Mutu Pendidikan: Kepala Sekolah Pimpin Proyek, Kapan Murid Diperhatikan?
JURNALTIMUR.COM,-Salah satu cara meningkatan mutu
pendidikan adalah tersedianya bangunan dan fasilitas sekolah yang memadai. Namun, bila para kepala sekolah masih diberi kesempatan untuk memimpin
proyek pegengerjaan fisik sekolah tetap akan jadi masalah lantaran tidak punya
banyak waktu memikirkan peserta didik.
![]() |
|
Mendagri Tjahjo Kumolo (foto : jurnaltimur)
|
"Kepala sekolah juga
seharusnya mendidik anak murid namun diharuskan jadi pimpinan proyek
pembangunan sekolah, sehingga tidak fokus pada tugasnya untuk mendidik,"
kata Menteri Dalam Negeri (Mendagri)
Tjahjo Kumolo dalam sambutan pada
acara Seminar Nasional Dharma Wanita Persatuan (DWP) di Auditorium Manggala
Wanabakti, Jalan Jenderal Gatot Soebroto, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa
(4/10/2016)
Menurut Tjahjo, 20 persen dana
dari APBN, yakni Rp 400 triliun digelontorkan untuk pemerataan pendidikan, namun
hasilnya juga belum maksimal.
"Dana Rp400
triliun tidak jelas kemana, urusan sekolah saja belum mampu dikelola dengan
baik, apalagi meningkatkan kualitas sumber daya manusia dengan baik, untuk
menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN padahal kuncinya adalah meningkatkan
kualitas sumber daya manusianya," kata Tjahjo.
Dikatakannya, untuk gaji pegawai termasuk
guru besar dan pegawai-pegawai sekolah saja dialokasikan 72 persen dari
anggaran pendidikan itu. Tetapi bagi anak-anak sekolah, untuk kualitas belajar
mengajar tidak terpikirkan dengan baik
"Jangankan
Papua, di Jawa masih banyak sekolah kumuh, lalu kepala sekolah masih diberikan
tugas sebagai pimpinan proyek bangunan," kata Tjahjo.
Menurut Tjahjo, diperlukan revolusi, kemana uang Rp400 triliun
itu dialokasikan yang seharusnya siap untuk pendidikan. Kepemimpinan Jokowi dalam dua tahun ini, kata Tjahjo telah
memetakan dengan baik kemana dana itu dialokasikan.
‘Kita perlu reformasi, perlu
gerakan, perlu revolusi, untuk memikirkan ke mana uang Rp 400 T itu,"
paparnya.
Seminar Nasional 2016 ini
dihadiri 1.700 peserta dari pengurus DPW seluruh Indonesia baik tingkat
pusat, provinsi maupun kabupaten/kota. Rangkaian acara seminar berlangsung
selama dua hari, yakni 4-5 Oktober 2016.
Melalui seminar ini diharapkan adanya
peningkatan pemahaman perempuan terutama istri ASN tentang meleburnya Indonesia
dalam MEA sekaligus adanya pemahaman untuk mengubah hambatan menjadi peluang. (Ben)

Tidak ada komentar