Jalan Baru Atasi Konflik Papua, Jokowi Harus Beri Perhatian pada Dialog Jakarta-Papua
![]() |
| Diskusi Publik bertajuk “ Internasionalisasi Isu Papua, Kekerasan dan Agenda Dialog Jakarta-Papua,” yang berlangsung di Jakarta, Selasa, (13/06/2017).(Foto : JurnalTimur/Ben) |
Penulis :
Benjamin Tukan
JURNALTIMUR.COM, Masalah Papua bukan sekadar masalah
ekonomi. Masalah yang jauh lebih penting
adalah bagaimana mengakhiri konflik Papua dan menyembuhkan luka batin masyarakat Papua
akibat konflik yang terjadi selama ini.
Dialog Jakarta-Papua yang selama ini banyak diusulkan
berbagai kalangan mesti segera direspon pemerintah. Kantor Staf Presiden
(KSP) dinilai tepat untuk memulai mempertemukan gagasan ini menjadi tindakan
konkret.
Pendapat ini mengemuka dalam Diskusi Publik bertajuk “
Internasionalisasi Isu Papua, Kekerasan dan Agenda Dialog Jakarta-Papua,” yang
berlangsung di Jakarta, Selasa, (13/06/2017).
Pembicara dalam diskusi ini Tokoh Papua Thaha Alhamid,
Rektor Universitas Parahyangan Dr. Mangadar Situmorang, Direktur Imparsial Al
Araf, Ketua Papua Resource Center Amiruddin al Rahab, dan Tenaga Ahli Deputi V
KSP Dr. Theo Litaay.
Al Araf dalam paparannya menilai pemerintah telah gagal
dalam menyelesaikan konflik yang terjadi di Papua. Dia mempertanyakan mengapa semua upaya pendekatan itu gagal.
"Pemerintah mesti refleksi mengapa konflik Papua masih
terus terjadi, sementara upaya pendekatan sudah dilakukan, oleh pemerintah
untuk menyelesaikan konflik Papua," katanya.
Dia menjelaskan, saat Orde Baru pendekatan militer dianggap
opsi pertama dalam meredam persoalan di
Papua, tapi justru 32 tahun operasi militer di Papua tidak meredam dinamika
gejolak di Papua, justru menimbulkan resistensi .
"Lebih lagi implikasi pendekatan keamaman berdampak
pada kekerasan negara yang merujuk pada berbagai fakta pelanggaran HAM,"
jelasnya.
Dikatakannya, otonomi khusus (Otsus) yang dianggap “obat
mujarab” pun akhirnya gagal. Era SBY dengan UP4B juga gagal. Sekarang Jokowi
lebih pada soal ekonomi. Padahal masih banyak masalah konflik yang belum
terselesaikan,” katanya.
Menurutnya,
pemerintah harus mengambil langkah yang komprehensif dalam menyelesaikan
Papua, apalagi pemerintah Jokowi memiliki suara yang sangat tinggi di Papua
saat pemilihan presiden.
" Ada keharusan moral, untuk mengambil jalan yang
lebih, dalam menyelesaikan konflik Papua. Dalam kenyataan pendekatan ekonomi
tidak cukup. Kita membutuhkan jalan baru untuk menyelesaikan konflik Papua. Ide
dialog merupakan jalan baru menyelesaikan konflik Papua," ujarnya.
Senada dengan Al Araf, Dr. Mangadar Situmorang dalam
paparannya mengenai isu-isu internasional tentang Papua, membenarkan bahwa
dialog Papua merupakan cara penyelesaian masalah Papua.
“Persoalan Papua harus diselesaikan melalui dialog sebagai
bagian wujud nyata pertanggungjawaban global pemerintah Indonesia,” kata Dr.
Mangadar Situmorang.
Thaha Alhamid mengatakan pemerintah harus membuka diri membangun formula hubungan dengan orang Papua
di luar negeri. Namun, katanya, masalah Papua tidak berada di luar negeri tapi
di Papua, ujung timur negeri ini.
“Cuma satu, segera buka dialiog dengan Papua. Tidak perlu jalan-jalan ke Papua. Yang lebih penting adalah jalan-jalan
ke relung hati orang Papua,” ujar Thaha.
Menyinggung soal konflik yang terjadi akhir-akhir ini di
Papua, Thaha mengatakan bahwa perlu identifikasi yang jelas atas konflik yang
terjadi, karena tidak semua karena militer dan polisi.
Dia meyarankan setiap terjadi konflik di Papua harus segera
diatasi secara cepat termasuk mengungkap siapa pelakunya sehingga tidak
menimbulkan persepsi yang salah.
Menanggapi kebutuhan
akan Dialog Jakarta-Papua, Amiruddin al Rahab menyarankan agar pemerintah bisa memulai
dengan membicarakan soal dialog dan membentuk tim agar siapa pun yang ingin
membicarakan tentang Papua, tahu tempat menyampaikan.
“ Buat kriteria, siapa yang bisa dilibatkan. Sehingga kita dalam mendiskusikan Papua ada alamat,"kata Amiruddin.
Dia menyarankan agar Kantor Staf Presiden (KSP) harus mengambil inisiatif dan jangan mengharapkan inisiatif datang dari kementerian.
Dia menyarankan agar Kantor Staf Presiden (KSP) harus mengambil inisiatif dan jangan mengharapkan inisiatif datang dari kementerian.

Tidak ada komentar