Gonjang-ganjing Politik Jelang Pilgub Papua 2018
Oleh : Paskalis Kossay
Berawal dari penggeledahan KPK di ruang kerja Kepala Dinas
Pekerjaan Umum Provinsi Papua pada medio Februari 2017 lalu, Gubernur Papua
Lukas Enembe langsung menyikapi dengan begitu emosional, mengancam akan perang
dengan pihak-pihak yang mengganggu proses pelaksanaan pembangunan daerah.
![]() |
| Paskalis Kossay |
Pernyataan tegas Lukas Enembe tersebut menjurus kepada
tokoh-tokoh lain yang bersiap-siap maju sebagai calon Gubernur dalam Pilgub
2018. Tak segan-segan, dalam sebuah apel upacara ASN tingkat Provinsi Papua,
Lukas Enembe langsung menuduh pihak-pihak yang mencoba mengganggu kebijakan
pembangunan yang dijalankannya demi kepentingan politik Pilgub 2018.
Tidak lama setelah itu pada awal Maret 2017 lalu , Lukas
Enembe kembali mengeluarkan pernyataan tegas mengusir Kapolda Papua keluar dari
Papua. Dan juga menuding institusi Polri di Papua ikut merusak pelaksanaan
Pilkada serentak 2017 di 11 daerah kab/kota.
Pernyataan tegas Lukas Enembe tersebut dimuat berbagai media massa lokal dan
nasional, sehingga memaksa Kapolri Tito Karnavian menurunkan tim khusus untuk
menyelidiki kebenaran tuduhan Gubernur Lukas Enembe tersebut.
Setelah mencermati gelagat politik yang dimainkan Lukas
Enembe sebagai Gubernur yang berkuasa hari ini, maka bisa dipastikan konstelasi
politik Papua menjelang Pilgub 2018 akan diwarnai dengan gonjang-ganjing yang
mengarah pada aksi-aksi kekerasan. Nampaknya Lukas Enembe tidak rela jabatan Gubernur
terlepas begitu saja ke tangan tokoh Papua lain.
Hal ini terkesan sejak dari awal, Lukas Enembe mulai menunjukkan arogansi
politiknya seolah-olah jabatan gubernur hak warisan keluarga. Padahal sejatinya,
jabatan gubernur adalah jabatan politik dimana setiap warga negara berhak
menduduki jabatan tersebut dengan cara yang demokratis bukan dengan cara
ancam-mengancam apalagi dengan cara kekerasan.
Dalam era demokratisasi dan transparansi seperti sekarang
ini, sebenarnya tidak boleh ada lagi nada-nada ancam,mengancam. Sebenarnya
sebagai seorang publik figure baiknya menunjukkan keteladanan nilai-nilai
demokrasi dan transparansi agar secara tidak langsung rakyatnya terbangun jiwa
demokratis .
Rakyat sebenarnya sudah mulai sadar terhadap nilai politik
demokratis, namun anehnya prilaku politik elit Papua sendiri tidak menunjukkan nilai
demokratis. Elit politik Papua masih menganut politik kampungan dengan
mengandalkan mobilisasi rakyat , mengajak rakyat untuk melakukan tindakan yang
tidak demokratis dan melawan hukum. Akibatnya rakyat kecil yang menjadi korban
demi keuntungan politik para elit.
Sungguh memprihatinkan ketika mencermati dengan baik
dinamika politik Papua belakangan ini. Papua masih saja berkutat sekitar politik
ala kampungan. Sementara daerah lain sudah lebih maju meninggalkan politik
kampungan yang acak-acakan itu. Di
Provinsi tetangga dekat, Papua Barat misalnya,
politik ala kampungan sudah mulai ditinggalkan. Sedangkan di Provinsi Papua,
politik ala kampungan ini masih terpelihara.
Apalagi politik sistem noken yang sampai hari ini masih
diandalkan oleh politisi yang berkuasa. Sistem noken dibuatnya sebagai modal
sarana demokrasi terpimpin untuk merebut suara demi kelanggengan posisi kekuasaan.
Oleh karena itu dalam Pilgub 2018 sistem noken di 14 daerah kabupaten
pegunungan tengah sudah menjadi fokus garapan suara penguasa.
Demokrasi sistem noken ini adalah wujud dari demokrasi
politik kampungan tadi. Apakah selamanya kita terus bertahan dengan sistem
noken ini ? Padahal lingkungan strategis sudah mulai berubah. Masyarakat makin
lama mulai sadar akan hak dan kewajiban politiknya. Masyarakat sudah mulai tahu
kapan dan untuk siapa menggunakan hak demokrasi politiknya.
Namun para elit tidak sadar kalau rakyatnya sudah mulai
sadar akan hak dan kewajiban politiknya. Mestinya para elit politik harus mulai
membuka diri menunjukkan sikap politik yang santun, yang demokratis, saling
menghargai hak politik masing-masing.
Para elit mestinya mengarahkan rakyat supaya hidup
berdampingan, tetap saling hormat-menghormati hak dan kewajiban politik setiap
warga. Tidak perlu manuver politik yang ujung-ujungnya menyusahkan rakyat.
Tulisan sederhana ini mengingatkan semoga Pilgub 2018 tidak
lagi bermain politik yang gontok-gontokan. Tidak lagi pakai ancam-mengancam.
Tegakkan demokrasi yang sebenarnya, saling menghargai hak politik masing-masing
pihak.
Paskalis Kossay, Politisi Papua

Tidak ada komentar