BreakingNews

Tour de Flores, Bersepeda Bukan Bertengkar


Hal yang biasa dalam latihan bersepeda hingga mencapai kemaharian, adalah betapa sulitnya melewati masa-masa awal latihan. Namun setelah tubuh mencapai keseimbangan, dan mulai asyik berdayung, ceritra-cerita awal tentang sulitnya bersepeda begitu gampang dilupakan. Begitu menariknya latihan hingga mencapai kemahiran bersepeda, membuat ceritra soal ini pun banyak kali menjadi contoh-contoh ceritra tentang kesuksesan, bahkan digunakan pula dalam dunia tulis menulis lebih khusus latihan menulis.


Tour de Flores (TDF) dengan kegiatan utama Turnamen Sepeda Internasional, akan diselenggerakan 10-21 Juli 2017.  Kegiatan ini akan dilaunching pada 5 Juli 2017 di Kementerian Pariwisata, Jalan Medan Merdeka-Jakarta. Ini event kedua, setelah even pertama yang berlangsung setahun yang lalu. Kabarnya, even ini akan diselenggarakan setiap tahun dan menjadi tradisi untuk memajukan pembangunan termasuk pariwisata di Flores dan NTT.


Dalam bingkai yang lebih besar, penyelenggaraan Tour de Flores yang menempuh jarak sepanjang 721,5, akan memabawa Flores sebagai daerah tujuan kegiatan-kegiatan balap sepeda. Bukan tidak mungkin, penyelenggaran event-even olahraga nasional dan internasional menjadikan Flores sebagai pilihan yang tepat untuk penyelenggaraan event itu. 


Tour de Flores  melewati 6 etape berawal dari Larantuka, melewati Maumere, Ende, Mbay, Nagekeo, Borong, Ruteng dan berakhir di Labuan Bajo. Flores adalah salah satu pulau besar di NTT dengan luas daratan 14.300 km persegi dan jumlah penduduk sebanyak 2,2 juta jiwa pada 2014.Saat ini, Flores terdiri atas 9 kabupaten, termasuk Kabupaten Lembata, sebuah pulau kecil di ujung timur yang sebelumnya masuk Kabupaten Flores Timur. Delapan kabupaten lain adalah Flores Timur (276.851), Sikka (311.644), Ende (266.768), Nagekeo (157.798), Ngada (162.595), Manggarai Timur (249.347), Manggarai (315.714), dan Manggarai Barat (253.496). (sumber: tourdeflores.org). 


Penyelenggaraan event ini tentu bukan sekedar acara hiburan biasa karena sejak awal telah dipikirkan dampaknya bagi kemajuan Flores dan NTT. Dapat saja Flores dengan Tour de Flores nya berpengaruh pada perbaikan infrastrukur. Bagaimana pun penyelenggaraan semacam ini menghendaki perbaikan infrastruktur jalan, dan sarana penunjang lainnya. Itu pun harus seluruh Flores, minimal sepanjang pelintasan kegiatan itu. 


Sebagai even besar yang menjadi perhatian dunia, sekurang-kurangnya dapat memicu bangkitnya ekonomi  masyarakat terutama di jalan lintasan. Destinasi wisata terpacu untuk ditata, agar sekali mendayung dua tiga pulau terlampau. Bagaimana pun even ini bukan hanya melibatkan mereka yang mengkuti lomba, tapi banyak orang pun akan turut serta menyaksikan jalannya lomba. Mereka harus memilih tempat mana yang menjadi titik mereka menonton.


Tour de Flores pada gilirannya adalah cara untuk menghubungi Flores sebagai satu kesatuan. Ini problem Flores, dimana masing-masing kabupaten selama ini berjalan sendiri-sendiri, sementara hal itu tidak bisa dipertahankan dalam memacu pertumbuhan ekonomi di wilayah ini. 


Hal yang perlu dikedepankan adalah bagaimana penyelenggaraan ini secara simbolis dapat menembus sekat-sekat di antara kabupaten yang merasa bisa mengatur dirinya sendiri itu. Barangkali event semacam ini merupakan satu-satunya even yang membuka dan menghubungi Flores. Bukankah selama ini bis-bis antar kota pun belum sanggup menghubungi Larantuka-Labuan Bajo dalam satu kali perjalanan? 


