Mikael Mali : Politik Anggaran Pemerintah DKI Jakarta, Harus menjamin Keadilan Sosial
![]() |
| Calon anggota DPRD DKI Jakarta dari Partai Golkar Dapil Jakarta Utara 2, Mikael Mali |
JURNALTIMUR.COM,-
Politik anggaran pemerintah DKI Jakarta, harus menjamin keadilan sosial
bagi seluruh warganya. Hal ini mesti terutang dalam politik anggaran
penyusunan dan pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang
sungguh berpihak pada kebutuhan warga.
Berbicara dalam diskusi bertajuk “Peran Politisi Kristiani
dalam Penguatan Politik Kebangsaan”, yang digelar di Jakarta, Kamis 18 Oktober
2018, calon anggota DPRD DKI Jakarta
dari Partai Golkar Dapil Jakarta Utara 2, Mikael Mali mengatakan, akar persoalan
politik identitas akhir-akhir ini bisa dicari dari persoalan ekonomi yang tidak merata.
“Bicara tentang politik kebangsaan, ekonomi harus menjadi
aspek yang perlu diperhatikan. Kalau tidak dibenahi dari hulu sampai ke
hilir, maka kita akan terus begini akhirnya yang dibicarakan adalah politik
identitas, politik kedaerahan, karena tidak meratanya keadailan sosial,"
tegasnya.
Menurutnya, selama ini sudah ada prosedur baku yang mengatur
bagaimana sebuah APBD disusun, yakni
melalui rembuk rukun warga (RW), usulan langsung masyarakat, hasil reses
DPRD dan musrembang. Sayangnya, dalam pelaksanaannya tidak selalu melibatkan rakyat.
"Aturan dan prosedur sama dan standar. Namun dalam teknis pelaksanaan sangat bervariasi. Banyak
warga tidak dilibatkan entah karena tidak diajak, ataupun karena tidak
mengetahui perannya untuk memberikan usulan terhadap penyusunan anggaran
pembangunan," katanya.
Dikatakannya, banyak warga yang tidak tahu adanya musrembang
karena tidak dilibatkan. Akibatnya, dalam pelaksanaan pembangunan pun masih
banyak warga yang merasa tersisih karena kebutuhannya tidak diakomodasi.
"Seluruh proses itu harus ada partisipasi masyarakat. Apakah penyusunan musrembang swarga di situ diajak. Itu yang menjadi soal. Sehingga jangan heran alokasi yang turun tidak sesuai harapan masyarakat,"ungkapnya.
"Seluruh proses itu harus ada partisipasi masyarakat. Apakah penyusunan musrembang swarga di situ diajak. Itu yang menjadi soal. Sehingga jangan heran alokasi yang turun tidak sesuai harapan masyarakat,"ungkapnya.
Dia menuturkan, selain dibutuhkan partisipasi rakyat, politik
penganggaran pun membutuhkan legislator yang sungguh berpihak terhadap
kebutuhan rakyat, Keberpihakan ini hanya mungkin terlasana dari legislator yang
sungguh mengenal rakyatnya.
“Dalam praktik, politik penganggaran pada akhirnya menjadi
kerja politisi. Kompromi di kalangan politisi banyak yang tidak diketahui
rakyat. Karena itu politisi yang anggota legislatif harus sungguh mengenal
keterwakilannya. Rakyat yang selama ini tidak dilibatkan pun harus punya wakil
yang siap mengawal jalannya praktik penganggaran ini," ujarnya.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, menurutnya perlu
pembenahan dari hulu sampai ke hilir termasuk membenahi keterwakilan politik
dalam pemilu. “Pemilu harus menghasilkan wakil rakyat yang berkualitas,
memahami kebutuhan rakyat dan melibatkan
rakyat," tegasnya.(ben)

Tidak ada komentar