Kemenko PMK Dorong Koordinasi Penguatan Program/Kegiatan bidang Kebudayaan 2018
JURNALTIMUR.COM Program dan kegiatan bidang kebudayaan di
tahun 2018 melalui Koordinasi, Sinkronisasi, dan Pengendalian (KSP) Kementerian
Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan akan diharapkan mampu
menghasilkan banyak hasil kerja yang berasal dari suatu alur kerjasama dari
kementerian dan lembaga negara terkait.
“Jika semua rencana kerja dan program
di tahun 2018 ini dapat kita laksanakan dengan baik, tentu itu merupakan hasil
dari kerja bersama kita yang baik juga,” kata Staf Ahli Menko PMK bidang
Multikulturalisme, Restorasi Sosial dan Jati Diri Bangsa, Haswan Yunaz, saat membuka sekaligus menyampaikan arahan dalam Rapat Koordinasi yang
membahas upaya penguatan program dan kegiatan bidang kebudayaan di ruang
Taskin, gedung Kemenko PMK, Jakarta, 14 fEBRUARI 2018. Rakor ini dihadiri oleh jajaran Ditjen
Kebudayaan Kemendikbud dan para perwakilan K/L terkait.
RPJMN 2015-2019 bidang kebudayaan telah menetapkan sejumlah
isu strategis dan meliputi meningkatnya pemahaman tentang nilai-nilai
kesejarahan dan wawasan kebangsaan; Pengembangan rumah budaya nusantara di
dalam negeri; Pengembangan rumah budaya Indonesia di luar negeri (Pusat
Kebudayaan Indonesia); Pembangunan museum dan pusat kesenian; Peningkatan
promosi budaya antar propinsi dan promosi budaya Indonesia ke mancanegara;
Pertukaran karya budaya dan pelaku budaya; Peningkatan informasi dan publikasi
budaya Indonesia; Penyelenggaraan forum dunia di bidang kebudayaan;
Perlindungan, pengembangan dan aktualisasi nilai dan tradisi dalam rangka
memperkaya dan memperkukuh khasanah budaya bangsa; Pemberdayaan masyarakat adat
dan komunitas budaya; Pemberian penghargaan bagi temuan-temuan baru, antara
lain dengan penegakan hak kekayaan intelektual (HaKI) dan berbagai penghargaan
sosial lainnya; Penyediaan ruang publik yang mendorong kreatifitas dan yang
memfasilitasi perwujudan ide kreatif antara lain kedalam bentuk barang, audio,
visual, grafis dan koreografi; dan terakhir, Revolusi Mental.
Adapun fokus
koordinasi kebijakan yang dilakukan oleh Kemenko PMK antara lain KSP untuk
masalah warisan budaya, sejarah, cagar budaya, permuseuman, nilai budaya,
kreativitas budaya, dan Revolusi Mental.
Dalam melaksanakan KSP itu, Menurut Asisten Deputi Warisan
Budaya pada Kedeputian bidang Koordinasi Kebudayaan Kemenko PMK, Pamuji
Lestari, jangan melupakan peran Pemerintah Daerah karena kekayaan budaya
Indonesia tersebar merata di semua daerah. “Kita di pusat dengan Pemerintah
Daerah perlu sering bertemu, mereka kita ajak terlibat dan diberikan pengayaan
wawasan dan pemahaman kekayaan budaya. Apa kebijakan pusat mereka akhirnya
paham, upaya kita menjaga dan melestarikan kekayaan budaya juga akhirnya
tercapai,” kata Pamuji.
Haswan dalam paparannya mencatat bahwa menurut matriks KSP
bidang Kebudayaan berdasarkan RPJMN 2015-2019, untuk masalah Kesadaran dan
Pemahaman masyarakat akan keragaman budaya;
Apresiasi terhadap keragaman seni dan kreativitas karya budaya berupa
event kebudayaan; Kualitas pengelolaan dalam upaya perlindungan, pengembangan,
dan pemanfaatan Warisan Budaya; Kerjasama dan pertukaran informasi budaya
antart daerah serta antara Indonesia dan Mancanegara; Kapasitas sumberdaya pembangunan Kebudayaan
dalam mendukung upaya perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan kebudayaan,
rata-rata hampir mendekati target RPJMN 2015-2019. “Meskipun memang masih ada
beberapa pending issues yang harus segera diselesaikan dan program kerja yang
ada masih harus di-sinkron-kan terutama dengan Kemendikbud,” kata Haswan lagi.
Untuk tahun 2018 ini, sesuai arahan Presiden pada 18 Juli
2017 lalu, bahwa Indonesia harus mampu menyelenggarakan event budaya tingkat
dunia tahunan semacam Rio de Janeiro di Brazil, Europalian yang diakui sangat
sukses diselenggarakan sebagai alat diplomasi budaya mengingat antusiasme yang
tinggi luar negeri atau event kebudayaan mendunia lainnya. “Kegiatan kebudayaan
tingkat dunia ini tetap akan diselenggarakan tetapi memang perlu pengkajian dan
inventarisasi program/kegiatan kebudayaan bersama dengan K/L terkait,” papar
Haswan.
Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbud, Hilmar Farid, yang
hadir dalam rakor memaparkan rencana program dan kegiatan bidang kebudayaan di
tahun 2018 ini. Menurutnya, ada upaya keras dari Ditjen Kebudayaan Kemendikbud
untuk menghidupkan kembali kejayaan dan kekayaan seni budaya asli Indonesia di
semua tingkatan sekolah. “Agar para siswa juga terasah kelembutan hati dan
pekertinya, tidak selalu unggul secara akademik tetapi juga unggul dalam
menunjukkan jati dirinya yang berbudaya, Pancasilais, dan sebagainya,” kata
Hilmar mengawali paparannya.
Kemendikbud, lanjut Hilmar, di tahun ini akan mulai menyusun
basis data kekayaan budaya Indonesia terutama berbagai tradisi budaya yang
sudah sejak lama dipegang teguh masyarakat. Kalau basis data tradisi masyarakat
itu sudah ada, selain semakin mudah dikenali dan dipahami, juga akan menjadi
nilai tersendiri bagi masyarakat pemilik tradisi. “Jika tradisi itu
dipergunakan untuk kepentingan industri semacam proyek film atau iklan, akan
ada semacam penghargaan yang harus dibayar. Bukan soal nominalnya tetapi lebih
kepada penghargaan kepada nilai-nilai yang terkandung di dalam tradisi itu.”
Terkait penyelenggaraan event budaya tingkat dunia, Hilmar
mengungkapkan bahwa penyelenggaraan Europalia yang berakhir pada 28 Januari
2018 lalu telah sukses mempromosikan kekayaan budaya Indonesia di Daratan
Eropa. “Di dalam negeri, Kami sedang merencanakan event kebudayaan tingkat
dunia semacam festival tahunan Rio de Janeiro di Brazil. Banyak daerah di
Indonesia yang sudah menggelar event budaya tahunan, Kami sedang kaji dulu baru
nanti memutuskan kemasan, promosi, hingga thema yang akan diangkat,” kata
Hilmar lagi. (*)
SUMBER : www.kemenkopmk.go.id

Tidak ada komentar