Tour de Flores membuka mata dan pikiran pemerintah daerah yang selama ini hanya "bermain" diseputaran rumah, melompat ke Kupang, ibukota Provinsi, dan melompat lagi ke Jakarta, tanpa sedikit pun menoleh kanan-kiri tentang apa yang sedang dibangun kabupaten tetangga. Pemerintah kabupaten dituntut merespon sebagai kebutuhan real, bukan sekedar melayani permintaan-permintaan orang-orang di luar kabupaten. Kreativitas adalah taruhannya. 


Semua yang disebut adalah sisi positif  dari penyelengaraan Tour de Flores. Tapi justru yang menarik mengapa gerangan, pada penyelenggaraan kedua, even ini hal yang lebih banyak dimunculkan adalah pertengkaran seputar manfaat even ini bagi Flores. Setiap komentar yang dilontarkan seakan membalikan semua mimpi tentang Flores yang terhubung.  Apalagi yang menyangkut dengan dana-dana publik seperti APBD dan sponsor. Pemda, Pemprov, Kemenpar.  


Bagai awal latihan bersepada, komentar yang terlontar penuh dengan keragu-raguan. Tapi apa salah dengan keragu-raguan ? Bagaimana pun penyelengaraan ini sudah pernah berlangsung, sudah ada bahan dan materi untuk dikomentari. Bagaimana pun kesuksesan yang diperoleh  meninggalkan cerita-cerita kecil yang tersimpan dan kemudian dikatakan untuk didengar. 


Di luar pembicaraan tentang manfaat, di luar keragu-raguan, sebenarnya orang sedang melakukan evaluasi atas penyelenggaraan sebelumnya. Ini pun harus menjadi perhatian, sebelum komentar berakhir dengan pertengkaran. 


Memang, banyak hal yang belum banyak dilakukan dari even ini ke masyarakat Flores oleh pemerintahan kabupaten di Flores.  Ini mesti diakui, walau beban itu tak semestinya diletakan pada pundak penggagas dan penyelenggara. Mesti harus diakui, bahwa kerja-kerja mempersiapkan masyarakat untuk mengakrabi even ini belum banyak dilakukan. 


Jika respon pemerintah kabupaten tidak hanya menunggu datangnya penyelenggaraan Tour de Flores, maka selama setahun berjalan, sudah banyak kegiatan yang mengundang partisipasi masyarakat. Ekonomi masyarakat misalnya, seharusnya sudah diarahkan untuk mempersiapkan kegiatan ini berlangsung.


Kita tidak perlu terlalu jauh membayangkan bahwa orang-orang di Flores berganti kendaraan dengan bersepeda, tapi setiap orang Flores merasa bangga bahwa daerahnya menjadi tujuan turnamen sepeda internasional saja sudah cukup. 


Karena itu, dengan banyaknya komentar yang meragukan penyelenggaraan, mesti menjadi dasar untuk membuktikan bahwa Tour de Flores akan jauh lebih baik dari yang disangkakan. Sekali lagi inisiatif pemerintah lokal dalam menggairahkan perekonomian dan penyelenggaraan even-even sudah harus melibatkan lebih banyak orang lagi. 


Event ini menjadi menjadi kebanggaan bersama. Bahkan pariwisata bersepeda pun mesti terus digalakan. Pekerjaan mesti lebih serius lagi untuk menjadikan event ini lebih membumi. Semua orang mesti terlibat dalam mensukseskan acara ini.


Kita berharap penyelenggaraan ini sukses. Usai kegiatan ini penyelenggara harus menabuh gong lagi memulai kreativitas baru tentang pembangunan Flores yang lebih konkrit.  Dalam situasi saat ini sulit menjanjikan bahwa dampak positif  akan terjadi 15-25 tahun mendatang, jika titik terang manfaat itu tidak ditunjukan dari sekarang. (Benjamin Tukan)

Tidak ada komentar