In Memoriam Daoed Joesoef
JURNALTIMUR.COM,- Cendikiawan terkemuka Indonesia Daoed
Joesoef (91) meninggal dunia pada Selasa malam (23/1/2018) pukul 23.55 WIB di
Rumah Sakit Medistra , Jakarta Selatan. Ia sempat mendapatkan perawatan intensif di Rumah Sakit Medistra,
Jakarta Selatan, sejak Sabtu pekan lalu karena penyakit jantung yang
dideritanya.
Daoed Joesoef meninggalkan seorang istri bernama Sri Sulastri (89), satu
orang anak Sri Sulaksmi Damayanti, dua cucu dan satu cicit.
Daoed dikenal sebagai sosok yang sederhana dan apa adanya. Ia dikenal sebagai mantan menteri, penulis,
seniman serta pembicara di berbagai event.
Ia lahir di Medan , Sumatera Utara, 8
Agustus 1926. Menempuh pendidikan di HIS, Medan (1939); MULO-Tjuu Gakko,
Medan (1944); SMA, Yogyakarta (1949); Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia
(UI), Jakarta (1959)
Dari Jakarta kemudian ia mengambil Program Master, Universite de Paris I, Pantheon-Sorbonne,
Perancis dan lulus tahun 1969. Ia memperoleh gelar Doctorat de L'Universite, Universite de Paris, Perancis 1965, Docteur d'Etat es Sciences Economiques, Universite de Paris I,
Pantheon-Sorbonne, Perancis 1973.
Kembali ke Indonesia, ia kemudian menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
Kabinet Pembangunan III (1978-1982).
Saat menjabat menteri, ia dikenal dengan kebijakan
NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan). Kebijakan ini dituangkan dalam surat keputusan No.0156/U/1978, tertanggal 19 April 1978.
NKK/ BKK merupakan kebijakan yang sangat kontroversial dan menuai banyak polemik. Bahkan hingga kini pun, saat orang bicara tentang apa pentingnya mahasiswa berpolitik, nama Daoed Joesoef selalu menjadi rujukan.
Setelah tidak menjadi menteri, ia aktif di Centre
for Strategic and International Studies (CSIS). Ia aktif menghadiri pertemuan-pertemuan terkait dunia
ilmu pengetahuan, menulis di beberapa surat kabar nasional.
Selain menulis,ia juga dikenal sebagai seorang pelukis. Jalan seniman ini pernah mengatarnya menjadi Ketua
Seniman Indonesia Muda (SIM) cabang Yogyakarta pada masa Revolusi. Selepas Revolusi, pada 1950-an, Daoed Joesoef
pernah jadi pelukis poster film.
Daoed menamakan dirinya Man of Culture,
seseorang yang mencintai budaya lebih dari seni. Berbagai prestasi dan kontribusi keilmuwan dan kecendikiaan telah ia berikan kepada negaranya. Hingga usianya yang ke 91 ia masih menulis, memberikan pikiran-pikirannya kepada negara.
Ia telah menghasilkan sejumlah buku, diantaranya,Teman Duduk (Kumpulan Cerpen), Borobudur : Warisan Umat
Manusia, Studi Strategi -
Logika Ketahanan dan Pembangunan Nasional, Pikiran dan Gagasan Daoed Joesoef : 10
Wacana tentang Aneka Masalah Kehidupan Bersama, Emak, Mama, dan Dia dan Aku, serta sejumlah karya yang lain.
Selamat Jalan Pak Daoed Joesoef.
Benjamin Tukan/ dari berbagai sumber media

Tidak ada komentar