BreakingNews

Lembata yang Tak Andalkan Tambang

Oleh Helena Beraf


Beberapa tahun belakangan, di Lembata, juga di beberapa daerah lain heboh dengan soal tambang. Ada yang pro, tapi tak sedikit yang kontra. Hingga kini, soal seputar tambang itu pun tak kunjung selesai. Sejumput pertanyaan sederhana bisa diajukan. Apakah tambang satu-satunya jalan menyejahterakan masyarakat Lembata, khususnya mereka yang ada di pedesaan? Apakah tidak ada potensi lain yang tak kalah daya saingnya untuk diberdayakan? Atau, apakah masyarakat belum sepenuhnya mengerti akan potensi daerah setempat yang perlu diberdayakan demi mencapai nilai ekonomis yang tinggi?


Helena Beraf
Kalau dicermati, Lembata sebenarnya memiliki banyak sekali potensi yang “ahaa!!!”, yang belum banyak tersentuh atau dikelola secara baik. Dari ujung timur Kota Lewoleba hingga ujung barat Lembata, di Kecamatan Nagawutung, dari ujung utara, di Kecamatan Ileape hingga bagian ujung selatan, di Kecamatan Atadei, terbentang potensi yang patut diperhitungkan, seperti pertanian, perikanan, perkebunan dan pariwisata. Potensi-potensi ini belum sepenuhnya diurus baik. Padahal,potensi yang luar biasa tersebut mampu memberikan devisa yang besar yang berdampak pada dongkraknya sistem perekonomian di daerah itu, khususnya masyarakat pedesaan yang mungkin terlanjur dikatakan ‘’tertinggal’’.   


Pelbagai potensi itu memang tak bisa cuma dikagumi serupa mengagumi potensi daerah lain. Pengelolaan atas potensi – potensi di daerah sendiri merupakan panggilan semua anak daerah, mulai dari para pengambil kebijakan hingga masyarakat “akar rumput’. Sebaliknya, mengabaikannya bisa berakibat buruk. Jangan sampai datang pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab mengeksploitasi Sumber Daya Alam kita demi kepentingan pribadi dan golongan yang sama sekali tidak menjanjikan kesejahteraan bagi masyarakat.Mereka hanya datang, ambil dan pergi dengan meninggalkan “sisa”, sedangkan kita hanya bisa “mengais”sisa-sisa itu dengan kecewa dan marah. Namun semua itu kerapkali datang terlambat, setelah kita tahu atau rasakan akibatnya.

Banyak Potensi

Kita bisa mencatat banyak tentang potensi daerah Lembata yang bisa diuangkan. Di bidang pariwisata misalnya, ada banyak peninggalan nenek moyang yang masih melekat pada diri masyarakat pedesaan yang dapat “disulap”menjadi wisata budaya yang menarik. Kubur Putih,yang adalah makam raja Kedang yang konon bernilai mistis dan sakti, sumur Tua Laba Suba yang menurut cerita adalah buah pengorbanan seorang gadis Desa Pasir Putih, tradisi pengambilan Nale oleh masyarakat Desa Pasir Putih setiap tahunnya, rumah - rumah adat yang terdapat di setiap desa yang sarat dengan peninggalan nenek moyang yang tentu menunjukkan adanya keragaman etnis atau pun tradisi menangkap ikan paus oleh masyarakat Desa Lamalera. Atau juga di bidang pertanian. Tanah yang subur di Bakan, di Desa Ile Kerbau, Kecamatan Atadei yang selain sangat cocok untuk pertanian, juga menjadi aset wisata yang handal.


Lain lagi yang unik di bidang perikanan. Di Desa Tapobali, Kecamatan Wulandoni, ternyata menyimpan aset yang sangat berharga. Desa yang jika ditempuh dengan sepeda motor membutuhan waktu kira-kira tiga jam itu memiliki banyak sekali Lobster,yang belum banyak diketahui orang. Tapi, yang sangat disayangkan, datang nelayan dari Sumbawa, mengambil lobster-lobster tersebut kemudian dibawa ke daerahnya. Mereka yang untung, sedangkan masyarakat setempat justru jadi buntung. Menurut masyarakat setempat, dalam semalam saja mereka mampu menangkap Lobster hingga ratusan ekor,apalagi jika penangkapan dilakukan setiap hari. Hmmm.....ckk...ckk..ckk,sangat banyak bukan?


Selain itu, nelayan-nelayan yang datang dari Sumbawa tersebut,tidak hanya datang dengan tangan kosong,tapi mereka membawa juga tempat penampungan lobster dengan ukuran yang sangat besar.Lobster-Lobster tersebut dibawa ke daerah mereka dalam keadaan hidup.Dan,apa jadinya jika sampai di sana Lobster-Lobster itu dikembangbiakkan,kemudian digunakan untuk meraup keuntungan,atau dijual pada pihak-pihak pengusaha,misalnya pada pengusaha rumah makan,atau hotel-hotel pada tempat pariwisata. Kita tahu, lobster dapat diolah menjadi makanan lezat yang sangat digemari oleh para wisatawan, baik wisatawan domestik maupun mancanegara.Tak heran jika olahan Lobster banyak ditemui di rumah-rumah makan Bali.Perlu diketahui bahwa makanan yang satu ini dapat dikatakan langka karena keberadaanya yang sulit ditemukan. Kandungan Proteinnya juga sangat tinggi. Sehingga jelas bahwa harganyapun dapat dikatakan tinggi.


