Mgr Sunarko OFM, Saudara yang Mempersaudarakan
Oleh : Dr Paul Budi Kleden SVD (Anggota Dewan Jendral SVD di Roma)
Pada bulan Maret yang lalu saya berkunjung ke Nagoya, di
Jepang, dan bertemu dengan uskup Nagoya, Mgr. Mikael Matsura Goro. Beliau
dikenal sebagai seorang penggerak JPIC Gereja Katolik Jepang. Beliau mendorong penegakan
keadilan di dalam Gereja, dan menyuarakan pesan perdamaian keluar. Uskup ini
memilih sebagai motto pelayanannya sebagai uskup pernyataan Santo Agustinus: “vobis … sum episcopus, vobiscum sum christianus”,
bersamamu sekalian aku adalah seorang Kristen, bagimu semua aku seorang uskup.
Maksudnya, seorang uskup pertama-tama adalah saudara yang
membagi bersama semua orang Kristiani lain kegembiraan karena pengalaman akan
kasih dan kerahiman Tuhan, dan berbagi tanggungjawab untuk membuat banyak orang
mengalami kebaikan Tuhan yang mahaluas itu. Serentak seorang uskup adalah
pemimpin yang mempersembahkan dirinya kepada Tuhan melalui pelayanan demi
pertumbuhan Gereja.
![]() |
| Pater Dr Paul Budi Kleden SVD |
Selanjutnya Santo Agustinus mengatakan: “Kamu perlu
memberikan dukungan untukku, karena menurut aturan para rasul, kita mesti saling
berbagi beban satu dengan yang lain, dan dengan demikian kita memenuhi perintah
Kristus … (Gal 6:2) Sebab, ketika aku merasa cemas karena harus berada bagi
kamu, aku dihibur sebab saya berada dengan kamu”.
Tugas berat sebagai pemimpin akan dirasa terpikulkan ketika disadari
bahwa bersama seluruh umat dia membagi kemuliaan yang sama sebagai anak-anak
Allah, warga kerajaan-Nya.
Motto di atas mengungkapkan kesadaran dan keyakinan bahwa
menjadi uskup adalah panggilan dalam rangka bertumbuh bersama sebagai para
pengikut misioner Yesus dari Nazaret untuk memberi kesaksian mengenai Injil di
tengah dan bagi dunia. Paus Fransiskus menggunakan ungkapan pengikut misioner (missionary disciples) untuk menunjukkan
kaitan erat antara menjadi murid dan menjadi utusan.
Semua orang beriman menerima panggilan yang sama dan
diberdayakan untuk menjadi murid misioner. Di dalam kebersamaan itu uskup
melayani sebagai gembala. Jabatan pelayanan membedakan peran, tetapi tidak memisahkan
dari kebersamaan karena seperti semua jenis pelayanan lain, jabatan uskup hanya
mendapatkan maknanya karena persekutuan para pengikut Kristus. Kebersamaan ini
serentak menjadi sumber kekuatan dan hiburan dalam tugas kegembalaan.
Tekanan pada pertumbuhan bersama sebagai pengikuti misioner
Kristus adalah tujuan kegembalaan almahrum Mgr. Hilarius Moa Nurak, SVD, yang
memotivasinya untuk mengunjungi umat di pulau-pulau agar terbentuk kesadaran
sebagai anggota dari satu keuskupan.
Pertumbuhan bersama itu amat penting bagi situasi keuskupan
Pangkalpinang yang tidak hanya dipisahkan karena kondisi geografis, tetapi juga
karena latar belakang budaya yang beragam. Tumbuh bersama pun menjadi inti dari
gerakan Komunitas Basis Gerejawi yang merupakan pola pastoral yang amat
dipromosikan Mgr Hila.
Semangat, sikap dan praktik persaudaraan menjiwai uskup
baru, Mgr Adrianus Sunarko, OFM. Sejak menjalani studi doktoral bersama pada
tahun 1996 di Freiburg, Jerman, saya mengenalnya sebagai seorang saudara dan
sahabat, dan saya yakin, sikap dasar persaudaraan itu mewarnai kepemimpinannya.
Mgr Sunarko adalah saudara yang mempersaudarakan, yang
menjembatani umat dari pulau ke pulau, dari suku ke suku, dari generasi ke
generasi. Hadir sebagai kelompok di tengah umat beragama lain, Gereja Katolik
keuskupan Pangkalpinang sejatinya meneruskan semangat dan praktik persaudaraan
yang telah ditunjukkan para pemimpin terdahulu. Gereja adalah saudara bagi
semua kelompok agama pun mereka yang menemukan kesulitan untuk mengidentifikasikan
diri dengan agama tertentu atau yang tidak menemukan cukup alasan untuk
mengimani Tuhan.
