"Membangun Budaya Cinta", In Memoriam Pater Prof Jan van Paassen
JURNALTIMUR.COM.
Pater Prof. Dr. Jan van Paassen MSC telah meninggal dunia di RS Hermana Lembean,Minahasa
Utara, Minggu (18/12/2016) pukul 03.00 WITA dalam usia 85 tahun.
Tidak saja dikenal sebagai seorang misionaris Katolik, Pater Jan juga dikenal sebagai seorang yang telah memberikan sumbangan pemikiran dalam hubungan antar agama, keluarga berencana terutama dalam hal etika yang menjadi perhatiannya, maupun dalam pandangannya tentang pendidikan orang muda.
![]() |
| Pater Prof. Dr. Jan van Paassen MSC (Sumber Foto: Sesawi) |
Meninggalnya Pater Jan atau Jvp demikian ia biasa disapa, tidak
saja membawa kehilangan bagi sesama saudaranya di Tarekat Religius Kongregasi
Imam-imam Misionaris Hati Kudus (MSC), tapi bagi umat di Keuskupan Manado,
juga di wilayah karya imam-imam MSC yang sempat ia kunjungi.
Sosok Pater Jan tak lepas dari Seminari
Tinggi Paneleng-Manado, lantaran 19 tahun lamanya ia menjadi rektor dan selepas rektor
masih tetap berkarya di kampus ini. Ia juga mengajar di Univerisitas Sam
Ratulangi, IKIP Negerti Manado, Sospol Kodam dan APDN.
Nama lengkap Johannes Wilhelmus van Paassen, lahir: 14 Mei 1931,di sebuah desa kecil bernama Den Hoorn, Belanda. Belajar di Seminari Menengah di Driehuis, Belanda sejak 11 September 1945 hingga 2 Augustus 1951.
Awal masuk seminari lantaran mengikuti Program Bahasa Jerman. Baru pada tahun 1951, ia tertarik untuk menjadi imam. Novisiat MSC: Berg en Dal, Nijmegen 20 Agustus 1951 – 21 September 1952, Profesi MSC: Novisiat Berg en Dal, Nijmegen, 21 September 1952. Filsafat Brummen: 21 September1952 – 8 Agustus 1954.
Ia menjalankan studi Teologi di Stein: 8 Agustus 1954 – 15 Juli 1958. Sesudah ditabiskan imam Stein, Limburg, 1 September 1957, melanjutkan studi ke Roma. Ia diminta untuk belajar Teologi Moral, walau ketika itu minatnya lebih pada studi Filsafat dan Teologi Dogmatik yang lebih abstrak.
Studi lanjut di Universitas Gregoriana di Roma 20 Oktober 1958 – Juni 1959, kemudian Licensiaat Angelicum Oktober 1959 – Juni 1960 dan Doctorandus. Alfonsianum Oktober 1959 – 8 Februari 1963. Memperoleh Doktor Teologi Moral dari Alfonsianum 8 Februari 1963.
Setelah mendapatkan gelar Doktor, ia sebenarnya kembali ke Belanda untuk menjadi dosen di sana, namun datang tawaran untuk ke Manado. Seminari Peneleng yang baru dibuka membutuhkan pengajar dan ia akhirnya memutuskan untuk ke Manado. Ia berangkat ke Indonesia 21 Maret 1964 dan menjadi dosen di Seminari Peneleng sejak 24 Maret 1964 sampai 20 Juli 2007. Mendapat kewarganegaraan Indonesia 17 Maret 1990.
Di Keuskupan Manado, ia sempat menjadi anggota Dewan Konsultor – Imam, Ketua Komkat Manado di Lotta, Pastor Stasi Lotta, Pastor Paroki Lotta, Pastor penghuni di Wisma Transito Lotta, Desember 2007, tugas: Asistensi di Paroki Lotta dan pada DSY, pengurusan nikah tak beres, penulis internet, penasehat pastor muda dan bersama dengan Pastor Sjaak Wagey Pr mengedit buku sejarah misi dan ikut kegiatan KBM Manado.
