Diskusi Politisi Kristiani, "Politik Harus Merangkul Semua Elemen Bangsa"
JURNALTIMUR.COM,- Maraknya politik identitas yang
menggunakan isu sara (suku agama dan golongan) untuk tujuan kekuasaan politik,
sangat bertolak belakang dengan cita-cita para pendiri bangsa yang menghendaki
adanya kebersamaan semua elemen bangsa dalam mewujudkan kesejahteraan bersama.
Itulah sebabnya, menyikapi politik Indonesia saat ini yang sarat dengan politik
identitas, para politisi dituntut untuk
menghadirkan kembali nilai-nilai
kebangsaan, seperti kebersamaan, kemandirian dan persatuan.
Pendeta Berton Silaban mengatakan, kebangsaan Indonesia
bukan suatu pemberian kolonial, demikain juga kemerdekaan Indonesia bukan diberikan begitu saja melainkan
diperjuangkan dengan mengedepankan nilai-nilai untuk mencapai kesejahteraan
bersama.
“Kebersamaan mencapai cita-cita bersama inilah mesti menjadi
spirit untuk membangun politik yang merangkul setiap elemen bangsa, “ ujar
Pendeta Silaban. dalam diskusi bertajuk “Peran Politisi Kristiani dalam
Penguatan Politik Kebangsaan”, yang digelar di Jakarta, Kamis 18 Oktober 2018.
Diskusi yang diselenggarankan mediaonline bersih.id ini
menampilkan pembicara diantaranya, Pendeta Berton Silaban, Tokoh Katolik, dan Calon Anggota DPR RI
Cyrillus I. Kerong, Calon Anggota DPRD DKI Jakarta Mikael Mali, Tokoh Awam
Katolik Herman YL. Wutun, dan Katekis Achsen Gumelar.
Dikatakan pendeta Silaban, saat ini bangsa Indonesia sedang
menghadapi suatu ujian yang luar biasa karena adanya sentiment sara.
Menurutnya, walaupun sara pada dirinya
adalah netral karena perbedaan itu ada dimana-mana, tapi manakalah itu
dimodifikasi dan dikomodifikasi menjadi komoditas politik, itu yang menjadi
masalah.
"Yang bahaya jika “yang lain“ itu dipandang bukan kita,
lalu dikomodifasikan berulang-ulang sehingga yang lain tetap dianggap musuh,"
katanya,
Menyinggung soal
peran politisi kristiani, menurutnya Gereja sudah selayaknya berperan mengutus
dan mempersiapkan orang dengan kualitas
moral yang baik termasuk mempersiapkan mereka yang memiliki gagasan yang baik
kalau situasi saat ini minim konstestasi ide.
"Yesus pada karya hidupnya di dunia ini bertindak dalam
tiga peran, yakni bertindak sebagai raja, nabi dan imam. Saya berharap ketiga
peran ini ada di pundak para politisi," ujarnya..
Dia menjelaskan,
peran sebagai raja berarti berperan
menata, menguasai, dan mengatur kesejahteraan kota. Peran sebagai nabi yakni
menyuarakan dan mengontrol sehingga suara kenabiannya nampak dan keadilan dapat ditegakkan. Peran
menjadi imam berarti politisi menjadi standar moral dan moralitasnya
harus menjadi moralitas publik yang menjadi contoh bagi yang lain.
Senada dengan pendeta Silaban, Herman Wutun mengatakan, isu sara memang ada
dimana-mana dan ada sejak dulu, sehingga tidak bisa diihat sebagai sesuatu yang
baru dan mengagetkan, Isu sara memang tumbuh di berbagai situasi dan di
berbagai lingkungan.
“Kalau mereka itu dalam satu kampung katolik 100 persen,
maka yang berkembang di situ adalah suku. Agama di situ tidak ada masalah, tapi
yang dicari adalah suku. Jadi bagi saya kita jangan menganggap sara ini sebagai
sesuatu yang mengganggu. Tinggal bagaimana kita sebagai pribadi tampil menjadi
orang baik, jujur, benar dan tidak
terpengaruh dengan isu itu," ujarnya.
Menurut Cyrillus Kerong politisi harus punya kualitas dan menjadi orang baik saja tidak cukup, harus pula jadi orang yang berguna.
"Kalau kita hanya menjadi orang baik, ketika kebaikan
itu habis, kita dibuang begitu saja. Tapi kalau kita menjadi orang baik dan berguna pasti
akan selalu dimanfaatkan. Kehadiran kita haruslah bermanfaat bagi orang
lain," kata Cyrillus.
Mikael Mali menambahkan bicara tentang politik kebangsaan,
ekonomi haruis menjadi aspek yang perlu diperhatikan. "Kalau tidak
dibenahi dari hulu sampai ke hilir, maka kita akan terus begini akhirnya yang
dibicarakan adalah politik identitas, politik kedaerahan. Karena tidak
meratanya keadailan sosial," tegasnya.
Diskusi dipandu Dion Pare dan Prolog Diskusi oleh Viktus
Murin (Ben)

Tidak ada komentar