Paulus Waterpauw Dinilai Proaktif Bentuk Tim Terpadu HAM Papua
JURNALTIMUR.COM, Irjen Pol.Drs Paulus
Waterpauw - pria kelahiran Fakfak, Papua
dari Suku Asli Kamoro yang telah
diangkat Kapolri menjadi Kepala
Kepolisian Daerah (Kapolda) Sumatera
Utara (Sumut) melalui Surat Telegram Kapolri Nomor : ST/1408/VI/2017 tanggal 2
Juni 2017 dikenal proaktif dalam proses pembentukan Tim Terpadu Penyelesaian
Dugaan Pelanggaran HAM masa lalu di
Papua dan Papua Barat.
Hal itu disampaikan Ketua Tim
Terpadu Penyelesaian Dugaan Pelanggaran HAM Papua dan Papua Barat masa lalu,
Matius Murib di Jayapura, Jumat, (9/06/2017), mengomentari salah satu prestasi yang diraih mantan Kapolda Papua dan mantan
Wakil Kepala Badan Intelijen dan Keamanan (Wakabanitelkam) Polri, Irjen Pol.Drs
Paulus Waterpauw di bidang penegakkan HAM di
Tanah Papua.
![]() |
| Paulus Waterpauw (foto : tribratanews) |
“Dari berbagai prestasi yang ditorehkan Paulus Waterpauw dalam
perjalanan sejarah kariernya di bidang yang digelutinya, salah satu di
antaranya adalah sikap dan tindakannya yang proaktif dalam proses pembentukan Tim terpadu HAM
Papua yang diinisiasi Kementerian Polhukam semasa Menteri Luhut Binsar
Pandjaitan,” kata Matius.
Matius yang saat ini juga menjabat Direktur Perhimpunan Advokasi
Kebijakan dan Hak Asasi Manusia
(PAK-HAM) Papua itu mengisahkan cikal bakal lahirnya Tim Terpadu HAM
Papua ini dimana peran Irjen Pol.Paulus
Waterpauw pada awal pembentukan Tim ini
terlihat sangat signifikan.
Pada Mei 2016 lalu, beberapa aktivis dan pemerhati HAM Papua menemui
Menkopolhukam (saat itu), Luhut Binsar Pandjaitan di Jakarta.Tujuan pertemuan
itu adalah meminta Pemerintah Pusat menyelesaikan berbagai dugaan pelanggaran
HAM masa lalu di Papua dan Papua Barat.
Ketika dilakukan dialog dengan
Bapak Menko Luhut, terbersit gagasan untuk membentuk sebuah Tim terpadu menangani berbagai dugaan pelanggaran HAM masa
lalu di Papua dan Papua Barat. Melalui Tim terpadu ini diharapkan semua
komponen masyarakat dapat secara bijaksana berusaha menyelesaikan berbagai
dugaan pelanggaran HAM masa lalu itu.
“Sejak saat itulah, Bapak Paulus
Waterpauw benar-benar proaktif dalam seluruh proses pembentukan Tim Terpadu
ini. Beliau ikut mendampingi Tim, bukan hanya karena salah satu tugasnya
sebagai seorang anggota Polri menegakkan HAM di tempat dia bertugas tetapi juga
karena panggilan dirinya sebagai anak asli Papua yang menginginkan agar
duri-duri dugaan pelanggaran HAM di tanah kelahirannya itu dapat segera
dituntaskan dan dengan itu semua pihak mulai menatap masa depan Papua yang
aman,adil,damai dan sejahtera,” kata Matius.
Menurut Matius yang mantan Ketua Komnas HAM Perwakilan Papua ini, Tim
Terpadu penyelesaian dugaan pelanggaran HAM masa lalu ini di tingkat
Nasional langsung dikoordinir oleh Menko
Polhukan yang saat ini dijabat Jenderal (Purn) Wiranto sedangkan untuk tingkat
regional di Papua diketuai oleh dirinya
sendiri.
Dia mengakui bahwa karakter Paulus Waterpauw sendiri diterima oleh
masyarakat Papua sehingga mudah menghasilkan keputusan-keputusan yang
pro-rakyat.
“Paulus Waterpauw itu orangnya luwes, mudah menerima dan diterima oleh
siapapun juga, baik orang dewasa, pemuda dan anak-anak. Dia datang ke
tengah-tengah orangnya sendiri dengan Hati yang tulus untuk bersama-sama
membangun satu kehidupan yang baik dan harmoni. Paulus selalu mengajak semua
pegiat HAM dimana saja berada untuk lebih menatap ke masa depan, berani dan rendahhati menoleh ke masa lalu dan
bijaksana menghidupi kebersamaan hari ini,” tegas Matius.
Bagi Paulus Waterpauw, dugaan pelanggaran HAM masa lalu itu bagaikan
kita berjalan di dalam lorong-lorong kehidupan yang kelam, namun demikian, semua
orang harus tetap memiliki optimisme bahwa di ujung lorong yang gelap gulita
itu, terbersit cahaya harapan yang
menerangi seluruh cakrawala kehidupan umat manusia yang aman, damai, adil dan
sejahtera.
“Jadikanlah pengalaman hidup masa lalu itu sebagai guru yang terbaik
dan kita tidak boleh berhenti terpukau
pada masa lalu. Kita harus bangkit, tegak berdiri menapaki lorong-lorong kehidupan hari ini menuju hari
esok yang lebih baik agar hidup yang dikaruniai Sang Pencipta – Allah orang
hidup benar-benar menjadi bermakna bagi diri sendiri dan orang lain,” kata
Matius mengutip pesan Paulus Waterpauw.
Menurut Paulus Waterpauw, lanjut Matius, kita tidak boleh menangisi kepahitan
masa lalu itu karena hal itu tidak membuat orang Papua maju ke masa depan.
Jadikanlah pengalaman masa lalu sebagai pelajaran berharga untuk kehidupan masa depan. Hari kemarin tidak akan kembali
lagi, jarum jam tidak akan berputar kembali kini tinggal bagaimana kita
bergandengan tangan menyongsong hari esok yang didambakan.
Matius mengakui, sikap dan tindakan mengayomi rakyat, dekat dan berada
bersama rakyat yang pernah dialami masyarakat Papua dalam diri Paulus Waterpauw kini diteruskan
oleh penggantinya Kapolda Papua yang baru, Irjen Pol.Boy Rafi Amar.
“Penampilan Pak Boy Rafi Amar terlihat kalem, tenang dan menyejukkan. Walau Beliau bukan kelahiran
Papua namun memiliki Hati untuk Papua, dan ini merupakan modal dasar bagi keberhasilannya memimpin Polda Papua yang penuh tantangan hari
ini dan ke masa depan,” tegas Matius Murib.(*/rus)

Tidak ada komentar