BEREUN Memimpin Flotim, Masihkah Kemah Groupthink Kita Belum Dibongkar?
Negeri Flores Timur dikenal bukan karena negeri penghasil Jambu
Mente. Juga bukan karena di negeri yang disebut Lewotanah Lamaholot ini memiliki
kekayaan di laut, ikan maupun keindahan pantainya. Tetapi yang dikenal tentang
negeri di ujung timur Flores ini adalah tradisi Semana Santa. Semana Santa, sebuah tradisi yang menjadikan
seseorang menghayati tradisi itu, untuk takut akan Allah.
Dan ternyata, takut
akan Allah adalah salah satu karunia Roh Kudus. Lantas ada pertanyaan yang
muncul dalam diri saya. Apakah frase takut
akan Allah membuat siapapun yang
menghayati tradisi Semana Santa itu menghindari rahmat dan kebaikan Allah karena takut sudah
berdosa, dan di depan banyak orang melaksanakan
perintah-perintah Allah secara terpaksa?
![]() |
| Antonius Gege Hadjon ST dan Agustinus Boli SH , Bupati dan Wakil Bupati Flores Timur 2017-2022 ( foto : dok. BEREUN) |
Jelas, bukan itu yang dimaksudkan oleh karunia tersebut.
Sebab yang dimaksudkan dengan takut akan
Allah dalam konteks tulisan ini, siapapun yang mengaku anak-anak Semana
Santa, anak-anak Kota Renha, anak-anak Lamaholot yang percaya pada “Tuan Lera
Wulan Tanah Ekan” akan akan berusaha melepaskan kelekatan pada cinta diri dan
kelompok (egoisme) dan dengan penuh kerendahan
hati saling berpegangan tangan untuk memajukan iman menjadi berusaha memajukan
Lewotanah Flores Timur (Flotim) tercinta.
Sebab, jika kita tidak takut akan Allah, kita akan tidak
akan sanggup menjadi sabahat (bereun)
bagi yang lain, dan menjadi homo
economicus. Maksudnya, manusia akan ngotot promosikan dirinya sendiri,
karena setiap aktivitasnya digerakkan oleh kalkulasi berbasis kepentingan diri
sendiri.
Lantas, dalam perspektif komunikasi antar kelompok, mereka
yang ngotot mempromosikan ambisi diri sendiri dan kebenaran kelompoknya,
disebut groupthink. Groupthink tentu tidak
salah, sejauh anggota kelompok mampu berpikir terbuka pada kebenaran lain yang
dikedepankan kelompok-kelompok sahabatnya.
Groupthink di Flotim, Lompatan dari Homo Economicus ke “politik
imajiner”
Komunikasi ala groupthink
ini muncul pada saat pilkada serentak di Flotim beberapa bulan lalu. Setelah
pelaksanaan pilkada, semua pihak mengklaim menang dan berusaha
mengkonstruksikan opini publik bahwa pihak yang menang dalam hitung cepat melakukan
rekayasa data. Konstruksi opini dirancang dalam komunikasi groupthink itu.
Groupthink
ini mempunyai tujuan linear, harus menang, tidak boleh kalah. Semua yang ada di
luar kawanan groupthink itu, walauapun
kodratinya mereka satu suku bahkan sepupu dari keturunan ayah atau mama, satu kampung,
sahabat dalam diskusi, atau saling mentraktir makan siang supaya makan siang
tidak gratis, ternyata akhirnya hancur karena terjebak dalam groupthink, dan tidak mau memahami apa
itu groupthink.
Setelah berpikir agak lama, saya akhirnya mengerti mengapa
manusia Lamaholot begitu cerdas meramu groupthink menjelang pilkada? Dan
groupthink ini kebanyakan didesain oleh anak-anak Lamaholot yang berada di pusat Negara. Apakah karena lapangan pekerjaan di Jakarta, belum
mampu mengakomodir dunianya yang masih dalam level “imajiner?” Padahal
Fullbrook mengatakan, siapapun juga harus keluar dari dunia imajiner.
Sebut saja, di kampung Basira, Desa Patisira Walang,
Kecamatan Tanjung Bunga, signal handphone juga belum ada, jalan untuk mobil
sudah berubah jadi kali dan dipenuhi batu-batu wadas. Lantas saya sebagai anak Lewotanah
Basira yang tinggal di kota lain di Flores,
tentu tidak berimajinasi agar Basira bisa melompat jauh seperti kota Maumere, Labuhan
Bajo, atau Kupang. Jika saya berimajinasi demikian, saya sedangkan mengkonstruksikan
imajinasi menjadi realitas. Dan mimpi saya berisi pesan hyperealitas.
Sedangkan temanku Sinyo, orang Nagi, tidak mungkin dipaksa
untuk berimajinasi agar kota Larantuka
disulap dan melompat jauh agar menjadi seperti Kota Surabaya dalam suatu masa
pemerintahan Bupati Flotim. Mimpi Sinyo, bukan berkutat pada bagaimana soal strategi untuk bekerja, tetapi memaksakan hyperealitas dibumikan.
Dua pengandaian di atas menunjukkan seseorang yang tidur
dalam imajinasinya sendiri, tetapi setelah bangun dari tidur mengkalkulasikan
secara paksa agar dunia ini berubah. Ia ingin agar dunia melompat jauh mendekati mimpi pribadinya. Pada tahap seperti ini, tukang mimpi tidak bedanya dengan manusia yang obsesif dan idealis. Ia hanya bisa
merancang angan-angan, oleh karenanya tidak ada kerangka berpikir yang metodologis, sehingga yang terbaca adalah rekayasa sosial dan kapitalisasi persepsi.
