25 Tahun Dalam Karya Jurnalistik di NTT, Silvester Sega Berpulang
JURNALTIMUR.COM,-
Dunia jurnalistik di Provinsi Kepulauan Nusa Tenggara
Timur (NTT) kembali berduka. Salah satu wartawan senior, Silvester Sega
menghembuskan nafas terakhir di Kupang Minggu (2/10/2016) petang. Menurut
rencana hari ini, Senin (3/10/2016) jenazah dibawa ke kampungnya di Woloara, Moni, Ende-Flores .
Menurut berita yang dilansir
moral-politik.com, Silvester yang juga Mantan Pemimpin Redaksi moral-politik.com ini meninggal karena
mengeluh lehernya tegang. Ia meminta seorang putra memijat lehernya, karena
semakin tegang keluarga melarikan ke RSU Prof. DR.W.Z.Johannes Kupang. Di
tengah perjalanan, ia menghembuskan napas terakhirnya. Sil demikian ia biasa disapa, meninggalkan seorang
istri dan lima orang putra yang masih tergolong kecil.
![]() |
| Silvester Sega (Foto : FB-Ansel Deri) |
Silvester Sega, memulai karir
jurnalistik sebagai kontributor Mingguan DIAN, kemudian menjadi wartawan Tabloid Media Flobamora pada awal 1990-an Dalam kesibukannya dia juga
menjadi kontributor UCAN yang kala itu berkantor di Hongkong. Dia pernah
menjadi Pimred Radar Timor dan terakhir wartawan
di Suara Timur 90,1 FM.
Pemimpin Redaksi NTT Satu yang juga wartawan senior di Kupang, Bonne Pukan mengatakan Sil merupakan figur wartawan yang tenang dan bertanggungjawab. "Kami dulu sama-sama di tabloid Flobamora dengan Pimred Dr. Alo Liliwrri semasa Gubernur Herman Musakabe. Dia figur yang tenang, dan tuntas
dalam bekerja, penuh tanggungjawab. Dia sahabat yang bisa diajak diskusi berbagai hal," ujar Bonne Pukan kepada JurnalTimur.
Martin Langoday dari Ambon kepada JurnalTmur menyebutkan Sil merupakan sedikit wartawan yang masih tetap berada di jalur jurnalistik. Martin yang masih menjadi wartawan dan sempat bekerja di Kupang bersama Sil, juga menyebutkan Sil memiliki kepribadian yang tenang, suka berdiskusi dan rendah hati.
“Kaget mendengar Sil meninggal. Dia adalah
jurnalis yang tetap pada jalurnya, rendah hati, suka berdiskusi dan tenang, “
kata Martin.
Kabar meninggalnya Sil yang oleh sesama wartawan diposting di laman
facebook mendapat sambutan begitu banyak orang yang mengenal Sil. Betapa tidak, selain Sil
dikenal sebagai wartawan ulet, dia juga mewakili sebuah angkatan jurnalis di
NTT sebelum datangnya media on line.
Romantis dan heroisme, dari putus pacar karena terdesak liputan, hingga ditempeleng pejabat yang tidak mau diberitakan masih dialami wartawan yang mulai karir era 1990-an ini. Ceritra seputar ini pun masih
terus diceritakan sebagai hiburan dalam profesi ini. Angkatan Sil boleh dikatakan sebagai angkatan transisi yang banyak berperan dalam
mendidik angkatan sesudahnya.
Wartawan senior, Ana Djukana menulis di laman facebooknya : "Waktu terlalu
singkat u mu. Rasanya baru kemarin kita bersama menjadi Majelis Persidangan
Konpercab AJI Kota, berdiskusi jurnalisme keberagaman, soal menanam ubi jalar
dan sayur sayur lain di pekarangan."
Freddy Wahon menulis : "Satu lagi sahabat,
rekan kerja semasa jadi kuli tinta, pergi untuk selamanya. Jika ada reporter
yang hendak dipindah desk atau bahkan dicopot dari lapangan, om Sil, begitu
saya biasa menyapanya, selalu berupaya mengamankan mereka. Terkadang saya
kesal, dia jadi sasaran. Ketika saya memutuskan berhenti dari Radar Timor, dia
ambil alih redaksi. Kami berdua acappkali berjumpa dan saling tukar info. Tanpa
dendam, tanpa aroma benci. Kawan, kau sangat tulus dlm menjalin persahabatan.
Maaf, jika ada duri dalam persahabatan kita. Sekali lagi, maaf, kalau ada
tindak tanduk atau ucap kataku yang tak berkenan. Selamat jalan om Sil Sega.
Jadilah pendoa bagi kami semua. Kuatkan keluarga yang masih mengembara di dunia
fana ini".
Kontributor Flores Pos Jakarta Ansel
Deri kepada Jurnal Timur mengatakan, dirinya mengenal Sil saat awal kuliah di Undana tahun 1991. “Meski awal tak kenal dekat,
hobi tulis menulis mempertemukan kami. Saya mengenal Sil sebagai kontributor
Surat Kabar Mingguan Dian wilayah Kupang dan sekitarnya. Kala ia tahu saya
juga freelance Dian, kami makin akrab dan saling menyemangati dalam urusan
sebagai penulis lepas," kenang Ansel.
Menurut Ansel, nama Sil tak setenar nama wartawan dan
kontributor lepas Dian seperti Pius Rengka, Kons Kleden, Albert Vincent, Bone
Pukan, Damian Kenjam, dan Jibrael Poo, namun dari beberapa perjumpaan, Ansel berkesimpulan Sil sosok penulis yang tak kikir dalam berbagi ilmu
jurnalistik.
"Ia akan setia memberikan bimbingan bagaimana menulis yang baik dan benar menurut kaidah bahasa Indonesia, hal yang juga sudah diingatkan
para guru saya saat masih sekolah di Lembata. Ia mengingatkan bahwa menulis
yang baik dan benar ikut mewartakan benih-benih bagi perdamaian. Itulah nilai yang
mesti dipegang seorang juru warta di manapun ia mengabdi," kata Ansel.
Selamat Jalan sahabat, pribadi yang
rendah hati, ulet dan bertanggungjawab. (Ben)

Tidak ada komentar