BreakingNews

Pastor Yan, 25 Tahun Nikmati "Melodi Prahara"



Menjadi Pastor Katolik adalah panggilan hidup yang menantang. Keluarga harus ditinggalkan. Cinta harus dilupakan. Seluruh diri harus dipersembahkan untuk melayani Tuhan.

Pastor Yanuaris T. Matopai You, Pr lahir di Kampung Uwebutu, Kabupaten Paniai, 1 Januari 1969. Putra dari pasangan Lukas You dan Rosalina Tatogo ini ditahbiskan menjadi imam projo Keuskupan Jayapura, 16 Juni 1991 oleh Uskup  Jayapura, Mgr. Herman Munninghoff, OFM di Nabire. Saat ini, ia dipercayakan menjadi Ketua Yayasan STTK sejak 2015. 

Buku Melodi Prahara
Di usia perjalanan imamatnya yang ke-25 tahun, diterbitkanlah sebuah buku berisi refleksi kehidupannya berjudul “Melodi Prahara : Antara Imamat dan Keluarga.” 

Buku berisi empat bagian setebal 416 halaman ini ditulis oleh Demitrius Namsa dan diluncurkan pada 6 Juni 2016 di Aula Biara Susteran Maranatha, Jalan ESPEGE Teruna Bakti, Waena. 

Buku kenangan ditulis dengan penuh empati dan simpati bagi sosok pastor Yan You. Judul “Melodi Prahara” dan anak judul “antara imamat dan keluarga” menunjuk kepada badai yang dialami oleh yubilaris  sejak masa mudanya. 

Cita-citanya untuk menjadi imam tidak langsung dimengerti, malah ditentang oleh keluarganya, yang ingin sesuai dengan adat istiadat Suku Mee, agar ia sebagai anak laki-laki sulung, menikah dan mendapat keturunan. Sebab dalam Gereja Katolik, para pastor atau kaum klerus lainnya, menghayati hidup selibat atau tidak menikah. 

Hal ini terlihat pada kisah halaman 179-185. Pamannya, Maximus Tatogo, mengirim radiogram berisikan pemberitahuan kepada pimpinan biara (rektor) dimana Yan sedang dibina menjadi pastor, bahwa Yan telah menghamili istrinya di kampung halaman dan diminta pulang untuk urusan adat dan pernikahan. 

“Ini kisah unik bagaimana keluarga menghalangi Yan agar tidak jadi pastor. Buku ini menyumbang kepada masa depan gereja Katolik di Papua. Semoga buku ini memberi ilham kepada para calon imamat dan keluarganya, bagaimana menemukan solusi tatkala menghadapi masalah rumit yang membuat gelisah akan panggilan Tuhan,” tulis Uskup Agung Merauke, Nico Syukur Dister OFM dalam pengantar buku itu.

Yang Terima Buku Gratis Harus Jadi Pastor

“Saya mau bagi buku ini gratis tapi hanya kepada para frater. Dengan catatan, yang siap mau jadi pastor,yang bisa terima buku ini. Kalau tidak siap menjadi pastor, jangan maju terima buku,” ujar Pastor Yan dengan nada serius, namun disambut dengan tepuk tangan riuh saat berlangsungnya peluncuran.

Sejumlah peserta yang hadir menyatakan apresiasi atas terbitnya buku Melodi Prahara. Salah satunya, drg. Aloysius Giyai, M.Kes, salah seorang penulis buku yang saat ini menjabat Kepala Dinas Kesehatan Papua.

 “Pastor Yan  tampil sebagai Guru dan Nabi bagi umat di Papua dan dengan keteguhan dan kesalehannya menjalani hidupnya sebagai pastor. Saya sangat kagum pada sosoknya. Semua pastor di Papua harus mengikuti teladannya,” ujar Aloysius yang pada 24 November 2015 lalu meluncurkan bukunya berjudul Melawan Badai Kepunahan.

Yang membuat menarik buku ini sehingga enak dibaca bukan saja karena kisah-kisah inspiratif sang pastor teladan itu, namun juga karena gaya penulisan sastrawi yang menggugah. Sang penulis, Demmy Namsa, cukup tahu tentang sisi kehidupan seorang imam. Maklum, pria kelahiran 29 November 1985 ini juga adalah mantan calon pastor yang pernah mengenyam pendidikan di STFT Fajar Timur, Abepura.

“Sejak awal dipercayakan menulis buku ini, saya sungguh tertantang karena banyak kisah hidup sang yubilaris, Pastor Yan, yang unik dalam perjalanan hidupnya menjadi pastor. Karena itulah, saya memberi judul Melodi Prahara,” ujar Demmy saat peluncuran buku.

Proficiat Pastor Yan atas 25 tahun perjalanan hidup imamat. Selamat bertugas melayani Tuhan di panti pendidikan imamat. (Gusty Masan Raya)

Tidak ada komentar