Menko Maritim: Potensi Ekonomi Kemaritiman Seharusnya dikelola Sejak Dulu
Maritim – Jakarta, Potensi yang sangat besar di bidang
kemaritiman, diakui Menko Maritim Luhut Pandjaitan agak terlambat dikelola.
“Pembentukan Kemenko Maritim ini terlambat, artinya baru
jaman Pak Jokowi tahun 2014 (dibentuk). Terus terang secara jujur saya
mengatakan (saat menjadi Menko Maritim) saya enggak tahu nih Menko Maritim ini
binatang apa. Setelah saya masuk di dalam itu kita terlambat, seharusnya dari
dulu dikelola dengan baik maka akan banyak yang bisa dieksploitasi,” ujar Menko
Luhut dalam paparan kinerja tiga tahun pemerintahan Jokowi-JK, di Gedung Bina
Graha, Rabu (18/10/2017).
Menurutnya selama ini Indonesia memunggungi laut padahal 79%
wilayah Indonesia merupakan lautan.
Ia mengatakan potensi ekonomi maritim adalah sebesar Rp
17,69 triliun terdiri dari industri jasa maritime, agrikultur, industri non
konvensional, pertambangan dan energi dll tetapi yang baru bisa dirasakan saat
ini paling besar baru sembilan persen.
Menko Luhut mengajak masyarakat Indonesia untuk bersama
menggali potensi ini. “Jangan melulu konflik internal, banyak masalah yang
harus kita selesaikan agar ekonomi tumbuh dan masyarakat sejahtera. Kita harus
bertarung dengan dunia luar untuk meyakinkan investor untuk mau berinvestasi”
jelasnya.
Infrastruktur Bahari
Ia menyampaikan perkembangan pembangunan infrastruktur
bahari, seperti pembangunan terminal cruise Tanjung Benoa yang direncanakan
rampung pada tahun depan.
“Orang ngga perlu lagi ke Singapur. Di Singapur itu ada 400
cruise per tahun, kita belum menghitung kira-kira berapa cruise per tahun di
Bali. Saat kita umumkan sandbreaking…itu operator-operator asing banyak datang
mengajak kerjasama,” kata Menko Luhut.
Menko Luhut juga menekankan pemerintah kita sedang fokus
membangun konektivitas seperti pembangunan landasan pacu, pelabuhan
internasional, pelabuhan laut dan banyak lagi yang juga dapat menggairahkan
sektor pariwisata.
Garam
Menko Luhut menyampaikan juga pemerintah menargetkan
Indonesia akan swasembada garam pada tahun 2020. Menurut dia, pasokan dalam
negeri sangat kurang hingga Indonesia harus mengimpor garam.
“PT Garam harus bisa pack harga jadi Rp 800-1000 karena
kalau dia bisa pack pada harga itu maka kita bisa buat efisien dibawah Rp 300,
maka keuntungan petani sekitar Rp 500-Rp 800,” terangnya.
Kementeriannya mempersiapkan lahan seluas 100 hektar di
daerah Madura dengan melibatkan koperasi. Badan Pengkajian dan Penerapan
Teknologi (BPPT) telah menemukan teknologi agar garam yang dikeringkan bisa
dipanen dalam 4 hari. Ia optimis pekan depan masalah pertanahan dan lahan yang
sedang diproses Kementerian ATR bisa rampung.(*)
Sumber : https://maritim.go.id

Tidak ada komentar