Mengukur Logika Anies Baswedan pada Pilpres 2014 dan Pilgub DKI 2017
Anies Baswedan sudah pasti merupakan pasangan yang cukup
potensial. Dengan pembawaan yang tenang, kata-kata yang selalu inspiratif dan
meneduhkan, bukan tak mungkin memenangkan pilkada DKI. Orang langsung melihat,
dalam Anies Baswedan ada hal yang nyaris ada dalam diri pasangan lain, terutama
Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.
Tetapi apakah logika berpikir Anies berkaitan dengan kritikannya
terhadap Prabowo sebagai orang yang ‘dibackingi’ Mafia dengan sendirinya gugur
setelah ia sudah bukan lagi ‘apa-apa’ dari Jokowi? Apakah dengan mudah
dikatakan bahwa politik harus meninggalkan yang lalu demi sesuatu yang baru?
Dependensi
Menarik mengikuti wawancara sebuah televisi swasta yang meminta
klarifikasi penilaian Baswedan yang diucapkan pada Kamis 3 Juli 2014. Saat itu
Baswedan menilai, pasangan Prabowo-Hatta didukung oleh
kelompok mafia seperti: dugaan kasus korupsi migaas, haji, impor daging,
Alquran, dan Lapindo.
Jawaban Baswedan sekilas sangat menyejukkan. Ia menandaskan bahwa
apa yang diucapkan waktu itu dalam konteks berbeda. Kita tidak bisa lagi
melihat masa lalu. Apalagi saat ini ia tidak memiliki keterkaitan lagi dengan
Jokowi-JK karena sudah dicukupkan dalam jabatannya sebagai Mendiknas.
Lalu mengapa hal ini diperdebatkan? Baswedan telah berusaha
menampilkan sikap positif yang seharusnya dimiliki bangsa ini. Agar bangsa ini
menjadi lebih baik, maka yang sudah ‘ya sudhalah…’. Jangan pernah mengungkit
lagi masa lalu. Yang paling penting adalah melihat ke masa depan.
Yang akan sulit dipahami, penilaian seorang tokoh berpendidikan
justeru bersifat dependentif artinya bergantung pada kubu mana ia berada. Ia
tidak hadir sebagai pribadi otonom yang bisa memberikan pendapat secara
kritis. Di sana tanpa berpihak pada siapapun ia
memberikan pandangan terbuka. Pandangan seperti akan tetap diingat dan
diperhatikan karena diletakkan dalam konteks umum. Pandangan itu juga tidak
bisa dianggap usai setelah seseorang tidak lagi berada dalam kubu tertentu.
Memang
Baswedan benar ketika mengatakan bahwa ia ungkapkan hal itu dala konteks
pilpres dan hal itu sudah selesai. Yang tidak disadari bahwa seorang akademisi
mengeluarkan statemen membekas. Ia seharusnya memiliki pikiran kritis dalam
mengukur ketepatan bicaranya.
Cap ‘mafioso’
lebih lanjut merupakan sebuah ‘kesimpulan’ yang mestinya didukung oleh data.
Lebih lagi ia tidak sekedar mengungkapkan pendapat menyerang tanpa data yang
cukup. Yang terjadi, setelah sebuah penilaian yang menyudutkan, kini dengan
mudah Baswedan menyatakan bahwa apa yang lalu mestinya dilupakan dan kita masuk
ke lembaran baru (dengan melupakan yang sudah lewat).
![]() |
| Anies Baswedan dan para massa politiknya |
Dari sisi
akademisi, mestinya yang diharapkan adalah pengakuan bahwa penilaian waktu itu
benar sesuai data. Namun setelah proses waktu kini sudah terbukti, Prabowo
bukan mafioso lagi. Ia telah berubah. Di sini justeru letak dari
interlektualitas seorang akademisi yang pernah menjabat sebagai menteri.
Sebaliknya ajakan melupakan merupakan simplifikasi yang mestinya tidak terjadi.
Logika Masyarakat
Logika
Baswedan sebagaimana kita telusuri menunjukkan kejanggalan yang mestinya tidak
terjadi. Pada satu sisi, cara pandang itu berbeda dengan logika. Logika para
politisi hal mana mestinya berbeda dari para akademisi (seperti Baswedan) kerap
ditampilkan dalam zona abu-abu. Cara yang digunakan pun kadang ironis dengan
sasaran tembak yang mesti diklarifikasi lebih jauh.
Mekanisme
seperti itu akan menjadi menjadi-jadi dalam era media sosial seperti ini.
Berita yang nyaris dikonfirmasi ditampilkan demi mendulang dukungan secepatnya.
Hal seperti ini yang mestinya diimbangi oleh pandangan kaum terpelajar yang
bisa memberikan penilaian kritis dan seimbang. Baswedan karena itu mestinya
mengeluarkan statement yang menyejukkan dan tidak semudah itu melansirkan
kritik atas lawan yang nota bene kini justeru menjadi ‘tuannya’.
Ia mestinya
tahu bahwa dalam logika politik (praktis) tidak ada kawan dan lawan yang abadi.
Yang ada hanyalah kepentingan. Dengan demikian seorang akademisi justeru hadir
sebagai pembeda. Ia tidak terkondisi oleh waktu dan orang yang ada di baliknya
tetapi secara cerdas mengungkapkan kata dan penilaian yang beralasan dengan
tujuan yang positif.
Hal inilah
yang menjadikan penilaian bahwa logika yang digunakan Baswedan tidak tepat. Ia
telah memasuki dunia politis tetapi dengan bahasa ‘santun’. Yang terlupakan, ia
mestinya menyadari logika masyarakat berbeda dengan apa yang ia tengah
lakonkan. Rakyat sebagai penentu akan melihat konsistensi antara kata dan
perbuatan. Lebih dari itu, masyarakat cerdas juga akan melihat konstruksi
penilaian sebagai landasan dalam menilai konsistensi kata dan laku.
Dari sisi
konstruksi konsep, masyarakat yang kian hari semakin cerdas akan melihat bahwa
tantangan Baswedan ke depan akan berat. Di satu pihak ia perlu
membangun sebuah konsep yang tepat yang dibangun di atas fakta. Sebagai
akademisi ia perlu mengeluarkan pandangan yang tidak terkondisi oleh waktu dan
oleh siapapun sebagai orang yang berada di baliknya. Ia perlu membangun sebuah pandangan
yang lebih mengedepankan dirinya sebagai akademisi yang kebetulan berkontribusi
dalam bidang politik.
Kalau
konstruksi konsepsi seperti ini masih belum konsisten jauh untuk dipercayai
maka perwujudan dalam tindakan akan menjadi lebih sulit. Janji perwujudan
kesejahteraan yang akan berkaitan dengan kebijakan strategis pembangunan akan
menjadi tanda tanya besar yang bisa saja mengganjal.
Sebaliknya,
apabila dua hal ini bisa dipenuhi, bukan tak mungkin, Anies Baswedan akan hadir
sebagai pemimpin altenratif yang diharapkan. Di satu pihak santun dan bijaksana
menganyam kata tetapi juga sukses menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat.
Robert Bala. Pemerhati Sosial,
Tinggal di Jakarta.

Tidak ada komentar