Kemenko Kemaritiman Adakan Pelatihan Komunikasi Bagi Masyarakat Wisata
![]() |
| Pelatihan Keterampilan Komunikasi di Samosir 15 Desember 2016 |
JURNALTIMUR.COM,- Keterampilan komunikasi bagi
masyarakat di kawasan wisata dipandang penting untuk mewujudkan target kenaikan
jumlah kunjungan wisatawan mancanegara. Dalam rangka memenuhi target kunjungan
wisata hingga 20 juta pada 2019 , dibutuhkan juga kerjasama
sinergis antar kementerian, lembaga bahkan masyarakat yang tinggal di kawasan
wisata tersebut.
Salah satu
upaya yang dilakukan oleh Kemenko Bidang Kemaritiman adalah menggandeng
Universitas Sumatera Utara (USU) untuk memberikan pelatihan keterampilan
komunikasi bagi masyarakat di kawasan wisata Samosir. Pelatihan tersebut
diadakan di Hotel Toledo Inn Samosir Provinsi Sumatera Utara, Kamis (15/12/2016).
Sejumlah 62
peserta yang berlatar belakang pedagang, pemilik penginapan, pemandu wisata,
pemilik jasa transportasi dan tokoh masyarakat hadir dalam kegiatan yang
diinisiasi oleh Kedeputian Koordinasi Bidang SDM, Iptek dan Budaya Maritim
tersebut.
Materi-materi
yang diberikan antara lain materi mengenai gerakan revolusi mental, gerakan
budaya bersih dan senyum, dan etika komunikasi. Mereka juga dibekali tips
praktis ketika berinteraksi dengan para wisatawan yang menjadi konsumennya.
Anggota
Satgas Gerakan Budaya Bersih dan Senyum (GBBS) Rima Agristina yang menjadi
salah satu pembicara mengatakan bahwa selain menawarkan keindahan alam, perlu
modal sosial untuk menarik wisatawan mengunjungi Danau Toba.
Modalnya
adalah senyum, keramahan dan kejujuran para pelaku industri wisata disini,
ujarnya mengingatkan peserta. Selain keramahan, yang perlu dijaga oleh
masyarakat di wilayah Danau Toba adalah kebersihan. Kalau tempat kita kotor,
maka wisatawan enggan datang ketempat kita, lanjut anggota Satgas yang juga
akademisi tersebut.
Pada
kesempatan yang sama, Mazdalifah, staf pengajar di USU yang juga menjadi
pembicara dalam pelatihan tersebut, meminta peserta agar mempersiapkan diri
untuk menyambut wisatawan yang datang ketempat mereka. Menurutnya, pembangunan
sarana fisik di kawasan Toba akan sia-sia bila warga tidak berusaha untuk
memperbaiki pola komunikasi mereka.
Ada stereotype bahwa orang batak itu keras,
ngomongnya kasar, tapi hal ini bisa kita ubah dengan menunjukkan gerak tubuh
serta mimic muka yang ramah, kata wanita berkerudung tersebut. Menjadi ramah,
tambah Mazdalifah, bukan berarti mengubah karakter asli mereka karena hal
tersebut dapat menjadi ciri khas masyarakat Toba.
Selain
diberikan materi secara lisan, para peserta juga diminta untuk memberikan saran
demi peningkatan kwalitas industri pariwisata di Toba. Ada beberapa masukan
yang diberikan oleh para peserta dalam pelatihan itu.
Pertama,
peserta meminta agar pemerintah daerah mau lebih aktif membantu mempromosikan
lokasi Danau Toba ke wisatawan domestik maupun mancanegara. Hal ini menurut
peserta, karena justru jumlah wisatawan yang berkunjung ke Toba menurun bila
dibandingkan dengan jumlah wisatawan pada era tahun 1980-an, padahal Danau Toba
telah dua tahun ditetapkan menjadi salah satu Kawasan Strategis Pariwisata
Nasional (KSPN).
Masukan
kedua, pemerintah pusat diminta untuk lebih banyak melakukan aksi nyata yang
dapat memberikan teladan tentang gerakan revolusi mental. Kami telah
berkali-kali mengikuti sosialisasi tentang gerakan revolusi mental, tapi bentuk
riilnya itu bagaimana kami tidak tahu, kata Juan, salah satu peserta yang hadir
dalam pelatihan.
Ketiga, salah
satu peserta juga meminta pemerintah untuk lebih menggiatkan pembangunan
infrastruktur khususnya jalan penghubung untuk mendukung gerakan budaya bersih
dan senyum. Bagaimana kita bisa menjaga kebersihan kalau kaki anak kita kotor
ketika pergi ke sekolah karena jalan dari rumah menuju ke sekolah masih becek
dan tidak ada aspal, keluh Rijal yang juga merupakan salah satu peserta.
Beberapa
rekomendasi tersebut akan dibawa dalam forum review program tahun 2016 dan
tinjauan program tahun 2017 yang berkaitan dengan pembangunan KSPN Toba pada
Jumat (16/12) di lokasi yang sama. Rencananya, dalam acara tersebut, selain
dihadiri oleh Deputi Koordinasi Bidang SDM, Iptek dan Budaya Maritim Kemenko
Kemaritiman Safri Burhanuddin juga akan dihadiri oleh pejabat dari Kementerian
Pariwisata, Universitas Negeri Medan, USU, dan Institut DEL. (*)
Sumber : Humas
Kemenko Bidang Kemaritiman*

Tidak ada komentar