Tahun pertama
di Peneleng, ia mengajar Filsafat Manusia, dan Filsafat Ketuhanan. Ilmu Logika
adalah kegemarannya yang membuatnya bersikeras mengajari para mahasiswanya
untuk berpikir secara logis dan benar.
Ia dikenal sebagai pemikir yang analitis dan tajam yang selalu
melihat rupa-rupa kemungkinan atau probabilitas dalam suatu pokok bahasan.
Terkenal dengan distingsi-distingsinya yang teliti dan kadang rumit. Bacaan Matematika dan Fisika yang sulit pun menjadi hobinya
di samping Ilmu Sejarah.
Ia adalah
pribadi yang terus terang dan spontan dalam mengungkapkan pendapatnya. Setuju atau tidak setuju, pujian atau kritik, diungkapkan apa adanya. Jika ia salah,
ia mengaku salah dan meminta maaf, ia tidak menyimpan dendam. Ia menunjukan
sikap hormatnya kepada semua orang, dan sangat mencintai pekerjaannya. Berbagai kegiatan
lahir dari inisiatifnya karena ia seorang yang kreatif dan selalu punya keinginan untuk meningkatkan sumber daya manusia.
Ia punya
kebiasaan membaca buku, terlebih buku-buku baru, membuat kliping dan memanfaatkan suasana makan bersama untuk
menyampaikan gagasan-gagasan baru juga menyampaikan berita-berita hangat untuk
didiskusikan. Ia aktif menulis bahkan berlama-lama di depan komputer untuk
menyiapkan suatu tulisan.
Ia dikenal sebagai ilmuwan dan memberikan pendapat-pendapat penting untuk masalah hubungan antar agama, keluarga berencana dan pendidikan generasi muda. Dalam hubungan antar agama, makalah pertamanya berjudul “ Kerjasama Antar Agama dan Prospeknya : Kasus
Sulawesi Utara", dibawakan dalam Seminar HIPPIS (Himpunan Indonesia Untuk pengembangan
Ilmu-ilmu Sosial) yang diadakan di Mandao, pada bulan November 1977.
Makalah
ini kemudian menjadi salah satu artikel dalam buku “Bunga Rampai Antropologi
Terapan “ yang disunting Koentjaraningrat terbit 1982 dan juga pada majalah Prisma
tahun sebelumnya.
Dalam hal Keluarga Berencana (KB), situasi awal program ini justru menjadikan Pater Jan sosok yang perlu ditanya lebih-lebih dalam penjelasan yang menyangkut moral. Sementara dalam pendidikan generasi muda, berbagai pelatihan dirancangnya, termasuk ia sendiri terlibat langsung dalam pembinaan orang muda.
Pater Jan telah begitu setia menyumbangkan talenta dan kemampuan yang ada padanya. Seorang imam katolik, seorang ilmuwan dan seorang sahabat yang sangat rendah hati, sabar, setia dan penyayang bagi siapa saja yang dijumpainya.
Dalam Buku "Membangun Budaya Cinta," yang merupakan kumpulan tulisanya, Prof Jan menyempatkan sedikit pertanggungjawaban atas bidang ilmu dan karya yang dirintisnya. Ia mengatakan "Selama pendidikan dan kegiatan akademis, jalan pikiran saya tentang cinta kasih sejati semakin maju. Bila saya sekarang menoleh ke belakang untuk menyelidiki barangkali ada benang merah atau pengertian induk yang memberi suatu koherensi tertentu pada tulisan saya, maka semakin kentara bahwa pengertian cinta kasih merupakan pengertian inti".
Pokok cinta kasih telah mewarnai seluruh perjalanan dan refleksinya. Selamat
jalan Pater Prof Jan Van Paassen. Beristirahatlah dalam damai. (Benjamin Tukan/dari berbagai sumber)

Tidak ada komentar