Dokter Hyron Fernandez, Bakal Calon Gubernur NTT
JURNALTIMUR.COM,- Jelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada)
Flores Timur yang berlangsung Februari 2018 lalu, nama Dr.dr.Hyronimus
Agustinus Fernandez, M.Kes sempat
disebut-sebut sebagai bakal calon bupati Flores Timur.
Sebutan nama dr Hyron, sapaan dr.Hyronimus Agustinus
Fernandez memang pantas karena ia adalah birokrat asal Flores Timur yang ada di jajaran pemerintahan Provinsi NTT. Ia lama di Larantuka ibukota Kabupaten
Flotim sebagai dokter dan kepala rumah
sakit di sana.
Hingga penetapan calon Bupati Flotim, sebutan dr. Hyron akan menjadi bakal calon Bupati berlalu. Ia tak bergeming walau ia disebut sangat
pantas mengikuti “kompetisi” pimpinan Flotim itu.
Dr. dr. Hyron sekarang tugasnya di Kupang. Dari Kupang
ternyata matanya tidak hanya melihat kampung halamannya, tapi justru lebih memandang
hamparan nusa tenggara nan luas itu. Perjalanan waktu, ternyata ia disebut akan menuju kursi NTT 1 menjadi
gubernur NTT.
Dari Kupang namanya sebagai bakal calon gubernur NTT
Pemilihan Gubernur 2018 mulai ramai disebut. Tapi lagi-lagi beberapa pihak masih menanyakan
dari partai mana Hyron akan dicalonkan? Maklum ia birokrat dengan pembawaan
yang tenang. Sulit menerka, karena langkahnya tak secepat calon-calon yang datang
dari politisi.
Tapi kenyataan, bagai perahu yang tinggalkan pantai, sejauh
mata memandang ia sudah jauh berlayar mengarungi selat , bermain dengan
gelombang yang selalu mengajaknya menepi. Sejauh mata memandang, ia berada di
tengah samudra pembicaraan Pilgub NTT.
Hyron memilih posisi sebagai pemimpin NTT karena sangat strategis mengubah wajah
NTT. Maklum keberdaan gubernur NTT dari masa ke masa hanya berkutat pada urusan
yang satu ini membawa keluar NTT dari kemiskinan.
Kendati perubahan berjalan tertati-tati, ada keyakinan bahwa pemimpin NTT yang akan datang harus memiliki integritas, elektabilitas dan kompetensi. Hyron pun memenuhi kriteria itu.
Kendati perubahan berjalan tertati-tati, ada keyakinan bahwa pemimpin NTT yang akan datang harus memiliki integritas, elektabilitas dan kompetensi. Hyron pun memenuhi kriteria itu.
Dr.Hyron menamatkan pendidikan sarjana kedokteran tahun 1982
dari UGM dan profesi dokter tahun 1985. Selepas pendidikan profesi ini, dr.
Hyron mengabdi sebagai dokter di desa Hadakewa Lembata sebagai Kepala
Puskesmas. Tugas-tugas ini diembannya dari 1985-1992. Dalam kurun waktu
tersebut dia juga dipercayakan menjadi Direktur RS Bukit Lewoleba 1986-1989.
Dari Lewoleba dr. Hyron pindah ke Larantuka, menjadi Direktur RSUD Larantuka
1992-1995.
Dalam mengemban tugas eksekutif, dr.Hyron mulai berpikir out
of the box. Baginya jauh lebih arif mendidik masyarakat untuk hidup sehat
ketimbang mengobati mereka kalau sudah sakit. Pemikiran ini kemudian
direalisasikan dalam Lembaga Swadaya Masyarakat yaitu “Yayasan Bina Sejahtera”
yang didirikannya tahun 1987 dan “Yayasan Mitra Sejahtera” tahun 1993, yang
kemudian mengkristal dalam studi magisternya.
Studi S2-nya tidak difokuskan dalam teknis pengobatan atau
perlakuan pasien melainkan dalam pemikiran kesehatan masyarakat. Dr.Hyron
secara tidak tanggung-tanggung melakukan penelitian di 54 RSUD yang terbentang
dari Jawa Timur, Bali hingga NTT. Tesisnya berjudul Pengaruh Pemahaman dan
Persepsi Manajer Rumah Sakit Umum Kabupaten terhadap Orientasi Pemasaran Rumah
Sakit.
Dokter Hyron selalu berpikir lebih tentang bagaimana
seharusnya menciptakan sebuah kondisi bagi masyarakat yang sehat jiwa raganya.
Dua tahun kemudian dr. Hyron mengambil studi S3. Disertasinya berjudul Pengaruh
Komitmen Manajemen pada Komitmen Individual, Budaya Organisasi dan Kinerja
Rumah Sakit Nirlaba – Model Diagnosis Budaya Organisasi Untuk Pengembangan RS
Kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat dan Bali Dengan
Pendekatan Analisis Multilevel.
Secara sedernana, yang dicari dr. Hyron dalam studi-studi akademis-nya
adalah bagaimana merancang manajemen rumah sakit atas cara yang menguntungkan
dan memberdayakan pasien, sekaligus memberdayakan pemerintah daerah.
Dapat dilihat di sini, dalam mengemban tugas dr. Hyron tidak
berorientasi pada pencarian keuntungan finansial dengan duduk berjam-jam di
balik meja praktik, melainkan berpikir dan terus berpikir tentang bagaimana
mendidik masyarakat untuk hidup sehat sehingga mereka tidak terbebani
biaya-biaya besar pengobatan.
