“Natal Bagi Papua”, Refleksi Paskalis Kossay
![]() |
| Gereja Katolik Sugapa-Intan Jaya |
Oleh : Paskalis
Kossay
Natal, kelahiran Yesus Kristus diperingati pada bulan
Desember setiap tahun. Tanggal 25 Desember sebagai momentum puncak kelahiran
Tuhan Yesus Kristus. Setiap bulan Desember umat Kristiani mulai sibuk
mempersiapkan diri secara jasmani maupun rohani .
Secara jasmani umat Kristiani mulai sibuk mempersiapkan
bahan-bahan pangan yang spesial, menata tata ruang kediaman, menghias asesoris
Natal dengan lampu-lampu hias , dan lain-lain. Sedangkan secara rohani
sekumpulan umat Kristiani sibuk merayakan Natal dalam kelompok ikatan keluarga,
ikatan organisasi masyarakat, instansi pemerintah , LSM , parpol, lembaga
sosial, dan lain-lain.
![]() |
| Paskalis Kossay, bersama Gubernur Papua Lukas Enembe dan Intelektual PapuaVeliks Wanggai dalam suatu kegiatan seminar. |
Semua aktivitas mulai dari persiapan sampai pada perayaan
Natal dilaksanakan dengan penuh hikmat dan religius dalam suasana yang serba
mewah dengan beragam motivasi. Tetapi suasana Natal yang digambarkan sekarang,
sungguh berbeda dengan suasana nyata ketika Yesus lahir pada 2000 tahun yang lalu.
Yesus lahir di tempat yang hina dina , di malam yang gelap
gulita di kandang Betlehem. Bayi Yesus pun diletakan di palungan tempat
piringan makanan ternak domba. Sungguh begitu kontras dengan suasana Natal yang
dihadirkan pada dunia sekarang yang seolah-olah Yesus lahir di istana raja dengan
suasana kemewahannya.
Dalam suasana dunia yang penuh perendahan martabat manusia, “gelap gulita”, “tertutup” dan hina dina,
Yesus justru mau masuk dalam suasana itu. Ia menunjukan kepada dunia bahwa Ia
datang untuk menerangi kegelapan mengangkat harkat dan martabat manusia sebagai
ciptaan Allah yang paling mulia.
Natal identik dengan kemiskinan, keterbelakangan dan
kebodohan. Yesus lahir untuk mengangkat derajat hidup manusia dari kegelapan
dalam dosa, dalam kebodohan, dari kemiskinan rohani serta jasmani, dan akhirnya
berani mempertaruhkan nyawa-Nya untuk membebaskan manusia dari kondisi
keterpurukan hidup tersebut.
2000 tahun kemudian setelah kelahiran Yesus, sebagai manusia
yang mensiarahi zaman, kita masih mengalami hal yang sama yakni, “kegelapan”
yang tergambar dalam kebodohan, keterbelakangan, perusakan lingkungan dan juga
perendahan martabat manusia.
Relevan dengan
kelahiran Yesus, suasana Natal 2000 tahun yang lalu mengingatkan kepada kita
lebih bagi masyarakat Papua yang merayakan Natal akan pentingnya sikap bela
rasa dan solider terhadap kehidupan umat manusia yang menderita, dan tersisih di
tanah ini.
Natal mengingatkan kita, kepada para pejabat pemerintah
daerah dan siapa saja pemimpin masyarakat di daerah ini, sebagai pengikut
Kristus mestinya mempertaruhkan diri dan seluruh perhatian untuk melayani
rakyat yang masih hidup menderita karena kemiskinan, karena kebodohan, dan karena
kekerasan. Semua sumber daya yang ada diarahkan untuk menyelamatkan rakyat yang
menderita dari segala macam bentuk tantangan hidupnya bukan dipakai untuk
memperkaya diri, atau memperkaya keluarga.
Arti Natal sesungguhnya yakni keluar dari kehidupan lama yang
serba minus dan keras menuju kekehidupan yang aman, damai dan sejahterah. Itulah
Natal kelahiran Yesus.
Selamat Natal bagi yang merayakan.


Tidak ada komentar