Ini Alasan 20 Wisatawan USA Harus Mengunjungi Desa Pedalaman di Flores
JURNALTIMUR.COM---Pada masa pemerintahan Joko Widodo ini, Flores yang dulunya menjadi
negeri asing, sekarang mempunyai maknet tersendiri dalam eksotik alam dan
tenunannya.
Eksotisme alam dan tenunan itu memikat 20 wisatawan asing yang berasal dari berbagai negara
mengunjungi desa yang ada di Kampung Dobo,
pada Selasa (26/9/17), Desa ini termasuk dalam teritori pemerintahan Kecamatan Kewa
Pante, Maumere, Kabupaten Sikka.
| Saat wisatawan asing itu diterima (foto : welano) |
Dalam pantuan
jurnaltimur.com, ternyata para wisatawan itu datang jauh-jauh dari USA karena
merasa tertarik akan warisan leluhur serta keaslian tenun ikat.
“Tahun
lalu ibu Phyllis Hischier dari USA datang ke
sini melihat kampung adat ini. Dia sangat tertarik dengan tingkat kehidupan dan
peradaban masyarakat di sini,”
ungkap Ketua Sanggar Jong Dobo dalam kesempatan menyambut wisatawan itu.
“Kain
hasil tenunan kelompok dengan corak dan motif yang sangat bagus sehingga tahun
lalu, dia berjanji untuk datang kesini lagi. Dan
hari ini dia tepati janjinya dengan membawa rombongan ini,” imbuh Kanisius.
Disambut Sanggar Jong Dobo
Untuk menyambut kehadiran para wisman ini dijelaskan
Anis, Sanggar Jong Dobo mementaskan beberapa tarian untuk menghibur para wisman
di antaranya tari Hegon sebagai tarian
penjemputan.
“Kami siapkan 5 tarian untuk menghibur para turis ini
namun kehadiran mereka dibatasi waktu sehingga hanya 3 tarian yang bisa kami
pentaskan dan dua lainnya dibatalkan” lanjutnya,
Disaksikan jurnaltimur.com
di Kampung Dobo, usai dihibur dengan tarian dan berbelanja kain tenun hasil
karya ibu – ibu kelompok tenun Eban Watan, para wisman ini turun dari kampung
yang berada di puncak Gunung Dobo ini berjalan turun menuju lokasi wisata
budaya tempat Kapal Jong Dobo ini diletakkan yaitu di dalam hutan tempat
tinggal para para leluhur pada zaman dulu.
| Anak-anak membawakan tarian sekapur sirih (ft : welano) |
Setelah
tiba di lokasi tersimpannya Jong Dobo, Sergius Moa, juru kunci dan penjaga Jong
Dobo membuat ritual memanggil kapal ini dan menceritakan tentang sejarah
kehadiran Jong Dobo sambil mempertontonkan kapal perunggu itu kepada para
wisman.
“Kapal ini namanya Jong Dobo dan telah berubah menjadi
kecil karena kapten dan para penumpang yang ada di dalam kapal telah melanggar
kesepakatan bersama sebelum mereka pergi berlayar sehingga terkutuk
berubah menjadi kecil hingga saat ini” tutur Moa lagi sambil menjelaskan.
Usai mendengar dan melihat kapal tua yang bersejarah ini
para wisatawan manca negara ini kembali ke kapalnya di Pelabuhan Lorens say
Maumere yang dikomandoi ketua timnya Phyllis Hischier dan guide Denny Theopilus. (welano)
Tidak ada komentar