Cerita tentang Hyron kecil selalu dengan prestasi-prestasi
di sekolah. Di TK Laeticia dan SDK St.Cornelius Larantuka (1964-1970) Hyron
kecil sudah menjadi ketua kelas dari kelas I-VI. Di SPMK San Pancratio
Larantuka (1971-1973) Hyron remaja kembali memperlihatkan bakat memimpinnya
dengan menjadi ketua kelas, anggota Pramuka, dan atlit menembak. Di SMA
Syuradikara Ende yang ditamatkannya tahun 1976. Hyron, sejak kelas I sudah
menjadi anggota Presidium Asrama (pemimpin kolegial).
Selanjutnya di UGM di mana Hyron menjalani pendidikan
kedokteran, menjadi asisten anatomi, Pengurus Harian Senat Mahasiswa, anggota
Badan Perwakilan Mahasiswa, anggota PMKRI, penatar P4 bagi PMKRI, aktivis
Keluarga Mahasiswa Kristiani, Ketua Tingkat dan Ketua Keluarga Lamaholot.
Setelah bekerja, bakat kepemimpinan dr.Hyron diaktualisasi-kan melalui empat
lini yaitu ASN, profesi dokter, LSM dan Gereja.
Dalam kapasitasnya sebagai PNS, dr.Hyron – setelah 12 tahun berkarir sebagai dokter dan 6 tahun pendidikan pasca (S2 dan S3) – dalam kurang lebih 15 tahun terakhir berkonsentrasi pada thinktank pemerintahan provinsi dengan keterlibatan secara teknokratik pada penyusunan substansi kesehatan dalam RPJMD Provinsi NTT Tahun 2008-2013 dan Tahun 2013-2018 dan menjadi Staf Ahli Gubernur Bidang Politik dan Pemerintahan, Sekretaris/PLH Kepala Bappeda Provinsi NTT, dan Widyaiswara Ahli Madya yang menjadi coach untuk pemimpin perubahan bagi ASN eselon III dan IV sampai dengan sekarang.
Dalam kapasitasnya sebagai PNS, dr.Hyron – setelah 12 tahun berkarir sebagai dokter dan 6 tahun pendidikan pasca (S2 dan S3) – dalam kurang lebih 15 tahun terakhir berkonsentrasi pada thinktank pemerintahan provinsi dengan keterlibatan secara teknokratik pada penyusunan substansi kesehatan dalam RPJMD Provinsi NTT Tahun 2008-2013 dan Tahun 2013-2018 dan menjadi Staf Ahli Gubernur Bidang Politik dan Pemerintahan, Sekretaris/PLH Kepala Bappeda Provinsi NTT, dan Widyaiswara Ahli Madya yang menjadi coach untuk pemimpin perubahan bagi ASN eselon III dan IV sampai dengan sekarang.
Di bidang profesi sebagai dokter dan ahli kesehatan
masyarakat selain dua kali menjadi direktur RS, dr.Hyron juga mendirikan
beberapa Yayasan sebagai wadah pengembangan swadaya masyarakat dan pencerahan
hidup sehat. Kiprahnya dalam pemberdayaan masyarakat mengantarnya menjadi
anggota seumur hidup dari Ashoka Internasional Indonesia sejak 1992.
Dr.Hyron adalah dosen pada Fakultas Kesehatan Masyarakat dan
Fakultas Kedokteran serta Program Pendidikan Pascasarjana Universitas Nusa
Cendana. Dalam pada itu dr.Hyron juga menjadi Surveyor Komite Akreditasi RS dan
Ketua Tim Kajian Teknis Badan Kerjasama Kesehatan Wilayah NTT selain Ketua
Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Provinsi NTT sejak tahun 2008.
Sebagai warga Gereja Katolik dr.Hyron terlibat dan menjadi
koordinator Marriage Encounter Keuskupan Agung Kupang. Agama bagi dr.Hyron
bukanlah sekedar kegiatan seremonial dan alat legitimasi sosial.
Sebagai provinsi terdepan yang berbatasan dengan Australia
dan Timor Leste rasanya perlu menghadirkan seorang gubernur yang bisa
berkomunikasi baik di tingkat nasional maupun di tingkat internasional secara
elegan.
Pengalaman dr.Hyron sebagai Tenaga Ahli pada Sector Program
Health (SPH) Kerjasama Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Jerman, Program
Australia Indonesia Partnership for Health System Strengthening (AIPHSS)
dibawah naungan Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Pemerintah
Australia (2013-2016), juga pengalamannya sebagai peserta pada Training of
Trainer on Human Resources Development, kerjasama Bappenas RI, Universitas
Indonesia dan Ritsumeiken University, Tokyo (2009) dan Training on Social
Protection Floor (SPF), ILO-ITC, Bangkok (2010) bisa menjadi dasar bagi kita
untuk menampilkan Hyron sebagai kandidat gubernur untuk sebuah provinsi
terdepan.
Atas semua prestasinya, dr.Hyron, yang di masa mudanya sudah
mendapat penghargaan sebagai dokter Puskesmas teladan, lulus Cum Laude pada
program studi magister administrasi dan kebijakan kesehatan Universitas
Airlangga, di puncak kariernya dianugerahi penghargaan Satya Lencana Karya
Satya 30 tahun berkarya dari Presiden Jokowi (2015) dan penghargaan yang sama
dari Presiden SBY untuk 20 tahun berkarya.
Biduk telah membawanya mengarungi tasik dan samudera. Angin
membantu, laut tenang tapi tak terasa. Kapal itu berlabuh di atas kota karang-kota
Kupang. Akankah ia dilirik sebagai pemimpin NTT yang membawa harapan baru? Kita
tunggu saja. (Benjamin Tukan)

Tidak ada komentar