Pesta Rakyat, Tiada “Perang” dalam Pilkada
Berita terkait Pemilihan kepala daerah memang kini begitu
ramainya. Bukan juga karena beberapa media umum mengarahkan fokus liputan ke
pilkada, tapi juga karena memang banyak media diadakan hanya untuk pilkada,
menyokong kandidat tertentu, atau sekedar meramaikan suasana.
Pada sisi yang lain, pemberitaan tentang Pilkada yang tergolong banyak memang sesuatu yang dianggap lumrah. Bayangkan saja, pada Pilkada serentak Februari 2017 diikuti 7 provinsi, 76 kabupaten, dan 18 kota yang tersebar merata dari timur ke barat Indonesia. Jika saja satu wilayah dengan dua media, dan masing-masing setiap hari menurunkan 2 berita maka setiap hari ada 404 berita yang diunggah ke publik Indonesia.
Fenomena pemberitaan dalam hubungan dengan pilkada memang suatu yang biasa-biasa saja. Bahkan dalam konteks tertentu pemberitaan media (yang banyak itu) diharapkan mencerahakan pilihan masyarakat, membawa rasa ingin tahu masyarakat dan lebih dari itu menimbulkan partisipasi politik rakyat pada urusan pemilihan pimpinan daerah sekaligus terlibat mengevaluasi dan mencari solusi yang terbaik dalam pembangunan wilayah.
Menjadi persoalan bila pemberitaan tentang Pilkada dibingkai sebagai ajang peperangan. Tak habis-habisnya bermunculan
kata "perang" dalam pemberitaan tentang Pilkada. Rupanya yang terbaca:
pilkada menjadi ajang konflik, dan pertentangan dua pihak atau lebih. Ada
kecendrungan untuk mendominasi, dan membuat pihak
lain mati tak berdaya. Begitu juga ada banyak potensi untuk menyelesaikan
pertentangan, namun sengaja disembunyikan sebelum kemenangan itu diraih.
Menggunakan kata "perang" dalam pemberitaan menyangkut pilkada, selanjutnya isitilah yang berhubungan dengan perang diikutsertakan. Menyebutkan
kata perang disusul dengan kandidat tertentu, seolah-olah menggambarkan kandidat yang
bersangkutan tengah memiliki seluruh kelengkapan untuk berperang.
Tak kurang dari situ,
hanya lantaran keinginan untuk mematikan lawan, berbagai cara lain ditempuh. Selalu muncul cara-cara politik belah bambu, seperti mengangkat yang satu menginjak
yang lain. Memuji seorang, menghina yang lain. Menjegal, menjebak dan menohok.
Praktik pemberitaan pun tak ubahnya dengan cara berpolitik "belah duren", hanya aroma sekedar memamerkan janji, sementara yang diuntungkan tetap saja mereka yang dekat dengan kekuasaan atau kandidat yang sedang dibela. Semuanya terjadi untuk menaikan tensi emosi pembaca yang berarti menaikan kunjungan pembaca pada media tersebut. Atau juga mencoba memenangkan kandidat yang diusung.
Praktik pemberitaan pun tak ubahnya dengan cara berpolitik "belah duren", hanya aroma sekedar memamerkan janji, sementara yang diuntungkan tetap saja mereka yang dekat dengan kekuasaan atau kandidat yang sedang dibela. Semuanya terjadi untuk menaikan tensi emosi pembaca yang berarti menaikan kunjungan pembaca pada media tersebut. Atau juga mencoba memenangkan kandidat yang diusung.
Model-model pemberitaan media dalam hubungan dengan pilkada perlu terus dikritisi. Memang, beberapa media telah sanggup melewati ataupun sudah menentukan arah baik dalam pemberitaan yang tidak melihat pilkada sebagai ajang peperangan. Bahkan hal yang dilakukan adalah menjelaskan proses, memperkenalkan program, dan menampilkan rekam jejak kandidat sebagai referensi pemilih.
***
***
Dari realitas media, ke realitas sosiologis, Pilkada pun sesungguhnya bukan ajang peperangan. Pemilihan kepala daerah adalah suatu
ritinitas biasa, ajang rakyat memberikan evaluasi kepada proses yang sudah
berjalan, menetapka proses yang akan datang, juga kesempatan memilih yang terbaik dari para
calon. Tidak ada yang perlu diperangi, ataupun dimatikan semuanya dengan
caranya menentukan arah mana yang dituju.
Tugas kandidat dan timnya adalah memperkenalkan cara hidup berdemokrasi yang sesungguhnya hingga menerima kemenangan pilkada bukan menjadi kekuatan sesorang atau sekelompok.Keterbukaan dimulai dari kandidat sendiri, sebelum terlanjur menuding kesalahan pada elit politik partai di luar sana.
Pada tempatnya, Pilkada harus diarahkan menjadi pesta rakyat. Pesta bukan dalam
pengertian bagi-bagi uang. Tapi suatu cara berpesta untuk mengakhiri sesuatu, mempertahankan atau
memulai sesuatu. Baru setelah itu hasil pilkada dapat diklaim bahwa
itu adalah pilihan rakyat.
Masih tinggal beberapa bulan lagi kita mengikuti
proses menuju Pilkada. Bahkan tahun-tahun kedepan masih ada pilkada. Tak terkecuali media ini yang masih terus memperbaiki cara-cara pemberitaan, kita masih punya
kesempatan untuk bebenah, memperkenalkan cara hidup di alam demokrasi demi kebaikan bersama.
-----------------------
-----------------------
Redaksi menerima tulisan berbentuk artikel, laporan perjalanan, dan opini.
Tulisan harus orisinal dan belum pernah dipublikasikan di media lain. Pengiriman
disertai alamat email dan nomor telpon/HP. Redaksi berhak mengedit tanpa
mengubah substansi isi.
Kirim artikel, laporan perjalanan, dan opini ke email : redaksijurnaltimur@gmail.com

Tidak ada komentar