Dramaturgi Diam dan Strategi Cerdas Sang Petahana Flotim
![]() |
| Yoseph Lagodoni Herin S.Sos (foto : franc lamanepa) |
Di tengah hiruk pikuk perang pesan dan
konstruksi gambaran diri menjelang pilkada Flores Timur 2017, ada fenomena lain
yang tidak muncul di panggung depan. Tetapi fenomena tersembunyi itu mengkomunikasikan pesan
tertentu untuk dikaji. Fenomena itu, tak
lain tak bukan adalah sisi diamnya Sang Bupati 2011-2016, Bapak Yoseph Lagodoni
Herin S.Sos.
Melalui perspektif ilmu komunikasi, saya mencoba
membaca gaya komunikasi itu dan menarasikannya sebagai "Dramaturgi Diam dan Strategi Cerdas Sang Petahana Flotim."
Dalam pandangan umum, diam adalah emas. Emas
adalah barang berharga. Dalam analogi semiotik ini, Sang Petahana tentu sosok
yang berharga dalam kepemimpinan Flotim dua periode kepemimpinan belakangan
ini. Menjadi berharga, bisa juga dimaknai sebagai mukjizat yang harus
dipertahankan.
Sesuatu
yang berharga tentu tidaklah pantas dipajang pada etalase yang tidak aman. Seandainya
pun dipajang pada sebuah etalase, tetapi harus dijamin mempunyai kunci. Tidak
hanya itu. Juga harus disertai penjagaan ketat para security yang handal. Siapapun
yang tidak mempunyai ID card member dari
counter ataupun etalase marketing itu, sebaiknya diverikasikan identitasnya.
Diam berarti tidak melakukan pertunjukkan. Padahal
seorang pakar dramaturgi yang bernama Goffman berasumsim bahwa pertunjukkan
adalah metode pengelolaan pesan (impression management). Karena dalam
pertunjukkan, ada interaksi. Interaksi, berarti bukan diam. Tetapi beraktivitas
untuk meyakinkan orang lain, sehingga mendapat respons.
Goffman menyebut ketika berinteraksi, siapapun
juga ingin menyajikan gambaran diri supaya diterima orang lain.
Lantas mengapa strategi diam Sang Petahana
Flotim, saya bahasakan sebagai dramaturgi diam dan strategi cerdas? Sebab dalam
ilmu komunikasi, diam juga pertunjukkan. Bahwa ada pertunjukkan diam. Apalagi ditegaskan dalam perspektif dramatugis, hidup itu baik diam maupun berbicara, substansinya
tetap satu. Yakni, hidup adalah teater.
Goffman membagi hidup ibarat teater itu dalam
dua wilayah. Wilayah depan (front region)
dan wilayah belakang (back region). Wilayah
depan merujuk kepada peristiwa social yang memungkinkan individu bergaya atau
menampilkan peran formalnya. Dan untuk konteks Petahana, ruang dan moment ini
sudah dilewati. Selama dua periode kemimpinan di Flotim, Sang Petahana telah
melakukan pertunjukkan lewat manajemen kepemimpinan dan eksekusi program di
lapangan.
Sementara untuk pilkada 2017 ini, Sang
Petahana Flotim melakukan strategi cerdas dengan memposisikan dirinya di
wilayah belakang. Posisi ini merujuk pada tempat dan peristiwa yang
memungkinkannya mempersiapkan perannya di wilayah depan pada 2017.
Dalam drama yang dipertunjukkan, siapapun yang
ada di balik layar (layar belakang) adalah sutradara. Walaupun ia tidak menjadi
actor, tetapi dia mempunyai tim dan pemain. Walaupun ia tidak kelihatan, tetapi
ia menentukan alur permainan.
Makna seperti inilah yang secara cerdas sedang disutradarai Sang Petahana Flotim. Dan biasanya sutradara, tidak berminat lagi menjadi actor. Oleh karena itu dia diam. Ia merasa tidak perlu mempertunjukkan gambaran diri lagi. Dia tidak galau lagi berpikir soal siapakah yang menjadi actor utama dan peran pembantu. Ia meyakni gambaran dirinhya dikenal dari karya-karya yang dibuatnya.
Makna seperti inilah yang secara cerdas sedang disutradarai Sang Petahana Flotim. Dan biasanya sutradara, tidak berminat lagi menjadi actor. Oleh karena itu dia diam. Ia merasa tidak perlu mempertunjukkan gambaran diri lagi. Dia tidak galau lagi berpikir soal siapakah yang menjadi actor utama dan peran pembantu. Ia meyakni gambaran dirinhya dikenal dari karya-karya yang dibuatnya.
Dramaturgi
diam Megawati dan strategi diam Yosni
Ketika mengkaji soal dramaturgi diam dalam
konteks nasional, maka nama Presiden RI Kelima, Megawati Soekarnoputri, tidak
boleh dilewatkan begitu saja. Putri Soekarno ini boleh disebut “ikon dari dramaturgi
diam” di tanah air.
Saat ini ketika muncul desakan dari awak media,
awak tim sukses Ahok, awak partai koalisi pendukung Ahok, para jubir tim pemenangan
Ahok dan teman Ahok, dan lain-lain agar Megawati menduetkan Ahok dan Djarot,
Megawati tetap diam. Tidak melakukan pertunjukkan untuk mendapat respons.
Begitupun dengan Pak Yoseph Lagadoni Herin S.Sos.
Beliau tetap diam. Tidak melakukan pertunjukkan apapun. Ia berada di belakang
layar dan diam. Sehingga saya tidak berani menyebut apakah Sang Petahana sudah
memutuskan menjadi sutradara dan mentor bagi actor-aktor lain?
Ataukah petahana masih menjadi actor yang sedang
mengambil alih tugas sutradara untuk sementara waktu, demi menyusun strategi
dan kembali lagi menjadi actor yang memainkan plot itu?. Jika iya menjadi actor
yang merangkap sutradara, maka saya sekali lagi membacanya sebagai langkah dan
strategi yang cerdas.
Saya mengatakan fenomena ini sebagai strategi
yang cerdas, karena dalam diam ia bisa berbicara dalam dua peran. Dalam diam,
tanpa bicara, Yosni hadir sebagai tesis karena dialah petahana. Tetapi dalam
saat yang sama, ia hadir sebagai antitesa, karena dramaturgi diam, ia adalah perlawanan
dari retorika dan percakapan.
Dalam diam Yosni menjadi tesis karena ia
menunjukkan eksistensinya sebagai petahana. Dan dalam hal ini, Yosni mencoba
membumikan apa yang digagasi Desacrtes, “Corgito Ergo Sum,” saya berpikir maka saya ada. Dan dalam diam
juga, ia menjadi antitesa dari gagasan Thomas M. Scheidel. Karena menurut
pemikir ini, hanya melalui berbicara lah setiap individu menunjukkan bahwa ia
eksis. Atau meminjam bahasa prolog Injil Yohanes, “Sabda sudah menjadi Manusia.”
Lalu sampaikan kapankah dramaturgi diam ini terkonstruksi
sebagai sintesa? Jawabannya, pertanyaan ini sama dengan tesis di atas. Jadi
sintesanya sama saja dengan tesis dan antithesis di atas. Inilah yang say baca sebagai
strategi cerdas. Selamat berdemokrasi di pilkada Flotim 2017. Salam Titehena.
Romo
Stefan Kelen Pr, pemerhati komunikasi politik sedang studi S2 Komunikasi Politik di
Universitas Mercu Buana-Jakarta

Tidak ada komentar