Pastor Kaum Pinggiran, Pater Norbert Betan Berpulang
JURNALTIMUR.COM,-
Pejuang keadilan dan perdamaian Pastor Norbert Betan, SVD meninggal dunia di Rumah Sakit Sint Carolus,
Jakarta , Sabtu (21/01/2017) pukul 19.20 WIB. Menurut rencana sore ini, Minggu, (22/01/2017)
pukul 18.00 WIB diadakan misa requiem di
gereja St. Yoseph Matraman-Jakarta Timur. Jenazah akan dibawa ke Surabaya Senin
(22/01/2017) untuk selanjutnya dimakamkan di Perkuburan Kembang Kuning Surabaya.
![]() |
| P. Norbert Betan, SVD |
Pastor Norbert adalah imam, misionaris dan biarawan Serikat
Sabda Allah (SVD) yang ditabiskan menjadi imam 25 Juni 1983, di Larantuka- Flores
Timur. Imam dengan moto tahbisan “Tuhan memerlukannya” (Luk, 19: 12) ini, semasa hidup telah berkarya di enam
paroki yaitu Paroki Sorong-Papua (1983-1985), Palangka Raya (1985-1988), Pangkoh Maliku-Kalimantan Tengah (1986-1988),
Tanjung-Kalimantan Selatan (1988-1990), Banjarmasin (1991-1992), dan
Pademangan-Jakarta Utara (1993-1997).
Selama berkarya di paroki-paroki, Pater Norbert juga
dipercayakan untuk berkarya di luar paroki diantaranya, Komisi Komunikasi Keuskupan Sorong, Komisi
Pengembangan Sosial-Ekonomi Keuskupan Banjarmasin, Komisi Keadilan dan
Perdamaian KWI , Komisi Justice, Peace and Integrity of Creation (JPIC)
Provinsi SVD Jawa, dan pendiri lembaga Pelayanan Advokasi untuk Keadilan dan
Perdamaian Indonesia (PADMA) di Jakarta.
Saat menjalani tugas di KWI, pastor yang dikenal murah senyum dan berpenampilan
sederhana ini mengembangkan sebuah program pendidikan pastoral keadilan dan
perdamaian. Pendidikan pastoral keadilan
dan perdaimaian ini diadakan di hampir semua keuskupan di Indonesia.
Ia menggagas beberapa program pembangunan Aceh dan Nias pasca tsunami dan gempa bumi 2004 dan ia
sendiri ikut terlibat di sana untuk beberapa bulan.
Pastor Norbert dikenal juga sebagai pastor kaum pinggiran lantaran
di setiap tugasnya ia selalu memberi perhatian pada mereka yang tersisi dan
tidak mendapat perhatian. Perhatian,
karya semacam ini membawanya untuk mendapat
julukan "pastor kaum miskin" dan "pastor kaum pinggiran".
Ia terlibat dalam pendampingan para transmigran
Kalimantan Barat, transmigran lokal di Uluwae-Ngada-Flores, korban gempa bumi
di Yogyakarta, para korban banjir di Besikama –Timor, korban pembakaran rumah
di Air Sampik Bangka Belitung, korban banjir di Morowali- Sulawesi Tengah.
Pendampingan juga dilakukan terhadap korban penyerobotan
tanah di Batam, korban banjir di Tanjung Lengkong dan Kebon Baru Jakarta Timur,
korban penggusuran tanah di Bintan, Kepri, korban penyerobotan tanah di Long
Bentuq kalimantan Timur, dan korban perselisihan batas tanah di Riung –Flores. Ia pun mengembangkan beberapa program
pertanian rakyat.
Pastor Norbert pernah mendampingi Philipus Kia Lejab yang
dituduh dalam sebuah kasus pembunuhan, mendampingi Tibo, Marianus dan Dominggus juga dalam kasus tuduhan pembunuhan.
Ia pernah mengenyam pendidikan di Philipina dan
Chicago-Amerika Serikat dengan konsentrasi studi Teologi Praktis yang meliputi
pelayanan lintas batas, serta keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan.
Saat melangsungkan pesta Perak Imamat, 2008, seluruh pengalaman hidupnya dengan berbagai kesibukan,
penerimaan dan apresiasi orang terhadapnya, ia rangkumkan dalam kata-kata semacam ini : “ Terima kasih Tuhan,
sekarang saya mengerti! Betap besar kasih-Mu kepadaku, manusia yang hina ini.
Apakah manusia sehingga Engkau mengingatnya? Siapakah aku, sehingga Engkau
perhatikan?”.
Selamat Jalan Pater Norbert. Berbahagialah dalam senyum dan
tawa di rumah Bapa. (Ben)

Tidak ada komentar