Keluarga Berencana dan Peningkatan SDM
Oleh : Helena Lose Beraf
Pembangunan bangsa tak lepas dari Sumber Daya Manusia (SDM).
SDM yang handal adalah penentu suksesnya pembangunan bangsa. SDM mampu
mengorganisir strategi pembangunan bangsa,dengan metode dan keahlian yang
tentunya bersumber dari disiplin ilmu yang
dimiliki.
Jika menilik persoalan di atas sejumput pertanyaan bisa
diajukan. Apakah SDM kita sudah bisa dikatakan handal dalam hal kualitas dan
kuantitas? Jika sudah,mengapa kita perlu “mengadopsi” tenaga dan pemikir dari
luar negeri. Padahal,masih banyak pengangguran yang menjamur di gang-gang
negara.
![]() |
| Helena Beraf |
Nah,, ini karena bangsa ini kaya akan penduduk,namun miskin SDM nya.
Bagaimana tidak,setiap hari begitu banyak ibu yang melahirkan,dengan latar
belakang ekonomi dan SDM yang berbeda. Ibu dengan latar belakang ekonomi dan SDM
yang baik tentu menjalani proses perawatan kehamilan dengan asupan gizi yang
menunjang perkembangan bayi. Sedangkan ibu dengan latar belakang ekonomi dan
SDM yang bisa dikatakan “buruk” tentu saja tidak menjalani perawatan
kehamilan,dalam hal ini asupan gizi yang optimal.
Sementara itu,angka kebutuhan
rumah tangga semakin tinggi. BBM (Bahan Bakar Minyak) terus naik. Harga sembako
pun tak ketinggalan meningkat. Bagaimana seorang suami bisa memenuhi keutuhan
hidup keluarga dengan SDM rendah yang ia miliki? Banyak tanggungan
yang harus ia pikul.
Jika suami yang notabenenya adalah kepala
keluarga,pengayom dan pelindung saja masih sulit untuk memenuhi kebutuhan rumah
tangganya,dikarenakan jumlah anak yang banyak,dalam ruang lingkup keluarga sebagai
suatu komunitas kecil,bagaimana dengan pemerintah memenuhi kebutuhan masyarakat
yang kian hari semakin membludak,dengan lapangan pekerjaan yang sedikit. Ini
bukan merupakan masalah pemerintah saja,namun juga menjadi PR besar bagi kita
semua.
Salah satu program pemerintah guna mengatasi kemiskinan
adalah program untuk menjarangkan angka kelahiran, melalui program Keluarga
Berencana (KB),yang tercantum dalam UU No 52 tahun 2009. Program ini sudah tentu
telah disosialisasikan ke masyarakat. Pertanyaannya adalah apakah
masyarakat sudah sepenuhnya mengerti dan menjalankan program tersebut.
Program KB memungkinkan ibu untuk memiliki rentang waktu
yang cukup untuk pemulihan kondisi rahimnya, memungkinkan ibu untuk bisa
mengurus diri,dan tentu saja kebutuhan rumah tangga bisa terpenuhi.
Coba
bayangkan ibu dengan banyak anak. Kapan ibu bisa mengurus diri. Baru beberapa
bulan melahirkan,sudah ada anak lagi. Proses pemulihan rahimnya belum sempurna.
Ibu harus ekstra kerja, mengurus suami,anak,ditambah kondisi ibu yang sedang
hamil. Apalagi jika status ekonomi
keluarga rendah. Suami tidak bisa
memberi asupan makanan yang bergizi,kurangnya pengetahuan tentang perawatan
kehamilan,ditambah akses ke fasilitas kesehatan yang masih rendah. Akibatnya
proses persalinan bisa saja dibantu oleh tenaga tidak profesional (dukun), yang
tidak menjamin suksesnya proses persalinan.
Program KB berarti,keluarga merencanakan kapan punya
anak,membantu suami dan istri untuk menentukan jumlah anak, dengan selisih
waktu yang memungkinkan kesejahtraan dalam rumah,dimana anak-anak semuanya bisa
disekolahkan, jangan sampai hanya anak pertama,atau anak laki-laki saja yang
disekolahkan ( menurut budaya masyarakat Timur,anak laki-laki penentu keturunan
),mengingat biaya pendidikan yang mahal.
Jangan jauh- jauh berfikir tentang
pendidikan dulu,toh pemenuhan kebutuhan pangan tiap hari saja masih sulit.
Padahal pangan adalah kebutuhan utama. Pemenuhan kebutuhan pangan yang masih
minim membuat anak-anak makan apa adanya,tanpa memperhitungkan kandungan gizi
yang terserap tubuh.
Coba kita cermati kondisi geografis di provinsi kita, Nusa
Tenggara Timur, misalnya, yang beriklim tropis dengan padi, jagung,ubi,sagu adalah bahan makanan yang sudah familiar sampai pada
masyarakat “akar rumput”, sementara pekerjaan masyarakat pada umumnya adalah
bertani.
