BreakingNews

Baleo, Seruan “Dari” dan “Ke” Lembata

Foto Ilustrasi : Penangkapan Ikan Paus di Lamalera. (Sumber Foto : FB Paskalis Bataona)

Oleh : Helena Lose Beraf


Ketika orang “besar” tengah sibuk dengan persiapan pelantikan Bupati Lembata, Organisasi Daerah Keluarga Besar Mahasiswa dan Pemuda Lembata Jabodetabek  ( Kemadabaja) justru sibuk mempertontonkan kreasi unik daerah tercinta Lembata. 


Tarian Baleo (Sebuah tradisi penagkapan ikap paus dengan menggunakan alat tradisional ) dan tarian Taan Tou (tarian dengan maksud merangkul keberagaman tradisi, budaya, bahasa yang beragam di Lembata) hari itu, 


Sabtu 20 Mei 2017 dengan sederhana justru mampu membuat penonton berdecak kagum. Ramuan gerakan, tabuan gendang, dentingan gong serta sayup sayup pandangan penonton menjadikan aula margasiswa Perhimpunan Mahasiswa Khatolik ( PMKRI) , Menteng Jakarta Pusat seakan disulap menjadi panggung Lembata tercinta.


 Kerinduan balik kampung benar benar terpuaskan disini. Hening, remang, jeritan BAALEEEOOO!!!!! Kontras dengan semangat kebangkitan Nasional hari itu.


Helena Lose Beraf
Ketua Kemadabaja ( Saudara Askar Ratulela)  ditemui dilokasi mengungkapkan perasaan gembira dan terharu dengan perjuangan teman –teman, selama 2 minggu dengan minimnya dana dan kesibukan masing- masing namun malam itu mampu menggoncangkan panggung Barisan Anak Timur Universitas Bung Karno.


“ Ini bukan kali pertama kami tampil, ini adalah kali ke empat kemadabaja tampil memukau dengan khas tarian Baleo, saya benar benar bahagia memimpin team yang sama punya mimpi membangun Lembata dari jauh.”


“Tradisi “ dan cita cita anak bangsa.


Mengagumi tradisi tak sebatas berujar seraya bedecak kagum. Karna layaknya manusia tradisi pun hidup dan tumbuh bersamanya.Menghidupi tradisi adalah panggilan semua putra dan putri daerah tak terkecuali.Layaknya manusia perlu mengaktualisasikan diri (kebutuhan puncak manusia menurut piramid Abraham Maslow)tradisi perlu “digerakan”,sehingga membuming sampai ke pelosok.


Memahami budaya adalah mati tanpa aktualisasi terus menerus agar tak punah.Tradisi dan masyarakat akar rumput adalah kesatuan yang tak bisa terpisah. Untuk itu pemberdayaan mereka (masyarakat desa) adalah cara memelihara dan  menghidupi tradisi. Sebab dari mereka tradisi dikemas dan diceritakan untuk selanjutnya diaktualisasikan sampai pada pelosok negeri.


Tradisi ( latin : Traditio ) artinya” diteruskan “ sebagai nafas budaya, darah dan benih dari Rahim ibu pertiwi. Saya rasa Kemadabaja t’lah mengambil peran penting dalam proses aktualisasi ini.


Kota Jakarta dengan segala hiruk pikuk hiburan, peluh berceceran mengais nafkah, tatap tegap agungkan cita cita seperti sejalan dengan semangat cinta daerah “ Lembata Helero “..Ina, Ama..ada rindu” serewi” Lembata. Rahim Lembata, air dan tanah ikut merawat sampai tegap dan cerdas. Pantaslah cinta itu dibalas sampai tuntas.