Namun selama keberadaan lobster-lobster tersebut disepelekan,mungkinkah mendatangkan keuntungan atau malah sebaliknya?Apalagi akses jalan ke desa tersebut(Tapobali)masih sulit. Jalan-jalan terjal, penuh lubang dan kerikil-kerikil  sangat berbahaya, apalagi ketika datang musim hujan.Mungkin karena itu,orang enggan ke sana untuk melihat sendiri potensi unik di desa yang satu ini. Masyarakat setempat pun belum berpikir untuk mengolah sektor perikanan di wilayah mereka itu.


Lalu, apakah Lobster-lobster malang itu akan tetap dibiarkan,menjadi milik orang lain, menjadi modal pengembangan usaha mereka hingga mampu meraup untung besar? Lalu kita? Apakah kita tetap  terlena dengan iming-iming yang tak pasti,padahal di depan mata kita sudah ada “Umpan dan mata kail”?


Semua potensi yang ada itu amat bernilai. Semuanya berdaya mendongkrak kesejahteraan masyarakat di Lembata. Semua bisa ber-uang. Tinggal saja dikelola, diurus dengan baik. Dalam ilmu ekonomi, dikenal istilah ‘Form Utility”, yang menjelaskan bahwa nilai guna barang amat bergantung pada bentuknya. Suatu barang atau benda akan lebih tinggi nilainya karena perubahan bentuk.Misalkan saja kerang yang banyak ditemui di pesisir pantai kalau dijadikan sebagai hiasan dengan pernak - pernik yang indah,tentu memiliki nilai jual yang tinggi dibandingkan dengan bentuk asalnya yang belum tersentuh dengan kreativitas. Apalagi Lembata yang memiliki wilayah pantai yang sangat indah. Dan justru ekosistem pantai yang kaya dan penuh estetika itu terletak di pedalaman,jauh dari keramaian,dan masih sangat alami. Belum banyak yang mengenal,apalagi berfikir lebih jauh untuk memberdayakan atau ‘menyentuhnya’.


Untuk itu,perlu partisipasi serta dukungan dari masyarakat,  agar sama-sama memberdayakan potensi-potensi itu.Tentu banyak sekali kendala yang akan dihadapi.Kendala itu bisa datang dari dalam maupun dari luar.Namun sebesar apapun kendala yang datang tak boleh dijadikan alasan surutnya usaha serta kerja keras.


Tak Harus Bergantung


  Masyarakat pedesaan yang acapkali dikatakan dekat dengan kemiskinan,sebenarnya mampu membangun perekonomiannya menjadi lebih baik. Ketergantungan  sangat tinggi pada Pemerintah Daerah-lah yang kerapkali mematikan kreatifitas dan usaha masyarakat. Mereka lebih mengenal potensi alam dan karena itu mereka harus lebih diberdayakan untuk sendiri berdaya mengelola potensi-potensi itu.


Memang masalah Sumber Daya Manusia yang rendah masih jadi kendala utama dalam upaya pengelolaan ini. Tapi dengan ini tidak berarti mereka seterusnya bergantung pada pemerintah. Mereka tidak bisa disuap terus. Mereka harus diberdayakan untuk sendiri berdaya. Pola pembangungan “dari atas” harus diubah dengan “dari bawah”. Kalau itu bisa terwujud maka meski hanya mengandalkan Sumber Daya Alam (SDA) misalnya, masyarakat desa semakin hari semakin mandiri, mengurus sendiri urusan perekonomiannya,dan dengan sendirinya pikiran masyarakat pedesaan yang masih”kampungan”akan terbuka,wawasannya semakin luas. Dengan berdaya mereka tidak lagi dikatakan orang kampung yang ketinggalan.


Kalau semua masyarakat desa mengalami hal yang sama tentu Kabupaten Lembata akan sejahtera. Bayangkan saja,jika desa-desa saja sudah mandiri,mampu mencapai sistem perekonomian yang tinggi,tentu pemerintah daerah tidak perlu capek-capek keluarkan dana untuk membantu masyarakat desa dalam pembangunan di desa melalui raskin, BLT atau Askeskin. Sebaliknya, dana raskin atau BLT bisa digunakan untuk hal yang lebih lain, misalkan saja membiayai putra-putri daerah untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi,yang nantinya akan kembali dan mengabdi di desa, Lewo tana tercinta. Dengan demikian daerah kita tidak ketinggalan dari daerah-daerah lain. Malah, tampil lebih bergengsi di antara atau di hadapan daerah yang lain.

Helena Beraf, Mahasiswa Kebidanan di Jakarta. Aktif menulis sejak SMA. Menjuarai berbagai lomba penulisan. 


Tidak ada komentar