Pilkada Flotim 2017: Dulu “Kalau Flotim Mau Maju", Sekarang “Kalau Kandidat Mau Menang” (Bagian 1)
JURNALTIMUR.COM,-Setiap
pemilihan pemimpin termasuk pilkada selalu saja muncul pikiran, gagasan juga
pendapat tentang apa yang terbaik dilakukan usai pemilihan. Orang sadar bahwa
pergantian pemimpin atau pemilihan kendati akan memilih pemimpin
yang sama, selalu saja membawa harapan akan adanya perubahan.
Apakah yang terjadi enam tahun lalu khusus tentang harapan akan masa depan sebuah wilayah terjadi juga dalam hari-hari ini atau empat bulan ke depan? Atau semua omongan tentang masa depan bersama menjadi tidak penting dan hanya berfokus pada kemenangan sang kandidat? Kita coba melihat dari Flores Timur (Flotim) dalam beberapa tulisan ke depan.
Apakah yang terjadi enam tahun lalu khusus tentang harapan akan masa depan sebuah wilayah terjadi juga dalam hari-hari ini atau empat bulan ke depan? Atau semua omongan tentang masa depan bersama menjadi tidak penting dan hanya berfokus pada kemenangan sang kandidat? Kita coba melihat dari Flores Timur (Flotim) dalam beberapa tulisan ke depan.
Enam tahun
lalu, jelang pilkada Flotim di Groups facebook bermunculan tema-tema diskusi,
salah satunya dengan Tema “Kalau Nagi Mau Maju”. Diskusi itu muncul dibulan Juni
2009 dan mengundang begitu banyak peserta diskusi, walau sebagian besar memilih
hanya memberi tanda suka pada komen-komen yang dianggap penting. Semoga masih ingat dengan diskusi itu.
Gabriel
Boleng menulis pada 09 Juni 2009 menulis, “ Saya bangga dengan kemajuan
teknologi komunikasi di era sekarang ini, dimana orang nagi bisa berbalas
pantun, berbalas kata, untuk bertukar pikiran demi Lewotana yang semakin ketinggalan
dari kabupaten lain”.
Menurutnya,
Flores Timur punya banyak peninggalan leluhur yang perlu disampaikan kepada
khalayak dan dibantu kemudahan anak-anak flotim bisa ikut serta mempromosikan
hal itu. “Apakah kita masih tetap begini, sementara kesempatan bergandengan
tangan antara orang di Flores Timur dan di luar Flores timur untuk bergandengan
tangan terbuka lebar?” tulisnya.
“Mari kita
bangkit di periode sekarang dan yang akan datang untuk berpikir membangun,”
ajaknya.
Gerard da
Silva menulispada 10 Juni 2009, “Kita butuh penggerak ekonomi skala menengah
atau kecil. Keterbatasan Sumber Daya Alam sebenarnya bisa jadi potensi kalau
kita lebih cermat,” tulisnya.
Gerald
mengusulkan agar Pemda lebih banyak kirim warga Flotim untuk mengikuti sekolah
dan kursus di luar daerah. Sekalipun sudah mengantongi isajah sekolah formal,
belajar ke luar pada pengalaman dan hal terbaru yang ada sangat dipandang penting.
“SDM Birokrasi musti ditingkatkan dan buat perusahaan daerah yang meng-holding anak-anak
perusahaan yang menjadi rekanan dalam penggunaan dana DAU dan DAK. Salah satu
alternatif juga pembentukan koperasi tani dan nelayan...juga koperasi simpan
pinjam, Credit Union...dan lain-lain...tapi memang perlu energi khusus untuk
itu menuju Lamaholot yang sejahtera. Bukankah suku-suku yang sejahatera adalah
Indonesia yang sejahtera...?” tulis Gerald.
Felix Lamuri
menulis pada 17 Juni 2009, “Saya termasuk orang yang tidak mudah percaya dengan
persepsi pribadi. Menilai maju atau mundur, stagnan atau berkembang memerlukan
pendekatan lain yang objektif. Termasuk juga untuk menilai dinamika sebuah
komunitas. Tidak bisa hanya menggunakan 5 indra yang ada atau taken for granted
untuk informasi yang subjektif. Harus ada kemauan untuk melihat secara mendalam
dan dengan lapang dada semua data yang terkumpul. Sayangnya, sejauh ini, tidak
ada satupun informasi yang bisa diandalkan, reliable dan objektif. Data BPS,
Pemda, hingga output instansi birokratik di pemerintahan tidak ada yang bisa
dipegang”.
Felix
menulis, harus membedakan antara kebutuhan dan keinginan dan harus punya
dasar pertimbangan yang pas dan kontekstual. Sebab, sekali memutuskan sebuah kebijakan, rentetan
konsekuensi teknis dan manjerial akan mengikuti. Apalagi jika itu ternyata
menggunakan dana-dana yang diambil dari rakyat yang notabene harus ada initial
mekanisme, eksekusi, reporting, rekomendasi hingga pertanggungjawaban.