Baleo bergema memanggil pulang


“Mari Kita ke pantai” rupanya berbeda makna dengan “ Mari melaut!!!” Mana yang saudara pilih, ajakan pertama atau kedua. Sudahlah sekarang biarkan dahulu saya yang memilih. Mari melaut berarti mengajak “ bertempur” tak sebatas mengagumi deburan ombak datang diam diam mengguncang karang pantai..yahh..ombak dan karang pantai memang tak selalu sejalan. Angin buritan memanggil petarung ( lamafa : juru tombak ikan paus)  keluar dengan semangat yang menyala nyala, tombak ditangan sambari tanda kemenangan ( Ama Lera Wulan Tana ekan / sebutan untuk Tuhan) dikemas mesra dengan restu Lewotana dan air suci .  Mari berfikir lagi, Mari kepantai atau mari melaut.


 Seperti  buih ombak mencumbu karang yang keras, ulang dan ulang lagi,,pantai berdesir nyanyikan rindu pada hamparan pasir, buihhh bercecer sampai hilang. Laut dan segala isinya adalah teka teki mahadashyat yang susah dipecahkan kecuali langsung “mencebur” di dalamnya.


Baleoooooo…Baleo…baleo..! Seruan mengumpulkan tekad seketika keluar dari mulut sang “ petarung” sekaligus membawa sejuta harapan masyarakat lamalera “ membaur” dalam laut sumber hidup mereka.Ibu,, anak- anak dan pemuda pemudi berujar doa seraya memberi semangat.  Alam memang berpihak pada bumi Lamalera, bersama nenek moyang yang mati dilaut dengan menghantar langsung mamalia besar ini untuk kehidupan masyarakat yang mungkin terlanjur dikatakan “tertinggal”.


Pledang dan tombak sudah siap,Tai ti lefa!!!


Angin sakau dan nyanyian pelikan beramai ramai menghantar Pledang petarung pada tubuh Paus. Semburan Paus memecah sampai tinggi, bahkan lebih tinggi dari kepala sang lamafa. Jangan salah, ini kobaran semangat yang tak bisa  diukur oleh apapun. Tatap tajam tak berkedip, konsentrasi, taktik dan siasat perang mungkin dipakai disini. Saya lebih terkesan pada cara lamafa berargument dengan laut, membaca gelombang dan “membuat perjanjian” . Ini sungguh luar biasa.


Loncatan geram lamafa, mendaratkan tikaman pertama ketubuh paus sekaligus membenamkan harapan akan kebutuhan masyarakat banyak. Tikaman pertama pada focus yang tepat dengan restu leluhur. Untuk kesekian kalinyaa, saya merinding kagum. Pion itu tlah menjalankan tugasnya.


Satu persatu hujaman tikaman mulai berdatangan, sapuan ombak tak henti memberi semangat. Kerja keras dan kekompakan memang konsep yang perlu dibuktikan  demi mimpi yang “keras”.


Tak hanya itu petarung sejati adalah berani menjadi pion untuk dicontohi semangat bertarung dan berkorban. Pekikan baleo, seruan adat dan pledang yang sederhana justru cukup mematikan “Cetacea” sang mamalia laut  besar ini. Lautan biru berubah merah!


Hamparan pasir yang semalam bercinta dengan pantai, hari itu “beralih fungsi” menjadi tempat tidur sang Cetacea sambari menunggu satu demi satu bagian tubuhnya “dilucuti” untuk menghidupi para janda, anak, istri orang tua dan tak lupa “ bagian leluhur”.


Senyuman bahagia terpancar, sbab kita telah menang dari “pertempuran sengit” melawan egois demi mimpi yang “keras”


Yahh, dapat dikatakan masyarakat lamalera selalu meracik alamnya secantik mungkin dengan adat dan nilai religius yang sangat kental sehingga aktifitas ini tidak semata mata sebagai bagian dari upaya konsumtif namun lebih pada ritual adat dan mengaktualisasikan budaya pada Rahim Lembata.


Saya tidak hanya jatuh cinta pada pesona alamnya, namun lebih pada tradisi yang memanusiakan manusia.


Salam ke Lembata, Tuhan dan lewotana memberkati !!!



  Helena Beraf, Mahasiswa Kebidanan di Jakarta. Aktif menulis sejak SMA. Menjuarai berbagai lomba penulisan.

Tidak ada komentar