Tentu jagung,padi,ubi,dan sagu adalah santapan “lezat” bagi anak-anak
mereka” walaupun kita tahu,makanan seperti itu mengandung karbohidrat,membuat
kenyang,menambah tenaga untuk beraktivitas,tapi tidak membantu dalam
perkembangan motorik anak,dimana membantu anak berfikir kritis.
Tak banyak
orang tua yang berfikir pemenuhan gizi bagi anak,tak ada uang tuk membeli
susu..Asal kenyang, tak apalah.Gizi urusan kemudian. Secara tak sadar,kita sendirilah yang
memperburuk kondisi SDM bangsa kita. Lewat perilaku-perilaku sederhana
itu,setidaknya kita membantu memberikan andil terhambatnya pembangunan bangsa.
Anak-anak bangsa yang adalah tonggak pembangunan,malah tidak
mendapat pendidikan yang layak akibat orang tua yang masih mendahulukan
kepentingan lain( Tentunya kebutuhan makan dan minum setiap hari).
Di samping
itu,pembangunan terus berjalan. Lahan kosong pun seolah habis termakan proyek.
Lalu,dengan angka kelahiran yang tinggi,pertambahan populasi manusia,dimana lagi
tempat orang-orang mencari nafkah? Duuuuuh,,,,rumit juga akibatnya jika
penduduk kian membludak.Sementara itu begitu banyak kasus kejahatan dan
kriminal yang tentunya bertolak dari kondisi ekonomi yang buruk,sementara
kebutuhan terus meningkat.
Kembali pada masalah KB. Program KB yang ditawarkan oleh
pemerintah kurang mendapat respon yang baik oleh masyarakat. Mengapa demikian?
Ada yang berasumsi bahwa program KB membatasi jumlah anak,sementara ada
kepercayaan dan persepsi bahwa semakin banyak anak,semakin banyak rejeki dalam
keluarga tersebut.
Ada juga anggapan bahwa prorgam KB melanggar perintah
Allah,”beranak cuculah,bertambah banyak dan penuhilah muka bumi”.Sementara itu
persepsi lain adalah perasaan takut penggunaan alat kontrasepsi membahayakan
ibu. Hal ini merupakan kendala gagalnya metode KB.
Mengapa perlu takut? Toh sudah ada bidan yang akan membantu
menerangkan mengenai metode dan alat kontrasepsi yang cocok bagi setiap
pasangan. Perasaan takut yang sudah sudah terlanjur melekat dalam benak pasangan
yang membuat mereka enggan untuk berkonsultasi ke bidan atau tenaga kesehatan
lain.
Setiap orang mestilah berasumsi bahwa respon tubuh setiap individu
berbeda terhadap alat kontrasepsi yang ia pakai. Persepsi lain bahwa”banyak
anak berarti banyak rejeki merupakan kepercayaan “kolot” yang belum tentu
kebenarannya.
Bagaimana tidak..kebutuhan rumah tangga setiap hari harus
tercukupi,sementara biaya tanggungan anak semakin banyak. Berapa anak yang bisa
disekolahkan sampai perguruan tinggi? Sementara
status ekonomi keluarga kurang baik.
Lain halnya asumsi masyarakat
mengenai perintah Allah” beranak cuculah dan bertambah banyak,penuhilah muka
bumi.” Allah berfirman demikian agar setiap manusia berhak hidup,tidak ada
janin yang diaborsi,..coba kita berfikir,jika banyak anak,sementara orang tua
tidak bisa memberikan gizi yang baik,membiayai sekolah sampai perguruan
tinggi,menelantarkan, lantaran kondisi ekonomi yang memprihatinkan. Apa itu
bukan dosa? Anak yang dihadirkan ke dunia bukan hanya semata-mata karena kebutuhan
biologis,bukan hanya untuk dirawat atau dijaga,namun lebih dari
itu,pengembangan kompetensi perlu dperhatikan,demi kelangsungan hidupnya di
hari depan.
Apa kita masuh berfikir program KB merugikan? Tidak ada
salahnya mencoba..Metode KB bukan hanya menggunakan pil,kondom,implan dan
sebagainya,namun juga menggunakan metode alami,tanpa obat dan bahan kimia ,
seperti metode kelender,mal,pengamatan lendir,dan sebagainya.Mengapa mesti ragu
dan takut?
Masyrakat mesti percaya,program yang dicanangkan pemerintah tentu
telah melewati uji klinis yang baik. Apa yang dicanangkan pemerintah,pasti
bermanfaat dan demi kesejahtraan masyarakat. Semakin sedikit angka kelahiran,
semakin tinggi derajat hidup kita,lapangan pekerjaan dapat terisi,karena
anak-anak bangsa bebas menimba ilmu setinggi-tingginya tanpa terbelit masalah
ekonomi. SDM semakin cemerlang ,ibu pertiwi akan tersenyum, dan bangsa kita tak
ketinggalan dari bangsa lain,malah akan tampil lebih bergengsi.
Helena Beraf, Mahasiswa Kebidanan di Jakarta. Aktif menulis
sejak SMA. Menjuarai berbagai lomba penulisan.

Tidak ada komentar