“Apa pun
kebijakan yang diambil harus pas dan melewati proses yang wajar. Dan itu tidak
mudah,” tulisnya.
Simon
Lamakadu menulispada 19 Juni 2009 menulis, “Kalau mengibaratkan Flores itu
seperti sebuah naga, maka kita ada di kepala naga itu, sayangnya kita berada di
balik kepala naga itu. Tertutup, sendiri, tak banyak yang tahu dan bisa
dilakukan. Larantuka akan selalu dikenang sebagai kota sejarah religi, tapi tidak
akan pernah ideal untuk menjadi pusat perekonomian. Apakah ada yang pernah
berpikir bahwa LATO adalah tempat yang tepat untuk menjadi pusat kegiatan
eknomi, perdagangan, industri, pelayaran, dll. Lokasinya sangat ideai, di
utara, terbuka dimana kita bisa melihat duniah jauh lebih luas.”
Vincent
Mendez menulispada 25 Juni 2009 Kalau mau maju maka perlu membuka lapangan
pekerjaan bagi masyarakt Flotim. Pemda
Kabupaten Fores Timur harus transparansi soal anggaran kepada masyarakat daerah,
berani mengikat kontrak politik kepada pengembang jika ingin membangun pra
sarana pariwisata untuk kemajuaan aset daerah yg lebih optimal, memberikan
peluang usaha/kredit kepada para pedagang-pedagang usaha kecil menengah yang
mengalami kesulitan dalam beriventasi, mensubsidi para petani2 di daerah Flotim
yg selama ini masih terbelakang soal tehnologi modern dan memprioritaskan
kebutuhan darurat seperti : pendidikan dan kesehatan.
“Jika semua
kekayaan alam Flores tidak bisa diprioritaskan bagi masyarakat Flotim maka yg
ada hanya kesengsaraan bagi rakyat Flotim,” tulisnya.
Emilia Riberu
menulispada 25 Juni 2009 tentang budaya terima keadaan apa adanya yang membuat
kita terpaku pada satu tempat. “Saya lebih setuju kalau anak-anak lulusan SMA yang
tidak dapat melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi diberikan
pelatihan-pelatihan di bidang pertanian (tanah kering), perikanan, pertukangan.
Ubahlah cara berpikir kita dengan mempertanyakan apa yang sudah kita buat untuk
nagi bukan apa yang sudah nagi buat untuk kita,” tulis Emi.
![]() |
| Deklarasi Kampanye Damai 6 pasang calon bupati-wakil Flotim |
Fransiscus
Masangin menulis pada 30 Juni 2009,” Sebenar nya banyak kesempatan buat adik2
kita yg baru menamatkan pendidikan SMA dan SMK untuk melanjutkan pendidikan yg
lebih tinggi... Masalah nya adalah... mereka tidak tau mau melanjutkan kemana??
Peran serta dari pemerintah daerah untuk membuat "Surat Permohonan" yang
bisa digunakan buat secamam "Surat Sakti" agar dapat diterima di
perguruan tinggi kedinasan tersebut . Biaya pendidikan di perguruan tinggi
kedinasan pemerintah relatif murah dan pasti terjangkau di bandingkan jika di
universitas.”
Gabriel
Rafael Lamury menulispada 30 Juni 2009, memajukan Flotim yang pertama adalah
mengubah pola pikir, dengan membuat sesuatu yang nyata dan tidak berteori. Maju
tidaknya Flotim sangat ditentukan oleh motor penggerak.
Cipto Keraf menulis
27 Agustus 2009 : ”Dalam upaya
meningkatkan kapasitas ekonomi daerah, torang harus bisa liat potensi riil
torang. Torang pu potensi ekonomi itu di kebun, hutan dan laut (sektor primer)
dan juga punya alam yang orang luar
bilang sangat indah. Kebudayaan juga punya potensi ekonomi dari aspek
pariwisata. Perlu mendesain strategi dan kebijakan yang pas untuk membuat petani
bisa jadi lebih produktif secara ekonomi sehingga bisa lebih sejahterah.
Setiap putra
dan putri Flores Timur adalah potensi daerah yang tidak boleh diabaikan apapun
alasannya; apakah kita berbeda haluan politik, asal-usul, status dan kelas
sosial, kita tetap merupakan potensi daerah yang harus dihargai.Kita bisa lebih
maju apabila Para Pemimpin Daerah kita bisa mengedepankan sikap-sikap yang
rasional, adil dan bijaksana dalam memanfaatkan semua potensi daerah ini secara
optimal. Hindari sedapat mungkin sikap-sikap yang emosional, balas jasa dan
balas dendam yang tidak pada tempatnya yang dilatar belakangi kepentingan
kelompok-kelompok kecil.
“ Ingat...
Torang masih punya Tujuan Besar yang harus torang perjuangkan bersama. Flores
Timur yang lebih baik”. (Ben) Bersambung

Tidak ada komentar