Budayawan Maluku Dino Umahuk Hadiri Pertemuan Penyair Nusantara X
JURNALTIMUR.COM,- Budayawan Maluku, Dino Umahuk kembali diundang sebagai
peserta pada pertemuan sastra internasional di penghujung Tahun 2017. Pada
perhelatan sastra bertajuk Pertemuan Penyair Nusantara (PPN X) yang
diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Banten (DKB) ini, Dino turut diundang
bersama 29 penyair Indonesia serta para penyair ternama dari empat negara –
Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan Thailand. Mereka akan
mencari siasat terbaik untuk ikut mendorong terciptanya perdamaian dunia
melalui puisi.
Kepada media, Dino Umahuk menyampaikan, di tengah
merebaknya konflik, kekerasan, dan perang di sejumlah negara, sudah sepatutnya
mendapatkan empati, kepedulian, dan sikap dari kita sebagai penyair. Benturan
berdarah di Myanmar, Irak, Libya, Suriah, Mesir, Prancis, Inggris, dan di
kawasan lainnya semakin menambah luka sejarah peradaban manusia.
“Khusus dalam kasus Myanmar, di bumi Asia Tenggara itu,
memang ada sejumlah faktor penyebab yang menyulut terjadinya konflik di kawasan
tersebut, tapi justru karena itulah kita sebagai penyair perlu menyumbangkan
pandangan dan solusi untuk mengakhiri konflik tersebut dan kalau bisa
mencegahnya secara abadi agar tidak terjadi kekerasan di masa yang akan datang
melalui kata-kata dan bahasa, yang dalam hal ini puisi,” katanya.
Dino yang baru saja selesai mengikuti program Residensi
Sastrawan Berkarya di berbatasan Kalimantan Barat dan Negara Bagian Serawak
Malaysia ini mengatakan, puisi sesungguhnya dapat menjadi media dan jembatan
yang strategis untuk menyuarakan pandangan dan kepedulian kita untuk menyikapi
sejumlah konflik dan perang di belahan dunia ini dalam rangka mengumandangkan
welas-asih dan melantangkan suara-suara kemanusiaan.
“Kita perlu menyuarakan
keprihatinan dan sikap kita terhadap banyak kekerasan dan perang,” serunya.
Penanggung jawab PPN X yang juga Ketua Umum DKB Chavchay
Syaifullah, mengatakan
para penyair yang akan menjadi nara sumber simposium adalah Shamsuddin Othman
(Malaysia), Syarifah Yatiman (Singapura), Mahroso Doloh (Thailand), Sheikh
Mansor (Brunei Darussalam), dan Nuruddin Asyhadie (Indonesia).
Selain itu, tambah Chavchay, Panitia PPN X juga akan
menggelar Seminar Internasional Metode Mutakhir Pengajaran Bahasa dan Sastra
(khusus untuk guru dan dosen bahasa dan sastra Banten), dengan pembicara
Prof Dr
Suminto A. Sayuti (Indonesia), Prof
Dr Nik Rakib bin Nik Hasan
(Thailand), Dr Mohamad Saleeh Rahamad
(Malaysia), Prof Zefri Ariff (Brunei),
dan Djamal Tukimin MA (Singapura), dengan moderator Ahmadun Yosi Herfanda. Seminar
ini akan diadakan pada Ahad (17/12) di
Gedung Prof Sjadzili Hasan, UIN Sultan
Maulana Hasanudin Banten.
Penyair sekaligus Ketua Umum Dewan Kesenian Banten ini
mengisahkan bahwa kata memiliki kekuatan yang tak dapat kita ukur. Dan pada
kekuatan kata inilah terletak tanggung jawab para penyair, lebih-lebih lagi
para penerjemah, karena satu kesalahan samar saja dapat memicu kesalahpahaman
yang berbahaya.”
“Betapa puisi dalam kehidupan manusia adalah ‘ruh’ dan
‘jiwa’ kehidupan manusia itu sendiri, dan karena itu pula betapa pentingnya
‘puisi’ dijaga dari upaya-upaya untuk menjadikannya sebagai alat destruksi dan
menjadi media-media kezaliman dan praktik-praktik tidak kreatif yang akan
‘melukai’ kemanusiaan manusia,” hemat Chavchay.
Secara khusus, tambahnya, lewat puisi, PPN X akan dijadikan
enerji dan sikap penyair yang mendorong para pemimpin dan elit-elit politik di
Asia Tenggara untuk berada di garda depan dalam mengupayakan terciptanya
perdamaian dunia.
PPN X akan dibuka pada Jumat (15/12) pukul 19.00 WIB di Taman Budaya Banten. Usai pembukaan, akan
digelar Panggung Baca Puisi Penyair ASEAN. Akan tampil membaca puisi, antara
lain Amin Kamil, Thomas Budhi Santoso, dan Hamdy Salad, serta para penyair dari
negara-negara peserta PPN.
Esok paginya, Sabtu (16/12), para peserta akan diajak
berwisata sejarah dan budaya ke makam dan Masjid Kesultanan Banten, Keraton
Surosowan, Keraton Kaibon, Vihara Avalokitesvara, Benteng Speelwijk, Museum
Negeri Banten, dan Danau Tasikardi. Siangnya, peserta akan mengikuti simposium
internasional “Puisi untuk Perdamaian Dunia”. Dan, malamnya, di Taman Budaya
Banten, akan digelar Panggung Penyair ASEAN. Para penyair dari lima Negara
peserta PPN akan tampil membaca sajak di panggung itu.
Hari terakhir, Ahad (17/12), pukul 08.00-12.00 WIB, akan
digelar Seminar Internasional Metode Mutakhir Pengajaran Bahasa dan Sastra
(Khusus untuk Para Guru dan Dosen Bahasa dan Sastra Se-Banten). Seminar
tersebut menampilkan pembicara Prof
Dr Suminto A. Sayuti, Prof Dr Nik
Rakib bin Nik Hasan, Dr Mohamad Saleeh
Rahamad, Prof Zefri Ariff, dan Djamal Tukimin MA, di Gedung Prof Sjadzili
Hasan, UIN Sultan Maulana Hasanudin Serang Banten.(*)
Editor : Benjamin Tukan

Tidak ada komentar