BreakingNews

Cerita di Balik Sebatang Bambu, Tak Sekadar Kisah Serumpun Bambu

Bambu serumpun tumbuh di lereng bukit. Sekalipun banyak batangnya, hanya satu yang terkuat

Diawal pagi  terdengar syair lagu yang didendangkan sanggar  Mutu Loo, Waturaka mengiang di telingaku.  Kaya makna, syarat arti  lebih-lebih tentang  Bambu.

Bunyi salah satu syair demikian 
"Au se Lisa tembu mena Wolo, ele eo Bhondo tua menga se toko"
"Aur serumpun tumbuh di lereng bukit, sekalipun banyak batangnya, hanya satu yang tertua/terkuat"

Bambu sudah jadi bagian dari pengalaman hidup sehari hari masyarakat. Ini pun kuakui, apalagi ketika bersua dengan sepasang suami istri pencinta Bambu yakni bang Yono Sudaryono dan istrinya Sita Daryono, pencetus bamboo for Flores.

Tiga tahun lalu saya pulang dari negeri Paman Sam, kedua pasangan ini mengajakku untuk berjumpa dengan ahli bamboo Nusantara, pendiri Yayasan Bambuu Nusantara, beliau biasa dikenal dengan Abah, alias H. Jatnika Nanggamihardja.

Saya diajak untuk keliling istana bambunya, pikiran dan hati, mata dan panca indraku ini dibuat terkesima oleh keindahan dan keelokan bangunan. Konstruksi bangunan yang memadukan berbagai elemen lokal dengan dominan bambu menjadikan buah tangannya tidak hanya elok dipandang mata namun begitu eksotik dan punya nilai estetika yang tinggi.
Dinding rumah dari Bambu (Foto : Nando Watu)


Dengan melihat sepeda dayung yang dibuat dari Bambuu, terkesan sangat luar biasa. Di tangan seorang seniman,  sebatang Bambuu bisa menjadi berharga, punya nilai ekonomis yang tinggi. Bagaimana tidak satu unit sepeda Bambuu harganya 15 Juta rupiah.

Sampai di situ, teringat kuat dengan teorinya Sang Filsuf Yunani Aristotles Actus dan Potensi, semua benda memliki peluang (potensi) untuk menjadi sesuatu yang lain, namun butuh sebuah tindakan (aktus).

Tindakan itu menjadikannya sesuatu yang lain (pemahat, pengrajin dll). Sekalipun berubah dalam bentuk, berpindah dalam ukuran, dan berbeda dalam pemakaian substansinya tidak pernah berubah, tetap Disebut "Bambuu".

Kembali ke Bambuu. Dua jam tak terasa melewati waktu bersama Abah,  berbagi cerita tentang peradaban Bambuu Nusantara. Mulai dari filosofi Bambuu, kemerdekaan bangsa Indonesia yang menggunakan Bambuu runcing, Bambuu sebagai ramuan obat hingga pada konstruksi bangunan modern.

Ketika Abah tahu, aku berasal dari Kota Kelahiran Pancasila, Ende Flores, beliaupun mengumbar kisah sedikit tentang Bung Karno. Abah juga menceritakan tentang hutan Bambu di areal seputar Aimere-Bajawa dan Bambuu Hitam, species endemik Flores  pada kenangan Abah saat berpergian ke Ruteng Manggarai  untuk sebuah pelatihan masyarakat seputar Bambuu.

Mendengar cerita dan kisah dari Abah, saya seperti seorang murid yang tengah mempelajari ilmu Bambuu pada seorang guru. Teringat film layar kaca, pendekar Bambu kuning.

Sebagai hasil dari perguruan singkat bersama dua murid lain, (Bang Yono dan Mba Sita), saya diberi Kitab Bambuu, tulisan karya tangan Abah sendiri dengan judul "Serumpun Bambu Sejuta Karya"

Vas Bunga dari Bambu. 
Hari Demi hari saya makin mendalami tentang Bambuu. Setahun kemudian makin bergeliat dengan Bambuu. Tepatnya awal bulan tahun lalu, bersama pasangan Inspirasi Bambuu, Bang Yono dan Mba Sita, melalui Komunitas Bamboo for Flores mengikuti Kompetisi "Climate Change Hero".

