KOLOM PASKALIS KOSSAY : Perang Suku Wajah Tradisional Kita
Oleh Paskalis Kossay
Peradaban dunia semakin berkembang maju pesat ditandai
dengan kemajuan ilmu dan teknologi serta globalisasi kehidupan sosial budaya,
politik, dan ekonomi yang berpengaruh signifikan dalam merubah pola hidup serta
perilaku tradisi kehidupan lama menuju peradaban baru di planet bumi ini.
Seiring dengan kemauan kehidupan peradaban baru, masyarakat
di belahan dunia lain sedang berjibaku mempertahankan eksistensi hidup dengan
memajukan kualitas hidupnya sebagai komunitas masyarakat moderen dengan
meninggalkan pola hidup lama yang berbau tradisional , yang penuh dengan
berpandangan skeptis, pesimis, iri, dengki, dendam dan emosional menuju
masyarakat moderen yang berpandangan moderat, demokratis. Optimistis, damai,
sejahtera, maju , mandiri dan berintegritas serta ber - Tuhan.
Tetapi di belahan dunia lain masyarakatnya hidup dalam
situasi peperangan, konflik antar suku, antar sesama saudara, antar agama,
bahkan antar negara menyebabkan kehidupan rakyat terusik keluar dari habitatnya
menjadi korban jiwa, korban pengungsian, tidak ada kedamaian , penuh dengan
kekerasan membawa mereka pada situasi ketidak pastian masa depan yang lebih
baik , maju dan sejahtera.
Kondisi kekerasan ini masih dialami oleh masyarakat Papua
saat ini. Ada beberapa Kabupaten di wilayah pegunungan tengah Papua sedang
mengalami kekerasan dan konflik akibat perang antar suku. Perang suku ini
merupakan tradisi masyarakat Papua, rupanya masih langgeng di tengah kehidupan
komunitas kehidupan orang Papua. Hal ini terlihat dari masih adanya perang antar
suku di Kabupaten Monika yang terus membara, menyusul Kabupaten Yahukimo,
Jayawijaya, Tolikara, Nduga dan Lani Jaya.
Selain perang antar suku, kekerasan lain yang masih membara
dalam kehidupan masyarakat papua adalah, konflik yang bersifat vertikal antara
masyarakat dengan aparat negara. Kekerasan dalam konteks ini intensitas
kejadiannya cukup tinggi sehingga berpengaruh besar membawa rakyat Papua menuju
ketidak pastian hidup kedepannya.
Kembali kepada perang suku, bahwa di masa dulu, perang suku
adalah bagian dari ciri khas kekuasaan politik tradisional orang Papua. Setiap
suku di Papua memiliki pandangan perang masing - masing. Tetapi Papua umumnya
hakekat perang suku merupakan unjuk ketangguhan , keberanian dan keperkasaan
suku atau seorang kepala suku dalam wilayah aliansi perang sekaligus
mendongkrak derajat seseorang kepala suku atau seorang tertentu sebagai tokoh
panutan atau tokoh yang berpengaruh dan disegani masyarakat lain. Membunuh
orang ( musuh ) dalam perang adalah prestisius besar dicapai oleh seorang (
pembunuh ) karena itu prinsip orang papua perang adalah ajak merebut derajat
sosial maka setiap orang laki - laki dituntut harus berani berani berperang dan
harus berani membunuh musuh.
Adapun deskripsi di atas adalah sebuah cerita lama ( dongeng
) yang sudah ditinggalkan selama 165 tahun sejak Papua memasuki peradaban baru
yang diawali dengan masuknya Injil Tuhan 1885. Dengan penyebaran Injil Tuhan
di seluruh persada tanah Papua, maka tradisi perang antar suku sudah lama
ditinggalkan. Masyarakat Papua mulai memasuki tradisi kehidupan baru dengan
penuh kasih antar sesama , antar suku dan antar konfederasi perang sehingga
tidak ada lagi gab permusuhan , tetapi yang terjadi adalah perpaduan dan
integrasi sosial yang semakin kohesif dan kuat.
Namun sayang sekali nilai kohesifitas sosial diantara
masyarakat itu kini mulai terganggu akibat munculnya kembali tradisi perang
suku. Masyarakat papua mulai saling membunuh antar sesama warga dan antar suku
. Hal ini membuat emosi dan jiwa tradisi perang suku mulai muncul. Sesama orang Papua mulai mempeta - petakan komunitas suku berdasarkan konfederasi perang
suku lama. Masing - masing saling meningkatkan ketegangan insting perang .
Sedikit tersulut masalah entah sosial, ekonomi, atau politik langsung meletus
perang suku.
