BreakingNews

OBITUARI : George Junus Aditjondro Berpulang. "Selamat Jalan George"

JURNALTIMUR.COM,-Aktivis, peneliti dan penulis George Junus Aditjondro meninggal dunia di Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu, (10/12/2016) pukul 05.45 WITA. Sebelumnya  George Aditjondro menjalankan  perawatan di Rumah Sakit Bala Keselamatan di Jalan Woodward, Palu, Sulawesi Tengah.

George lahir di Pekalongan, Jawa Tengah, pada 27 Mei 1946. Selama 1964-1969, ia mengenyam pendidikan elektro dan teknik di beberapa universitas seperti Universitas Hasanuddin Makasar, Universitas Satya Wacana Salatiga dan Akademi Teknik ATN Semarang.

George Junus Aditjondro (1946-2016)
Sejak September 1981 - Juni 1982, George mempelajari Sosiologi Pedesaan di Cornell University, New York. Ditempat yang sama ia menyelesaikan tesis doktoralnya pada Agustus 1992.   Semasa hidupnya, mantan wartawan Tempo(1969-1979) ini, dikenal sebagai ilmuwan sosial dan memiliki dedikasi yang besar terhadap Papua dan Timor-Timur. Ia tidak saja peneliti tapi  menyumbang metodologi penelitian lebih-lebih yang menyangkut korupsi, dan jaringan bisnis Militer.

Sikap keilmuan begitu jelas, bahkan kejelasan itu membawanya lebih dikenal luas sebagai  pengkritik pemerintahan Soeharto. Ia sempat dicekal ke luar negeri. Ia juga sempat menerima penghargaan Kalpataru dari Presiden Soeharto tahun 1987, sepuluh tahun kemudian ia mengembalikan penghargaan sebagai tanda protes terhadap pelanggaran HAM dan kerusakan lingkungan. Ia mengembangkan Mata Kuliah Sosiologi Korupsi dan sosiologi gerakan kemerdekaan pasca kolonial.

Selain aktif dalam penelitian, menulis dan menjadi narasumber pertemuan ilmiah, ia adalah pengajar Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga. Akibat kritik-kritiknya, Februari 1995 ia terpaksa meninggalkan Indonesia dan tahun 1996  menjadi pengajar  di Universitas Newcastle dalam bidang sosiologi. Mulai Oktober 2002, ia kembali ke Indonesia.

Manuel Kaisiepo dalam status Facebooknya menuliskan pengenalan, kedekatan dan persahabatan dengan George. Saat hendak ke Papua tahun 1980, George sempat datang Kantor Redaksi Prisma menemui Manuel yang saat itu sebagai editor Prisma untuk bertukar pikiran.

Kata Manuel Kaisiepo, Prisma sudah beberapa kali memuat tulisan George. Tulisan pertamanya, "Pola-pola Perdagangan Masyarakat Tenglang di Semarang," dimuat di Prisma, no.3 Juni 1973.

"Saat itu saya masih kuliah di Yogyakarta.  Tulisan berikutnya tentang alam dan masyarakat Suku Lore di Palu, Sulteng, "Angin Pantai di Lembah Pegunungan: Adakah yang bakal Terbang?", dimuat di Prisma, no.2 Februari 1979, hanya beberapa saat sebelum saya bergabung ke Prisma," tulis Manuel Kaisiepo.

Thn 1982 George ke Papua dan menjadi Direktur The Irian Jaya Development and Information Service (Irja Disc) yang kemudian menjadi Yayasan Pembangunan Masyarakat Desa (YPMD) hingga thn 1987.

"Melalui lembaga ini dan sesuai sifat George yang mudah bergaul, dia memiliki jaringan pertemanan yang luas dan intensif dengan berbagai kalangan di Papua. Dari kaum sekolahan di Uncen dan Sekolah Tinggi Teologi, tokoh-tokoh gereja, LSM, hingga terutama dengan masyarakat di kampung-kampung di seluruh pelosok Papua," tulis mantan wartawan Kompas ini.

Dalam catatan Manuel Kaisiepo,  Lembaga ini juga menerbitkan Jurnal "Kabar Dari Kampung" (KDK), yang memuat hasil-hasil penelitian mereka tentang pemberdayaan masyarakat asli Papua di kampung-kampung.

"Salah satu hasil penelitian yang dimuat di jurnal ini dan kemudian memicu kontroversi adalah tulisan George berjudul "Datang Naik Kapal, Tidur di Pasar, Mandi di Kali, Pulang naik Pesawat" (tentang dampak kehadiran migran Sulawesi Selatan di Papua)," tulis Manuel.

Selain kegiatan advokasi dan pemberdayaan masyarakat kampung, George juga banyak menulis tentang berbagai aspek kehidupan budaya dan dinamika ekonomi politik Papua. Setelah bertugas di Papua 1982-1987, 

Beberapa tulisan George tentang Papua yang sempat diingat Manuel Kaisiepo, diantaranya :

- "Karya dan Gema Mambesak di Irian Jaya", Berita Oikoumene, Agustuss 1989.

- "The Cultures of Irian Jaya indigenous Peoples," paper utk matakuliah Etnografi di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), 1989

- Transmigration in Irian Jaya: Issues, Targets and Alternative Approach", paper
- Problems of Forestry and Land Use in the Asian-Pacific Region: The Irian Jaya Experience", paper

- "Bintang Kejora di Tengah Kegelapan Malam: Penggelapan Nasionalisme Papua dalam Historiografi Indonesia," makakah di UKSW, 2 Juni 1993

- "Millenarianisme in Melanesia," paper, UKSW, 1993.

- "Menerapkan Kerangka Analisis Frantz Fanon terhadap Pemikiran tentang Pembangunan Irian Jaya," paper utk seminar di UKSW, Oktober 1993.

"Dia mencintai Papua, seperti juga dia mencintai masyarakat pribumi yang tersisihkan di berbagai wilayah Indonesia. Termasuk juga masyarakat Suku To Lore di Pegunungan Takolekaju, Sulawesi Tengah. Di sini, di Palu, Sulteng, George kembali ke Sang Pencipta. "Angin Pantai di Lembah Pegunungan: Adakah yang Bakal Terbang?" kenang Manuel Kaisiepo.

Aktivis Ham Papua Frederika Korain mengenang George sebagai Bapak Pembebasan Papua. "Engkau berpulang di hari yang istimewa bagi Papua, hari HAM, sesuatu yang dirintismu susah-payah di tahun 1980an," tulis Frederika.

Pada akhir Desember 2009 George menulis buku “Membongkar Gurita Cikeas”. Buku itu sempat ditarik dari etalase toko walaupun pada saat itu belum ada keputusan hukum terhadap peredaran buku ini.

George juga menulis buku "Kembar Siam Penguasa Politik dan Ekonomi Indonesia : Investigasi Korupsi Sistemik Bagi Aktivis dan Wartawan". Selamat jalan George. (Ben)







Tidak ada komentar