Banyak diskusi tentang Bambuu dan lingkungan, berbagi ide  dan pemikiran serta kompetisi yang diselenggarakan oleh LCF (Little circle Foundation), menganugerahkan Bambuu for Flores Juara 2, mengalahkan beberapa kelompok dari Bali, Surabaya, Jawa Timur dan Semarang

Kian Penasaran dan ingin mendalami lebih jauh tentang Bambuu. Saya pun sempat menyusuri waktu di sela sela kesibukan untuk mengikuti seminar dan lokakarya yang diselenggarakan Kementerian Kehutanan dan didukung oleh Kehati yang memiliki program tentang Hasil Hutan Bukan Kayu, yakni Bambuu di Kuru kecamatan Lepembusu. Saya bertemu dengan orang pencinta lingkungan dangan Bambuu sebagai Core action-nya, semisal Bang Deny, Ibu Desy Ekawati, ibu Puji Sumedi dkk.

Kecintaanku tentang Bambuu makin terbiasa manakala dalam sebuah Konferensi international, Terra Madre di India Utara tepatnya di dataran Meghalaya Nort East India, sempat berkunjung ke sebuah Desa pedalaman yang menampilkan berbagai jenis anyaman dan kreasi bambu, mulai dari koper, tas, pot bunga, dan lain sebagainya. Saya pun smpat membeli beberpa cindramata dari Bambuu sebagai oleh-oleh yang dibawa kembali ke Indonesia.

Bambuu makin menunjukan ke dahsyatannya ketika seminggu yang lalu bersua dengan Arsitek Muda bang Yu Sing Lim dan seorang tamu  berkebangsaan Jepang, Mr. Take. Dalam berbagai kunjungan di seputar kampung, bertandang ke berbagai kampung adat, dan melihat bebagai bangunan lokal dengan Bambu.

Dua Arsitek ini memang membuka tirai pemahaman yang selama ini masih tertidur. Keduanya seakan membuka password hidup yang selama ini masih terkunci untuk dapat mengakses energi kebijaksnaan lokal yang diwariskan leluhur melalui Bambu.

Sungguh, leluhur suku Lio memang sudah mengenal Bambuu dari dahulu kala. Aur, bamboo atau sejenisnya memang sudah akrab dalam peradaban Etnis "Lio" tempat saya berasal.

Dalam masyarakat Lio, Bamboo biasa digunakan sebagai  atap rumah (Labo), sebagai anyaman bakul (ura Bhoka), sebagai dinding rumah (pelupu)/gedek, tiang bangunan (Leke). Begitu banyak pesta atau acara adat di kampung, Bambu menjadi pilihan utama untuk kerangka panggung.

 Bambu  dimanfaatkan oleh pemburu untuk membuat beberpa jenis perangkap (sembe, Ilu, sura dll), dijadikan oleh petani untuk tempat memisahkan bulir padi dan tangkainya (lewa) sebelum ada mesin rontok.

Bambu menjadi elemen utama dalam membuat tungku api (gara), bahkan Bambu punya peran sangat penting dalam penentuan pemimpin dalam suku (kela Au/belah Aur).

Dalam tuturan kisah leluhur Etnis Lio berabad-abad lalu ketika air bah/ zaman dimana terjadi migrasi besar menggunakan perahu, tiang perahu dibuat dari  Bambu yang menjelaskan leluhur berasal Nggoro no fii Jo, Wau no Mangu Au.

Ngopi Pagi, Wolobudu 18/01.17- Nando Watu 

1 komentar:

  1. Ferdinandus Watu.. senang menjadi sahabatmu, ditanganmu... segala impian dan harapan menjadi nyata.. semoga.. Aamiin.

    BalasHapus