Kopi Lite Flores Timur, Tak Semanja “Coffie Latte”
JURNALTIMUR, Coffee Latte atau kopi dicampur susu yang
pertama kali dibuat di Italia tahun 1950 memang sudah sangat terkenal di
Indonesia. Tapi kalau Kopi Lite Flores Timur mungkin hanya penduduk Flores
Timur, Nusa Tenggara Timur yang tahu. Kopi Lite sebutan untuk kopi yang
berasal dari kampung Lite, Kecamatan Adonara Tengah, Kabupaten Flores Timur.
![]() |
| Ilustrasi |
Sudah
dari dulu, orang-orang di kampung Lite dan sekitarnya sudah membudidayakan
tanaman kopi. Area kebun kopi milik penduduk memang tidak terlalu besar,
tapi uniknya di kampung ini dan kampung disekitarnya, setiap kebun milik
penduduk pasti ditanami kopi. Bersamaan
dengan tanaman kopi, di area kebun juga ditanami vanili, kemiri, coklat,
padi, jagung dan sayuran.
Bukan
berlebihan bila dikatakan penduduk di wilayah ini sudah menjadikan kopi bagian
dari hidup dan tradisi masyarakat. Kopi
selalu menjadi suguhan awal bagi tamu yang datang, juga menjadi minuman
selingan atau juga untuk menambah daya tahan kerja.
Menurut cerita, kalau warga
diberikan pilihan antara kopi atau makanan yang dipilih pertama adalah kopi.
Atas kebiasaan semacam itu, penduduk yang tinggal di daerah nan subur di Flores
Timur ini, menjadikan tanaman kopi sebagai tanaman wajib yang harus ada dalam
setiap kebun.
Warga
menanam kopi, awalnya memang diperuntukan untuk kebutuhan keluarga. Tapi
itu bukan berarti kopi hanya ada di Adonara Tengah. Jika panen kopi berlimpah,
dan warga merasa persediaan kopi untuk jangka waktu tertentu mencukupi
kebutuhan konsumsi keluarga maka kelebihannya akan dijual ke pasar-pasar
tradisonal baik di pulau adonara, maupun ke Larantuka Ibu kota Kabupaten Flores
Timur.
Pasar
tradisonal yang dibuka untuk hari-hari tertentu, menjadi jadwal yang rutin bagi
warga untuk menjual kopi. Pasar Waiwadan, Pasar Watoone dan Pasar Waiwerang
yang merupakan pasar yang cukup ramai di wilayah Adonara bisa dijumpai warga
Adonara Tengah menjual kopi di sana.
Pasar
Waiwadan buka hari Sabtu dan Rabu, Pasar Waiwerang hari Senin dan Kamis, Pasar
Watoone hari Selasa dan Jumat. Selebihnya warga membawa ke pasar Larantuka dan
sekali-sekali menjajakan di pelabuhan Larantuka. Cara menjual kopi ini
pun, dari dulu hingga sekarang masih sangat sederhana. Selalu dijual dalam cangkiran
yang diperkirakan 10 cangkir sama dengan satu kilogram.
Kopi
Lite, atau kopi yang berasal dari kampung Lite dan sekitarnya, memiliki rasa
yang sangat khas. Dari budidaya dan pengelolaan yang sangat sederhana,
menghasilkan bubukan kopi yang kalau diseduh masih meninggalkan ampas di
permukaan air. Memang, serasa tidak memanjakan para penikmat kopi, tapi
justru lebih dari itu membawa rasa yang sangat kuat dan nikmat. Ampas-ampas
kopi yang terapung di permukaan gelas itu pun masih bisa dicicipi sebelum
menikmati rasa kopi sesungguhnya.
Anton
Hurung, lelaki asal Adonara Tengah kepada JurnalTimur, yang menemuinya di
Jakarta, Minggu, (4/9/2016) menceritakan, kopi Lite dan kopi di daerah
Adonara Tengah memang beda dengan kebanyakan kopi. Menurutnya, kopi yang tak
ditanam secara masal pada perkebunan skala besar, selalu memungkinkan perawatan
dengan sentuhan yang sangat manusiawi oleh pemiliknya.
Anton
mengatakan, setiap petani di sana mengenal betul setiap pohon kopi yang
ditanaminya. Ada semcam sentuhan yang manusiawi sejak menanam hingga kopi
diseduh dan dihidangkan. Bukan berlebihan, sentuhan ini membuat ibunya di
kampung selalu mengirimkan kopi untuknya.
“Setiap
kali ada kiriman dari kampung, Mama saya tidak lupa menyertakan kopi,” kata
Anton yang hingga kini masih menyimpan keinginannnya untuk memperkenalkan kopi
ini ke lebih banyak orang di luar Flores Timur.
Kopi
Lite memang menjanjikan untuk membantu perekonomian warga Adonara Tengah
ke depan karena keunikan dalam cara warga memperlakukan kopi ini. Tapi sebelum
semua itu terjadi, Anton masih mengharapkan agar ada perhatian pemerintah
kepada warga dalam pembudidayaan kopi ini. Selanjutnya, kata Anton perlu juga
disiapkan infrastruktur jalan dan listrik agar warga terpacuh membudidayakan
tanaman kopi lebih banyak lagi.
"Warga
perlu diberi pelatihan tentang budidaya kopi, peralatan hingga pemasaran.
Infrastruktur jalan dan listrik juga dibutuhkan, disampung kebutuhan lain
adalah asosiasi para petani kopi agar harga dan mutu kopi tetap terjaga,”ujar
Anton.
Untuk
mencapai kampung Lite, dari Larantuka menyeberang dengan perahu motor ke Tanah Merah-Pulau Adonara kurang lebih 20 menit
perjalanan. Dari Tana Merah dengan angkutan roda dua dapat ditempuh kurang
lebih 45 menit. Dalam perjalanan itu pemandangan
di kiri kanan jalan begitu mengodah untuk melakukan pemotretan. Sampai di Lite,
jika masih punya waktu dan tenaga bisa berjalan terus menyusurui perbukitan Saburi nan subur.
![]() |
| Penyeberangan Pantai Palo menuju Tanah Merah |
Kecamatan
Adonara Tengah, ibukotanya di Lewobele.
Luas wilayah 57,99 km² dan jumlah penduduk 11.267 jiwa (2008). Kecamatan ini
terdiri dari 12 desa yaitu Horowura, Hoko Horowura, Lite, Kenotan, Lewopao,
Kokotobo,Lewobele, Baya, Bidara, Wewit, Nubalema, dan Oe Sayang.
Topografi
wilayah berada diatas perbukitan dengan cuaca yang sangat bersahabat bagi kehidupan
menjadikan wilayah ini sebuah kecamatan yang
memiliki potensi Sumber Daya Alam (SDA) yang diperhitungkan.
Para
pencinta kopi yang gemar berpetualang merasakan beragam rasa kopi, pasti tidak
menyia-nyiakan kopi Lite. Kopi asli dengan kesegaran yang terjamin ditambah
dengan sentuhan manusiawi sungguh memberikan rasa nikmat yang berbeda dari
coffee latte (Ben)


Mari teruslah perkenalkan Sumber Daya Alam Adonara Tengah melalui tulisan,semoga bermanfaat....!
BalasHapusAyo ke Adonara Tengah
BalasHapusMari teruslah perkenalkan Sumber Daya Alam Adonara Tengah melalui tulisan,semoga bermanfaat....!
BalasHapus