Kebersamaan sebagai umat Allah memerlukan berbagai bentuk
pelayanan. Salah satunya adalah jabatan kemimpinan. Dalam nasihat apostoliknya Evangelii Gaudium (EG) Paus Fransiskus berbicara
mengenai para uskup sebagai pemimpin yang berdiri di depan untuk menunjukkan
jalan dan memberikan harapan bagi para anggota Gereja; pada kesempatan lain dia
mesti berada di tengah umat dengan kehadiran yang sederhana dan penuh
kedermawanan.
Seorang uskup pun perlu berjalan di belakang umatnya agar
dapat membantu mereka yang tertinggal karena berbagai alasan, misalnya ketika
ada umat yang untuk mencoba-coba jalannya sendiri. Bukan mustahil, karena
kesabaran menunggu umat seperti ini seorang uskup dapat diperkaya oleh
pengalaman keberhasilan atau kegagalan mereka.
Perutusan seorang uskup, masih menurut Paus Fransiskus,
adalah untuk mendorong pertumbuhan sebuah persekutuan umat beriman yang dinamis,
terbuka dan missioner, tidak hanya dengan bertumpu pada apa yang diatur di
dalam Kitab Hukum Gereja, tetapi juga dengan keberanian untuk menemukan bentuk-bentuk
pastoral baru yang bersifat dialogal.
Untuk itu, seorang uskup perlu “mendengarkan semua pihak dan
bukan hanya beberapa pihak”. Tujuan dari proses pembaruan pastoral yang
dialogal ini bukan terutama untuk memperkuat struktur gerejani, melainkan untuk
membuat Gereja menjadi lebih missioner, Gereja yang berani keluar dari dunia
aman dan nyamannya sendiri agar dapat merangkul mereka yang terpinggirkan. (EG
31)
Apa yang ditulis Paus Fransiskus di atas mengingatkan kita
akan falsalah pendidikan Ki Hajar Dewantara yang berbicara mengenai pendidik
yang ber-ing ngarso sung tulodo, ing madyo mbangun karso, dan tut wuri handayani. Saya yakin, selama ini
Mgr. Sunarko sudah membatinkan falsafah ini sebagai warisan ayahnya yang
seorang guru, dan mempraktikkannya selama menjadi guru atau dosen.
Bapa Uskup Menjadi Pengajar Kami Semua
Beliau adalah seorang guru yang suka mengajar, berada di
tengah para mahasiswa-mahasiswi, menantang mereka dengan gagasan-gagasan
teologisnya yang segar dan mendalam, dan membiarkan diri ditantang. Menjawabi
ucapan proficiat saya atas penunjukannya menjadi uskup Pangkalpinang, beliau
mengatakan: “Ya, sekarang tidak bisa memberikan kuliah lagi.” Saya menanggapi: “Mulai
sekarang Bapa Uskup menjadi pengajar untuk kami semua.”
Tugas mengajar adalah bagian utuh dari tugas kegembalaan
seorang uskup. Seorang pengajar yang baik tidak hanya mengetahui dengan baik
“bahan” yang diajarkan, tetapi juga mengenal penuh keabraban para pendengarnya.
Dan sebuah pengajaran yang baik membuka horizon baru, menantang orang untuk
melihat peluang di tengah permasalahan dan memberanikanya untuk mengambil sikap
dan langkah perubahan.
![]() |
| Mgr Adrianus Sunarko OFM, ditahbiskan menjadi Uskup Pangkalpinang 23 Sept 2017 |
Mengomentari ungkapan Paus Fransiskus mengenai gembala yang
mesti memiliki “bau” seperti para domba (EG 24), P. Nicolas Adolfo, mantan
Superior General para Yesuit, mengatakan: para Yesuit harus memiliki tiga
“bau”: bau umat dan masyarakat, bau perpustakaan, dan bau masa depan. Hemat
saya, ketiga hal ini penting bagi semua pemimpin Gereja, terutama bagi seorang
uskup: dekat dengan umat, dengan refleksi-refleksi aktual tentang masyarakat
dan Gereja, dan memiliki visi masa depan. Latar belakang keluarga,
spiritualitas fraternal Fransiskan, pendidikan dan komitmennya bagi
perkembangan teologi di Indonesia, melengkapi kepribadian Mgr. Sunarko dengan
ketiga “bau” di atas.
Seorang uskup Gereja Katolik adalah pemimpin satu Gereja
lokal, serentak dalam kolegialitas bersama Uskup Roma, Paus, mengambil bagian
dalam kepemimpinan Gereja sejagad. Kolegiaitas ini pun termanifestasi dalam
kerjasama para uskup pada tingkat konperensi para uskup. Kiranya Mgr. Sunarko menjadi
saudara yang mendengarkan dan gembala yang baik bagi keuskupan Pangkalpinang,
dan berkontribusi bagi pembaruan Gereja Indonesia. Proficiat Mgr. Sunarko, dan
selamat bersukacita bagi seluruh umat keuskupan Pangkalpinang!


Tidak ada komentar