Kita belum pastikan apa faktor penyebab perang suku bisa
muncul kembali. Pemerintah daerah pun sampai hari ini tidak memiliki sebuah
kajian yang jelas apa penyebab munculnya kembali jiwa perang suku masyarakat
papua. Pemerintah daerah cuma melihat sebatas fakta penyebab masalah
di lapangan. Belum punya konsep yang tepat untuk menelusuri apa penyebab pemicu
perang suku. Oleh karena itu dampaknya jelas, perang suku semakin menjadi -
jadi dan meluas dibeberapa kabupaten. Pemerintah hanya datang sebagai pemadam
kebakaran dan bara apinya tidak sanggup dipadamkan sama sekali.
Pemerintah daerah mestinya harus memiliki konsep yang jelas
dan komprehensif menyelesaikan perang suku ini secara tuntas. Karena itu perlu
dilakukan studi komprehensif pula agar bisa dapat memastikan apa penyebab
munculnya perang suku . Bukan datang dilihat kasuistis peristiwa di lapangan ,
didorong pendekatan keamanan lalu diselesaikan masalah. Hal itu sebenarnya
langkah pre-entif , tetapi langkah preventif dengan menggali dasar motif
munculnya perang suku perlu diselidiki dan harus dimiliki oleh pemerintah
daerah. Maka dengan dasar kajian tersebut memudahkan pemerintah untuk mengambil
langkah penyelesaian perang suku secara tuntas dan permanen. Jika tidak
memiliki hasil studi yang jelas, tentu penyelesaian perang suku hanya asal -
asalan dipermukaan sesuai fakta peristiwa lapangan saja dan konsekwensinya
perang suku akan tetap muncul sewaktu - waktu. Oleh karena dendam perang masih
membara di setiap konfederasi perang.
Setelah mempelajari kecenderungan meletusnya perang suku
yang terjadi belakangan ini, maka saya berpendapat kebangkitan jiwa perang suku
dipicu oleh beberapa hal :
Pertama, Pengaruh perkembangan politik bangkitnya
nasionalisme papua merdeka. Dalam kaitan ini ,orang papua dalam beberapa tahun
terakhir tengah dihadapkan aktivitas politik yang menjurus kekerasan dan perang
melawan musuh. Hal ini memicu naluri perang orang papua kembali dan mulai
mempersiapkan diri dengan peralatan perang tradisional entah, busur panah, tombak
, pisau dan kampak .
Kedua, Pengaruh munculnya naluri perang ini dan dengan
persiapan peralatan perang maka hukum adat kembali menuntut . Kata orang pemali
kalau peralatan perang tidak segera digunakan dalam medan perang akan dimakan
tuannya sendiri. Karena itu dengan dipicu oleh masalah sepele saja berpengaruh
besar memicu perang suku.
Ketiga, Konflik dan kekerasan yang dialami warga dari
pendekatan represif aparat TNI dan Polri juga berpengaruh signifikan munculnya
naluri perang . Penembakan warga semena-mena tanpa dipertanggung jawabkan
secara hukum menimbulkan dendam dan sakit hati yang sangat mendalam lalu muncul
naluri perang. Dalam situasi demikian , apapun bentuk alasannya setiap
masalah yang muncul tentu dihadapi dengan tindakan kekerasan.
Keempat, Kebijakan pemerintah daerah yang tidak berpihak
pada kepentingan rakyat. Hal ini dibeberapa daerah sudah terbukti, seperti di
Puncak Jaya, Puncak, Tolikara dan Yahukimo . Rakyat protes kebijakan bupati
kemudian berujung konflik perang antar suku. Pada umumnya masyarakat papua
gunung naluri perangnya sudah lama muncul akibat dari konflik dan kekerasan
yang dialami lama. Dampaknya ketika kebijakan bupati yang tidak berpihak pada
rakyat atau masalah lain tentu memicu konflik perang.
Kelima, Provokasi pihak luar dengan dalih politik , ekonomi
atau hukum bisa membangkitkan naluri perang antar suku . Kelompok provokator
tersebut bertepuk tangan dan menikmati hasil diatas penderitaan dan pengorbanan
rakyat Papua.
Beberapa alasan tersebut diatas saya lihat secara kasat
mata, tetapi perlu studi lebih dalam apa sebenarnya faktor yang mendorong
timbulnya perang suku sesama orang papua belakangan ini. Pada hal papua saat
ini berada pada peradaban millenium abad 21 dimana tradisi perang sudah lama
ditinggalkan sejak 1885 Injil Tuhan masuk di tanah Papua.
Kita perlu
introspeksi bagaimana posisi Papua hari ini dan mengapa orang papua harus
menyelesaikan masalah dengan perang suku . Padahal Gereja dan pemerintah ada
sejak lama, sudah hidup berbaur dengan lintas suku , agama dan etnis. Tetapi
mengapa orang Papua tetap muncul naluri perang. Memang perlu penelitian
mendalam. Mudah - mudahan Uncen atau Unipa bisa memprakarsai studi terhadap
munculnya perang suku ini.
Paskalis Kossay, Intelektual dan Politisi Papua

Tidak ada komentar