
produksi. “Jika menjual kacang selain harga lebih tinggi, juga berkelanjutan
sepanjang tahun. Sebab biji mete tetap disimpan dan akan diolah jadi kacang
sesuai kebutuhan pasar”.
Walau
demikian, bukan berarti tidak ada tantangan. Sekurangnya dua tantangan yang
telah direfleksikan setelah menekuni bisnis paska panen ini. Pertama,
penghasilan bulanan petani tergantung pemesanan. Jika pemesanan meningkat maka
penghasilan juga meningkat dan sebaliknya. Tantangan kedua adalah persaingan
harga. “Kami belum bisa memasarkan ke Jawa. Di Jawa harga kacang mete jauh
lebih rendah, bahkan jatuh sampai Rp 40.000 per kg”, kata Yohanes.
Walau
demikian, petani jambu mete di Flores Timur masih punya harapan dan kemampuan
bermain di tengah permaian pasar dan iklim yang berpengaruh pada produksi dan
harga. Pengalaman jatuh dan terus jatuhnya harga biji mete gelondongan telah
memotifasi petani untuk beralih ke usaha-usaha paska produksi sesuai peluang
pasar. Ke depan tantangan akan semakin berfariasi. Tantangan pemasaran bisa
diatasi dengan pengolahan kacang mete. Lantas bagaimana jika tantangannya
terletak pada iklim yang membuat tamana jambu mete gagal total berbuah?
Apapun
yang akan terjadi, petani harus terus belajar dan menang. (Melky Koli Baran)
SUMBER :
FBC 2013
Tidak ada komentar