Sesungguhnya rekayasa sosial dan kapitalisasi persepsi seperti ini, hanya menghasilkan
sebuah iklan politik yang sesaat bisa mempengaruhi khalayak. Sehingga tak heran, dalam hitungan hari dan minggu, iklan politik itu mempengaruhi khalayak untuk
masuk dalam groupthink para perancang hyperealitas, karena khalayak terjebak dalam mentalitas dan "budaya seolah-olah" membutuhkan merek baru itu. Di balik itu, realitas yang sesungguhnya adalah khalayak sudah terjebak dalam silaunya merek itu, karena dasyatnya framing medsos, ditambah hasutan dalam komunikasi antar kelompok. Pada saat itu, awareness khalayak bertransformasi dari takut akan
Allah kepada takut akan pesan-pesan hyperealitas.
Keluarlah
dari jebakan hyperealtas, saatnya membangun
desa dan menata kota
Khalayak, dalam hal ini warga Flotim tidak memahami sebelumnya
bahwa untuk menyulap kalkulasi manual ke digital, realitas obyektif menjadi
hyperealitas, program atau visi yang realistis kepada program yang imajiner, tidak
semudah membalikan telapak tangan. Semestinya para penumpang motor pagi atau
siang dari Larantuka ke Waiwerang, mengetahui, bahwa untuk meloncat dari motor
ke dermaga Terong saja butuh tangga, apalagi melompat jauh dari pelabuhan Terong
ke kota Waiwerang, masih membutuhkan ojek, dan transportasi lain, yang jelas
bukan helikopter atau susi air.
Warga Lamaholot pun tidak memahami bahwa menjelang dan setelah
pilkada Flotim kemarin, hegemoni politik berhasil dimainkan oleh anggota
keluarga kita, orang sesuku kita, yang selama ini begitu puas tidur dalam
imajinasinya, dan tiba-tiba muncul sebagai politisi-politisi di luar panggung yang
menitipkan konstruksi mimpinya kepada jagoannya setiap kali menjelang pilkada.
Saya menyebut politisi di luar panggung, karena pemerintahan
Flotim saya lihat dari perspektif dramaturgi. Dalam konsep dramatugi, hanya ada
panggung depan dan panggung belakang. Panggung depan adalah pemerintah Flotim
dan aparatur Negara di wilayah kerjanya sebagai eksekutif, DPRD Flotim sebagai legislator
dan Kuasa Kehakiman sebagai Yudikatif. Sedangkan di panggung belakang, adalah
warga Lewotanah yang selama ini ber-KTP Flotim, dan tetap setia membangun hidupnya
di nagi tanah Lamaholot.
Sedangkan politisi di luar panggung adalah mereka yang
biasanya bergerilya menjelang pilkada yang menitipkan mimpi perubahan berderajat
utopia kepada setiap calon pemimpin. Disebut utopia, karena mimpi-mimpi itu
tidak mempunyai kalkulasi terukur dan realistis tentang apa yang ingin dirubah.
Mimpi-mimpi itu hanya menang dalam kapitalisasi isu dan fitnah lewat kampanye
hitam terhadap mereka yang sudah bekerja untuk gelekat lewotanah.
Perubahan dalam konteks Flotim, bukan ditentukan oleh mimpi
sekedar idea dan selesai pada diskursus di group-group media social, tetapi
gerak yang mengalir seperti sungai dan menata sesuatu yang sudah ada sebagai perubahan
(panta-rhei), seperti dikatakan Filsuf Yunani, Herakleitos.
Untuk itu, sudah sudah saatnya kemah groupthink politik
imajiner harus dibongkar. Siapapun harus keluar dari mimpinya untuk melompat
jauh, dan belajar rendah hati untuk membangun kampung atau desa dan menata kota.
Negeri Lamaholot selama ini hanya dikenal karena Semana
Santa, tetapi kota Renha tidak maksimal ditata. Infrastruktur berkiatan wisata religious,
tidak diperhatikan. Banyak umat Katolik di Jakarta mengeluh karena setiap kali
mengikuti prosesi di Larantuka, mereka kesulitan mendapatkan hotel, juga
penerbangan ke Larantuka tidak semudah ke kota lain di Flores.
Beberapa umat lain mengeluh tentang kuliner di kota Larantuka.
Walaupun pada umumnya, mereka sangat mengakui pantai-pantai di Flotim begitu
eksotik, tenunannya begitu kaya dan indah.
Secara tidak langsung, umat Katolik di Jakarta ini
mengkomunikasikan kepada saya bahwa, orang Flotim sebaiknya tidak terlalu lama
tidur dalam imajinasi politiknya, tetapi kembali lah normal menjadi homo
economicus lagi dan mulailah bekerja membangun desa dan menata kota. Saatnya kita bukan lagi anggota groupthink
masing-masing kandidat, tetapi kita adalah bereun, sahabat untuk memajukan
kebaikan bersama di Flotim. Berilah kesempatan kepada pengumpul jambu mente untuk memimpin Flotim dan sekaligus mempromosikannya, agar negeri kita tidak hanya dikenal karena Semana Santa tetapi juga dikenal penghasil jambu mente terbaik. (Stefan Kelen Pr-Romo Diocesan Pangkalpinang dan jurnalis)

Tidak ada komentar