BreakingNews

BUKU : Antologi Puisi Penyair NTT 2016 Nusa Puisi

Judul                     : Antologi Puisi Penyair NTT  2016 Nusa Puisi :
        Pesembahan Kecintaan Para Penyair NTT untuk Bumi NTT dan Orang-orangnya
Penerbit                : Kandil Semesta, 2016
Editor                    : Julia Daniel Kotan
Cetakan Pertama   : 2016
Pengantar              : Paul Budi Kleden
Halaman              : 209 halaman


DARI judul buku ini “Antologi Puisi Penyair NTT  2016 Nusa Puisi :Pesembahan Kecintaan Para Penyair NTT untuk Bumi NTT dan Orang-orangnya”, sudah dapat dipastikan ini buku kumpulan puisi yang ditulis oleh penyair-penyair Nusa Tenggara Timur  tentang Nusa Tenggara Timur.

Sebelum membuka buku, menyimak satu persatu puisi yang ditulis 50 penyair NTT, 7 penyair Panitia dan 1 puisi tamu yang mengisi halaman buku, sebuah pertanyaan yang lumrah adalah apa menariknya buku ini  yang membawa-bawa nama NTT baik puisi maupun penyairnya? Pertanyaan ini sama juga dengan pertanyaan Paul Budi Kleden yang menulis prolog  buku ini. 

Kira-kira pertanyaan Budi Kleden semacam ini : Apakah ruang geografis menentukan corak budaya dan elemennya?, Apakah puisi ini hanya dinikmati oleh “orang NTT” atau juga dapat dengan mudah dinikmati oleh orang di luar NTT?

Jawabannya adalah ruang geografis menentukan corak budaya. Dicontohkan Paul Budi Kleden, kondisi geografis dengan binatang liar, dan kondisi tanah yang kurang ramah terhadap pertanian mendorong berkembangnya budaya perburuan yang mengandalkan kaki. Gerakan kaki lebih banyak dikembangkan daripada tangan dan jari.

Contoh lain, masyarakat yang hidup di pesisir pantai  umumnya melantunkan syair puisi lebih bernada tentang laut, pelayaran yang membawa pergi seseorang, kerinduan dan sitausi keharusan meninggalkan pulau.

Sementara untuk pertanyaan kedua, jawabannya adalah orang bisa mengapresiasikan karya yang jauh dari kehidupan. Dengan kata lain, seni yang berkualitas baik menjauhkan karya dari eksklusifisme. Maka puisi-puisi semacam ini kiranya dapat dinikmati oleh semua kalangan.

Selain dinikmati sebagai sebuah karya seni, hal yang disajikan pun kurang lebih membawa relevansi untuk mengenal dari dekat kehidupan masyarakat NTT, juga bagaimana perjalanan kreativitas dari penyair-penyair NTT sekurang-kurangnya yang terdapat dalam buku ini.

Oleh karena buku mendapat relavansi yang dapat dilihat dari penjelasan di atas, tentu saja kehadiran buku ini patut di apresiasi dan patut diperkenalkan kepada khalayak umum atau tepatnya pembaca umumnya.

Tapi untuk maksud itu pun hal perlu disasar adalah bagaimana buku ini melewati sebuah tahapan perbincangan, kemudian jika “lolos”, dari situ maka perlu dijadikan bacaan warga sekolah di NTT. Tentu saja untuk kegunaan pada soal ini, kembali pada tujuan mengapa puisi penting diajarkan disekolah-sekolah dan mengapa sekolah-sekolah di NTT perlu membaca karya penyair NTT.

Memang ada beberapa catatan yang penting diajukan dalam rangka mengapresiasikan buku ini. Pertama, soal  metodologinya . Hal ini mesti dijelaskan ataupun dikerjakan secara maksimal, tidak sekedar mengirimkan undangan, kemudian menyeleksikannya. Bagaimana dengan mereka yang telah menulis di berbagai media namun tidak mengirimkan puisinya?

Bagaimana dengan perkembangan puisi NTT dari masa ke masa untuk melihat relevansi kehadiran antologi ini. Sepertinya terlewatkan dan mengajak pembaca untuk mencari penjelasan pada buku yang lain.

Kedua, sebagaimana puisi perlu dihargai, maka pengerjaan antologi puisi harus didukung oleh sebuah lembaga yang secara kontinyu memperhatikan perkembangan puisi termasuk masa depan puisi dalam hal ini puisi NTT. Boleh saja dibentuk panitia, namun alangkah baiknya panitia itupun memiliki kerja-kerja yang terukur hingga bekerja sebagaimana sebuah lembaga dokumentasi.

Dua catatan ini tentu saja tidak mengurangi kelebihan yang perlu disimak dari buku antologi semacam ini termasuk tampilnya kreativitas penyair NTT yang dahsyat ini. Baiknya buku ini terus diperbincangkan untuk menentukan dasar dan arah pijakan yang jelas yang tak sekadar oleh-oleh kata-kata dari NTT. Selamat Membaca.   (Benjamin Tukan, penikmat sastra dan seni

Tidak ada komentar