BreakingNews

Jembatan Pancasila dan Prospek Pembangunan di Flotim



 
Foto Ilustrasi Pantai Weri Larantuka  (Foto : JurnalTimur/Stefan K)
Oleh : Kopong Hilarius


"WAH! ITU berarti mente bapak saya sudah sampai di Eropa, ya!" Itulah reaksi saya ketika mendengar Dimas, seorang staff perusahan Javara - Indigenous food production mengatakan bahwa mereka membeli mente dari Adonara dan Flores kemudian diproses dan dieksport ke Eropa. (Dimas ke Melbourne sebagai salah seorang delegasi Indonesia yang sedang menghadiri Konferesi Pemuda Indonesia-Australia di Melbourne yang diselenggarakan oleh Conference of Australia and indonesian Youth (CAUSINDY)) .


Dalam pembicaraan singkat itu saya memperoleh informasi bahwa Dimas sering ke Flores dan Adonara untuk melakukan koordinasi pengadaan pangan lokal yang ditugaskan oleh perusahannya (perusahan pengelolaan makanan lokal yang berpusat di Jakarta). Perusahan ini telah mendirikan industri pembuatan keripik kelapa di Maumere dan membeli komoditi pertanian lain seperti mente dll di Flores dan Adonara. 


Menurut Dimas, mente dari Flores, Adonara dan Solor ini dikelola dan dieksport ke Eropa. Dalam waktu dekat perusahan ini akan membuka tokonya di Melbourne untuk menjual makanan lokal yang diambil dari seluruh daerah di Indonesia termasuk dari Flotim.


Kopong Hilarius
"Bagaimana kalau membuka industri pengelolaan makanan di Larantuka atau Adonara ?" Tanya saya kepada Dimas. 


"Hal itu sangat mungkin pada masa yang akan datang namun saat ini belum bisa karena ketersediaan listrik di sana belum memadai" jawabnya. 


Jawaban Dimas ini mengingatkan saya pada rencana pembangunan Jembatan Pancasila atau Jembatan Palmerah yang menjadi penyangga turbin pembangkit tenaga listrik arus bawah laut, yang menurut berita di berbagai media massa diperkirakan turbin ini menghasilkan kapasitas listrik yang sangat besar. Jika rencana pembangunan turbin ini dapat dilaksanakan maka masalah keterbatasan arus listrik di Flores Timur dapat teratasi.


Listrik adalah salah satu faktor utama dalam pembangunan suatu daerah. Ketersedian listrik yang memadai akan membuka banyak peluang usaha di berbagai bidang, baik usaha kecil maupun usaha menengah ke atas. Selain itu listrik juga dapat memungkinkan pengadaan alat-alat medis yang lebih lengkap untuk pelayanan kesehatan di Flotim. 


Dengan listrik pula akan memungkinkan sekolah-sekolah di Flotim dapat menggunakan teknologi moderen seperti komputer dan peralatan elektronik laboratorium dalam proses belajar mengajar. Dan masih banyak lagi manfaat listrik terhadap pembangunan di Flores Timur jika turbin ini dapat dibangun. 


Selain itu kehadiran turbin ini memberi banyak keuntungan lain, baik langsung maupun tidak orang seperti mengurangi pencemaran udara dan menjadi sumber pendapat asli daerah Flotim jika arus listrik dari turbin ini digunakan juga oleh masyarakat di kabupaten lain.


Merujuk dari keuntungan-keuntungan turbin pembangkit tenaga listrik di atas, kita sepantasnya mendukung upaya yang telah dan sedang dilakukan oleh pemerintah daerah selama ini. Tentu dalam suatu usaha itu selalu ada hambatan dan tantangannya. Hal ini bisa saja mempengaruhi jadwal pelaksanaannya bahkan dapat pula membatalkan rencana proyek tersebut; itulah konsekuensi dari sebuah usaha yang harus kita hadapi. Kita tidak boleh tidak membuat suatu usaha karena takut gagal.


Memang  patut kita sadari bahwa yang duduk di pucuk pemerintah daerah dewasa ini adalah politikus hasil pemilu sehingga tak dapat dielakan bahwa mereka  itu sering menjadikan proyek-proyek pembangunan sebagai modalnya dalam berpolitik. Jadi mereka pantas dikritik karena kritik dalam dunia politik memang sangat dibutuhkan agar aktor-aktor politikus lebih mawas diri dan bertanggung jawab dalam menjalankan tugasnya. 


Namun dalam hal rencana pembangunan jembatan Palmerah hendaknya kritik itu tidak bersifat penolakan atas proyek ini karena proyek ini akan memperbaiki taraf hidup masyarakat Flores Timur jika hasil study kelayakan dinyatakan layak. 


Dari proyek ini kita berharap suatu saat nanti Flotim memiliki industri pengelolaan hasil buminya dan industri pengelolaan hasil lautnya di tanah Lamaholot sehingga kita tidak lagi merantau ke tanah Malaysia tetapi merantau ke Boro, Tanjung Bunga, Lohayong atau ke Wai Wuring. SEMOGA!

Melbourne, 22102017

Tidak ada komentar