BreakingNews

Guncangan Politik Timur Tengah, Fluktuasi Dunia Mencekam

Oleh : Hasyemi Faqihudin 
(Peneliti muda soal Politik Timur Tengah)

Tidak habis pikir, keputusan secara prinsip kerajaan Arab Saudi dan sekutunya untuk mengambil sikap memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar karena dipicu oleh pidato kontroversial Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad al-Thani.

Dalam pidato Pada 24 Mei 2017 lalu, yang sempat menjadi kontroversi arena politik timur tengah bahwa Emir Qatar ketika berpidato di sebuah upacara militer yang menyebut bahwa Iran merupakan kekuatan besar dan mengatakan hubungan Qatar dengan Israel tidak dipermasalahkan atau terlebih baik dalam menyandang hubungan diplomatik.

Sehingga kegundahan timur tengah pun semakin sensitif dan menyebut bahwa keputusan ini menduga terbaik dalam sikap pemutusan antar kenegaraan.

Dalam pernyataan Emir Qatar bahwa Iran mewakili kekuatan regional dan Islam yang tidak bisa biarkan, dan tidak bijaksana jika melawan. Iran adalah kekuatan besar dalam stabilitas di kawasan.

Kontroversial ini, yang menjadi pemicu Arab Saudi dan negara-negara Teluk (sekutunya) menjadi diri di dalam daging. Pasalnya, selama ini Iran merupakan musuh bebuyutan mereka dalam berebut pengaruh di kawasan Saudi. Karena menduga Iran sampai saat ini selalu kontradiktif dalam berbagai konflik di Timur Tengah.

Melalui media sosial dalam cuitan dari akun Twitter Menteri Luar Negeri Qatar Mohammed bin Abdulrahman al-Thani. Ia mengungkapkan Qatar akan menarik duta besar mereka dari negara-negara tetangga, termasuk di Mesir, Kuwait, dan Arab Saudi. Titik puncaknya dalam peristiwa ini, Saudi dan Uni Emirat Arab langsung memblokir semua media Qatar, termasuk Al-Jazeera.

Atas fluktuasi yang kian terguncang, kemudian pihak negara Qatar dalam pernyataan resminya menyangkal bahwa akan media sosial twitter mereka telah diretas oleh pihak yg tak bertanggung jawab. Pertanyaannya, kalo toh diretas. Siapa pelakunya? Dan apakah motif ini akan menjadikan boomerang pada peperangan dingin yg sulit untuk di tuntaskan?

Hasyemi Faqihudin
Penulis menduga bahwa, ketika politik timur tengah terombang ambing. Ada dua point yang menjadi dunia termohok. Pertama, dibalik suksesi propaganda hebat ini, tak ayal jika hacker dalam media sosial hingga dapat menyebabkan situasi rumit ini tak menjadi alasan jika ada ranah kepentingan politik adu domba yang diluncurkan stakeholder pemicu peperangan dunia di syuriah dan yaman. Kedua, apabila kegaduhan politik timur tengah ini, dengan adanya stimulus peretasan akun media sosial ini menjadi point utama dalam grasroot pelancaran konflik.

Pada intinya, Terlepas dari benar atau tidak informasi pemberitaan tentang Emir Qatar ini, Arab Saudi dan sekutunya telah mengambil langkah pemutusan hubungan diplomatik yang selama ini telah terjalin erat satu sama lain.

Selain itu, Isu dukungan Qatar terhadap terorisme tersebut dipicu karena Qatar mendukung gerakan Al-Ikhwan al-Muslimun, sebuah gerakan Islam tertua di dunia. Pun ini menguatkan alasan bahwa Qatar benar-benar mendukung sejumlah agenda negeri Iran.

Bahkan Riyadh sendiri juga sudah dinyatakan menutup perbatasannya serta memutus hubungan darat laut, dan udara dengan Qatar. Alasan yang diberikan adalah melindungi keamanan nasional dari bahaya teroris dan ekstremis.

Dalam pengumuman penutupan hubungan transportasi (blokade) atas Qatar. Warga Qatar yang kini masih berada di wilayahnya diberi waktu selama dua minggu untuk kemudian meninggalkan negara mereka.

Tak ayal kegaduhan ini memicu reaksi internasional, termasuk indonesia. Bahkan bisa saja ada effect yang korelatif dalam munculnya issu issu baru yang mencuat. Politik Timur tengah saat ini dalam kaki kaki yang hackers mulanya. Tak tahan banting secara prinsip, tetapi tergoyang juga dalam media sosial. Hal ini diakibatkan kecerobohan negara apabila peretasan ini memang terbukti adanya. Namun jika itu bukan alasan, bombastisnya nya peperangan ditimur tengah akan semakin rill dan berdampak roll continue. (***)


Tidak ada komentar