Titus Pekei : “Tanpa Pendekatan Budaya, Pembangunan Papua Bisa Mubazir”
![]() |
| Titus Pekei (Foto : HIDUP) |
JURNALTIMUR,COM,- Pemerhati kebudayaan Papua Titus Pekei
mengatakan pembangunan manusia Papua harus menyertakan kebudayaan yang tengah
menjadi milik dan kebanggaan masyarakat Papua. Tanpa perhatian dan keberpihakan
atas budaya yang dianut masyarakat, pembangunan dapat disalah artikan bahkan
dapat tidak beguna alias mubazir.
Dalam percakapan dengan
JURNALTIMUR, di Jakarta beberapa waktu lalu, Titus Pekei yang juga
merupakan aktvis noken ini menjelaskan bahwa budaya manusia Papua dapat dengan
mudah dilihat dari karya yang dihasilkan masyarakat Papua dalam suatu
kesatuan pulau.
“Budaya manusia Papua, harus dilihat dari satu kawasan, satu
pulau yang tidak saja kaya potensi alam, tetapi juga mengandung potensi budaya
karena di dalamnya terdapat masyarakat yang multi etnik," kata Titus
Menurut Titus, setiap suku-suku di Papua telah
menghasilkan karya budaya sebagai tanggapan atas semesta alam yang dikarunikan
untuk masyarakat Papua. Dalam karya budaya itu, jelas penulis buku "Cermin Noken Papua" ini, masing-masing miliki jiwa budaya sekaligus menyuguhkan nilai-nilai budaya.
"Tidak dihargai budaya maka tidak menghargai manusia
Papua. Sebagaimana kita tahu, ingatan akan penderitaan dalam masyarakat Papua
selalu punya alasan budaya karena banyak terjadi kebijakan yang tidak
mengharagai karya budaya,"kata Titus,
Titus berpendapat, dalam kebudayaan, manusia Papua tidak
statis, lantaran selalu dibentuk dari
warisan kebudayaan, tetapi sekaligus
membentuk dan menciptakan kebudayaan. Dalam proses pembentukan budaya itu, kata
Titus selalu diperhadapkan dengan karakter dan mentalitas masyarakat menanggapi
perubahan yang ada.
Dia memberi contoh, eknonomi kreatif yang sekarang banyak
dibicarakan sebenarnya sudah merupakan bagian dari kehidupan masyarakat. Karya
masyarakat inilah yang mesti diperhatikan dan didorong untuk masuk ke pasar,
bukan membiarkan masyarakat mencari jalan sendiri dengan tertatih-tatih menjual
di pinggir jalan.
Kalau dari segi kesehatan, budaya memegang peran begitu penting karena di sana yang dibicarakan adalah bagaimana hidup keseharian masyarakat, lingkungan kesehatan, pola hidup, rumah sanitasi, termasuk sakit musiman, sakit
turunan termasuk penyakit-penyakit baru yang muncul.
"Ini berarti bahwa kebijakan di sektor kesehatan harus berangkat dari masyarakat yang mengalami, bukan atas dasar penyeragaman program yang turun dari atas atau dari pusat," katanya.
Di tingkat pendidikan, kata dia, hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana budaya memasuki titik penting kebijakan Pendidikan di Papua. Dalam hal ini juga dilihat bagaimana penempatan guru-guru dan
dimana sisi keberhasilan dan kegagalan yang disumbangkan oleh budaya setempat.
"Misalnya, pendidikan harus memperkenalkan busur dan panah
sebagai simbol budaya bukan simbol kriminal. Anak didik ditanamkan nilai-nilai
budaya, membangun narasi tentang karya budaya masyarakatnya. Busur dan panah
untuk memburu kuskus, bukan untuk memanah manusia. Demikian pun noken perlu dijadikan kurikulum
muatan lokal. Setelah anak didik selesai karya budaya itu bisa dilestarikan, " katanya
Dia mengatakan, dalam hal pembangunan, potensi kebudayaan ini harus diperkuat
terlebih dahulu dengan menata basis kebudayaan agar semua pihak merasa dilibatkan dan dengan begitu ikut serta terlibat memelihara dan mengagas pembangunan dari dasar yang tetapkan.
"Gelombang modernitas dan globalisasi yang
menerpa manusia dewasa ini dan juga tuntutan akan percepatan pembangunan hanya bisa dimulai dengan memperkuat basis budaya,” katanya.
Dia menambahkan, di Papua potensi budaya sangat multi etnik karena itu
semua harus disapa dan membangung komunikasi multi etnik. "Harus ada
keberpihakan, harus ada partisipasi dan
lebih penting dari itu adalah menghidupkan
komunikasi antar etnik dan sukusetelah itu menata dan membangun." ujarnya. (Ben)

Tidak ada komentar