BreakingNews

Pemilukada Lembata, Kesabaran dalam Politik



Oleh : Yeremias Jena
Pengajar Filsafat Unika Atma Jaya Jakarta

Pertemuan dan diskusi dengan salah satu bakal calon bupati dan wakil bupati Kabupaten Lembata minggu lalu di salah satu hotel di bilangan Blok M, Jakarta Selatan, kembali menegaskan “kesabaran” (patience) sebagai sifat penting yang harus dimiliki seorang politisi. 

Yeremias Jena
Pengajar Filsafat Unika Atma Jaya Jakarta
Kesan ini amat kuat dan dapat dibaca, tidak hanya pada sosok politisi PDIP itu, tetapi juga dari sosok lain seperti Ir. Lukas Witak atau beberapa tokoh lainnya yang kebetulan saya kenal. 

Bagi seorang akademisi seperti saya yang terbiasa menganalisis dan/atau memprediksi sesuatu berdasarkan nalar akademis dengan finalitas yang jelas dan terprediksi, dinamika politik dan kesabaran para pelakunya menimbulkan rasa kagum tersendiri.

Per definisi, kesabaran adalah “keadaan atau kekuatan menahan/memikul/bertahan atau menghadapi situasi sulit, ketika seseorang mampu bertahan menghadapi provokasi atau penundaan tanpa memperlihatkan reaksi kemarahan, kekecewaan, atau keputusasaan. Secara psikologis, kesabaran adalah keaadaan kejiwaan yang terletak satu level di bawah negativitas, misalnya kemarahan, kekecewaan, dan sebagainya.

Dalam perspektif Kristiani, kesabaran adalah keutamaan (virtue) yang penting dan sangat dibutuhkan dalam hidup. Santo Paulus mengatakan bahwa manusia harus sabar menghadapi segala hal, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi selalu mencari dan membalas kebaikan dengan kebaikan (1Tes 5:14-15). 

Sementara kepada umat di Galatia, Rasul Paulus mendaftar banyak keutamaan yang harus dimiliki orang Kristen, seperti kasih, kegembiraan, damai, kesabaran, kebaikan hati, penguasaan diri, dan sebagainya (Gal 5:21-23). Secara teologis, kesabaran berhubungan dengan sifat Allah yang tidak pernah kehilangan kebaikan dalam menanti pulangnya manusia ke jalan yang benar. 

Dalam perspektif Islam, kesabaran (Arab, sabr) termasuk salah satu keutamaan penting dan terbaik yang harus dimiliki. Melalui kesabaran umat Islam percaya bahwa manusia secara pribadi dapat bertumbuh dan menjadi semakin dekat dengan Allah, dan dengan begitu, mencapai kedamaian yang sejati. Juga bahwa manusia harus meneladani sifat Allah yang selalu sabar dan menolong mereka yang sedang dalam kesusahan dan penderitaan (Surah Al-Baqarah 155-156). Tentang ayat ini, Quraish Shihab, ekseget Alquran Indonesia mengatakan, “Sabar adalah perisai dan senjata orang-orang beriman dalam menghadapi beban dan tantangan hidup.”

Lalu, mengapa kesabaran menjadi watak yang penting dan dibutuhkan dalam karier politik? Menurut Dr. Richard L. Cooper (An Introduction to the Academic Politics in Agricultural Research, Dorrance Publishing Co., Inc., Pennsylvania: 2009) kesabaran adalah alat politik (political tools) yang paling penting. Ini berhubungan dengan upaya mencapai atau meraih tujuan politik tanpa menciptakan permusuhan dengan orang/pihak lain (hlm. 18). Bagi Richard L. Cooper, kesabaran itu penting dalam politik karena kuatnya kompetisi antarindividu (antarpolitisi) dengan agenda untuk mencapai pengakuan (recognition) dan status profesionalitas (hlm. 21). 

Dua hal terakhir menegaskan kuatnya persaingan antarfigur politik dalam PDIP, terutama antara Frans Lebu Raya dan Andreas Hugo Parera. Berdasarkan pemahaman Richard L. Cooper tersebut, kita bisa mengatakan bahwa pertama, kedua figur dan politisi senior ini memiliki agenda dan tujuan politik jangka pendek yang ingin dicapai, sebagiannya telah menjadi konsumsi publik, terutama ketika memperebutkan dukungan politik dalam Pemilihan Umum 2019, suksesi di NTT atau bahkan perebutan pengaruh elitis di kantor pusat. 

Menang dalam kompetisi akan menegaskan hal kedua yang dikatakan Richard L. Cooper, yakni pengakuan (recognition) tentang siapa yang paling memiliki kekuasaan dan pengaruh dalam jagat politik tertentu. Dalam arti itu, kompetisi menjadi sangat keras bukan pertama-tama demi uang atau materi tertentu, tetapi demi harga diri, pengaruh, dan keluhuran nama dalam karier poitik.

Dalam konteks semacam inilah kesabaran harus dipahami dalam dinamika politik. Bakal calon bupati Lembata yang saya temui minggu lalu itu tampak begitu yakin dan menaruh seluruh harapannya pada pundak Frans Lebu Raya. 

Saya tahu kadang-kadang dia gundah, tetapi lebih banyak dia menampakkan aura kesabaran. Itu karena dia begitu yakin, Frans Lebu Raya akan memenangi persaingan itu, di kantor pusat. Saya diyakinkan, bahwa SK untuk balon Bupati itu sebenarnya sudah ditandatangai Bu Mega, tetapi belum diberikan ke Frans Lebu Raya karena alasan-alasan internal tertentu. 

Dan ketika publik, terutama kita yang tergabung dalam grup medsos ini begitu gaduh dan kurang yakin karena kita belum melihat SK dengan mata kepala sendiri, kita barangkali termasuk kelompok yang belum mengerti politik dengan seluruh dinamikanya.

Kesabaran tentu memiliki risikonya sendiri. Balon Bupati Lembata yang saya temui minggu lalu itu memiliki posibilitas dukungan 50 persen dari DPP sebelum mengantongi SK. Itulah pertaruhannya. Dan itulah juga irasionalitas politik dalam pemahaman saya, persis ketika karakter politik itu yang absen dari elemen prediktabilitas. Tetapi itu masalah personal saya. Jika mau menjadi politisi, ya harus mengikuti irama permainan yang demikian.

Bagaimana dengan sosok balon Bupati Lembata yang “kalah” karena tidak didukung DPP? Lebih dari kekalahan personal, kegagalan itu mencerminkan ketangguhan elit politik dalam melakoni perang dan pengaruh di tingkat elit. Maka yang paling menderita adalah elit politik yang berperang di tingkat DPP itu sendiri. 

Bagi orang Lembata, jika kemudian Andreas Hugo Parera adalah pihak yang “kalah”, ini sebetulnya sebuah pembalasan yang manis pasca terdepaknya Honing Sani dari kursi DPR. Figur terakhir ini sangat dekat dengan hati orang Lembata. 

------------- 



Redaksi menerima tulisan berbentuk artikel, laporan perjalanan, dan opini. Tulisan harus orisinal dan belum pernah dipublikasikan di media lain. Pengiriman disertai alamat email dan nomor telpon/HP. Redaksi berhak mengedit tanpa mengubah substansi isi.

Kirim artikel, laporan perjalanan, dan opini  ke email : redaksijurnaltimur@gmail.com

Tidak ada komentar