Peradaban Tanpa Penglihatan
Oleh Berto Tukan*
Judul : Blindness (novel)
Penulis : Jose Saramago
Penerjemah : Tim Matahari
Penerbit : Penerbit Matahari, Jakarta
(November 2015)
Tebal : 488 hlm.
Tentu saja kita
semua setuju belaka bahwa Jose de Sousa Saramago (1922-2010), lebih dikenal
dengan Jose Saramago, termasuk sastrawan penting di abad kita. Apalagi jika
menggunakan Nobel Sastra sebagai ukuran; Saramago menerimanya pada 1998 silam. Untuk
pembaca berbahasa Indonesia, rupanya sejauh ini baru satu novel Saramago-lah
yang tersedia, Blindness.
Permasalahan terjemahan kazanah sastra dunia ke bahasa Indonesia dan juga
sebaliknya memang masalah klasik. Tentu saja, di tengah keadaan yang demikian,
usaha penerjemahan Blindness perlu
disambut baik. Meski pun, secara teknis, sedikit cacat pada penerjemahannya
masih bisa kita temukan. Tulisan singkat ini adalah salah satu bentuk apresiasi
terhadap kerja penerjemahan tersebut.
Imaji Apokaliptik Saramago
Blindness berkisah tentang
sekelompok orang yang tejangkit epidemi kebutaan. Dimulai dari seorang lelaki
yang mendapati dirinya mengalami kebutaan itu ketika mengendarai mobil, diikuti
dengan orang-orang yang bersinggungan dengannya pada hari itu, hingga hampir
seluruh dunia mengalami kebutaan. Cerita berakhir dengan pulihnya pengelihatan
normal semua manusia.
Mereka yang pertama
kali terkena wabah itu lantas dikarantina oleh pemerintah di sebuah bekas rumah
sakit jiwa. Di tempat ini, kisah Blindness
‘berspekulasi’ seputar bagaimana kehidupan beradab berusaha dibangun oleh
manusia yang kehilangan penglihatannya. Di dalam ketakberdayaan tanpa
penglihatan yang diciptakannya, Saramago mengupas sisi-sisi gelap kemanusiaan;
diktatorial, perebutan makanan, napsu, kekotoran, harga diri yang hilang, dsb.
Kebutaan yang diciptakan Saramago di dalam Blindness
menjelma prakondisi untuk melihat kemanusiaan ketika yang tersisa hanyalah harapan
untuk terus bertahan hidup.
Awalnya, para orang
buta yang berada di karantina mengira hanya merekalah yang terkena epidemi itu.
Namun, ketika datang penghuni baru, cerita dari dunia luar pun mereka dengar;
dunia perlahan-lahan menjadi putih seluruhnya. Ketika mereka ke luar dari tempat
karantina barulah ‘terpampang’ di hadapan mereka dunia apokaliptik itu. Dunia
tanpa seorang manusia pun bisa melihat. Demikian kira-kira gambaran dunia
apokaliptik Saramago, “mereka tidak tahu jalan, mereka terus menempel
gedung-gedung dengan tangan terjulur. Mereka terus-menerus saling tabrak
seperti semut-semut pada alur lintasannya. Namun ketika terjadi tabrakan, tak
ada yang protes” (hlm. 332).
Penglihatan dan Manusia Modern
Penglihatan tak
dipungkiri menjadi indra yang paling penting untuk makhluk manusia modern.
Barangkali sebelum menjadi homo sapiens yang berjalan tegak, manusia belum
terlalu bergantung dengan penglihatannya. Ia barangkali lebih bergantung pada
indra penciuman misalnya. Apalagi
ketika peradaban dibangun di atas arsip yang menggunakan aksara sebagai
penyimpan utamanya. Tanpa penglihatan, manusia tidak bisa mempelajari sejarah
dan peradaban. Tanpa penglihatan, seseorang tidak bisa berpartisipasi di dalam
peradaban. Segala hal di sekitar manusia modern sesungguhnya bergantung pada indra
penglihatan.
Teknologi yang
mempermudah hidup manusia menggunakan indra penglihatan dalam
mengoperasikannya. Manusia barangkali bisa saja tidak mencium sesuatu aroma di
dalam sebuah ruangan tertentu. Hal itu sangat mungkin tidak benar-benar menggangu
hidupnya. Tetapi ketika seseorang tidak melihat pintu ke luar dari sebuah
ruangan, masalah yang lebih besar timbul di sana. Kita kerap mendengar atau
mengucapkan ‘aku tidak mencium aroma itu’ dan kalimat itu tidak terlalu
mengganggu ketimbang kalimat ‘aku tidak melihat benda itu’.
Menghilangkan
penglihatan dari tubuh semua manusia adalah cara menciptakan keadaan khaos yang
paripurna. Itulah yang dilakukan Saramago di dalam Blindness. Namun rupanya, sulit untuk membayangkan sebuah dunia
tanpa penglihatan sama sekali. Itu sebabnya, saya kira, seorang tokoh dibiarkan
bisa melihat oleh Saramago. Selain menjadi tokoh utama, perempuan yang bisa
melihat ini menjadi semacam ‘mata kemanusiaan’ untuk merefleksikan
keberadaannya ketika penglihatan tak ada sama sekali.
Dikisahkan, tokoh
yang bisa melihat ini, karena cinta kepada suaminya yang dibawa ke sanatorium,
ikut ke sanatorium dengan cara berpura-pura buta. Di sana, ia lantas menjadi
orang yang mengatur segala sesuatu kehidupan sambil terus berpura-pura buta. Ia
mencoba mengkreasi peraturan-peraturan kecil, dengan bantuan suaminya yang
punya otoritas sebagai dokter di antara para orang buta itu, untuk mempermudah
kehidupan komunitas buta tersebut. Ia juga—karena bisa melihat—menjadi ‘orang
yang bisa menjatuhkan hukuman’ untuk orang-orang buta yang bertindak
semena-mena. Kedigdayaan manusia ketika bisa melihat dihadirkan melalui tokoh
ini. Namun dari mata tokoh yang bisa melihat ini jugalah kemanusiaan dan
peradaban itu runtuh satu demi satu; tak bertahan di tengah ketakberdayaan
manusia.
***
Buku Saramago ini
menunjukkan kepada kita betapa pentingnya penglihatan. Lebih jauh dari itu, ia
pun menunjukkan betapa manusia sangat bergantung pada penglihatan; pada
mata. Nyaris tidak ada yang bisa dilakukan manusia ketika matanya tak bisa
berfungsi dengan baik. Barangkali manusia bisa hidup tanpa penglihatan. Tanpa penglihatan segalanya menjadi hampa, seperti mata yang
bisa melihat segalanya dengan jelas dan tiba-tiba hanya melihat tabir putih di
mana-mana.
*Peresensi adalah
mahasiswa Program Magister Filsafat, STF Driyarkara, Jakarta. Aktif di
IndoPROGRESS dan ruangrupa.

Tidak ada komentar