Jan Riberu, Seorang Guru
![]() |
| Dion Pare (kiri) sedang memandu jalannya diskusi buku Dr. J. Riberu, dengan pembicara Dr. Yudi Latif dan Bramantyo Djohanputro, PH.D, 27 Januari 2018 |
Oleh Dion Pare
Sabtu,27 Januari 2018, ada seminar dan peluncuran buku Dr. Jan
Riberu, yang berjudul "Pegulatan Pemikiran Dr Jan Riberu, Pendidikan, Relasi
Agama-Negara dan Pancasila". Ini adalah tema-tema besar. Tapi, suasana seminar
merujuk ke satu hal: Jan Riberu, Seorang Guru.
Mengawali presentasi pokok pikirannya, Yudi Latif bercerita
bagaimana ia berkenalan dengan seorang Jan Riberu. Yudi Latif, seorang
cendekiawan muda, baru saja meluncurkan bukunya "Negara Paripurna: Pancasila,
Historisitas, Rasionalitas, Aktualitas", pada tahun 2011. Ia mendapat sebuah
surat dari Jan Riberu, sebuah nama, yang tidak begitu dekat dengannya.
Dalam
surat itu, cerita Yudi, Pak Jan menunjukkan berbagai bagian dalam buku
tersebut, yang berupa salah kutip, salah eja bahasa asing dan berbagai hal yang
perlu diperbaiki. Yudi merespons positif dengan merevisi bukunya. Di sini,
jelas, Jan Riberu tidak menanggapi terbitnya buku Yudi Latif dengan kritik yang
bertubi-tubi melalui media masa. Ia memilih menulis surat langsung kepada
penulisnya.
Yudi memandang sikap yang diperlihatkan oleh Jan Riberu
sebagai kejujuran dan kerendahan hati. Itu yang Yudi kagumi dari seorang Jan
Riberu. Yudi tidak menyebut sikap Pak Jan Riberu sebagai seorang guru. Saya
menilai, itu adalah sikap dan tindakan seorang guru.
Kesaksian lain datang dari seorang Daniel Dhakidae, seorang
ilmuwan politik yang diakui reputasinya. Dengan gayanya yang tampak hiperbolis,
tapi benar, Daniel menyebut bahwa Jan Riberu adalah seorang guru yang hebat.
Guru yang hebat, demikian Daniel, adalah guru yang memberikan sesuatu yang
terus diingat oleh muridnya.
Apa yang terus diingat Daniel seumur hidupnya, sampai saat
ini? Metode membaca. Mengutip Pak Jan, Daniel mengatakan bahwa cara
membaca kata pertama sampai kata terakhir adalah cara membaca yang paling
bodoh. Tentu saja itu mengejutkan, kata Daniel. Cara membaca yang diajarkan Pak
Jan Riberu adalah analitical reading, synthetical reading dan sistem kartu tek
(mencatat pokok pikiran pada sepotong kertas). Keterampilan itulah yang Daniel
bawa dan praktikkan dalam sepanjang hidupnya hingga saat ini.
Ignas Kleden, seorang muridnya, yang lain, juga merupakan
seorang intelektual dan sosiolog yang reputasinya tidak bisa disangkal lagi.
Ignas menyebut, Pak Jan adalah seorang guru yang hebat karena membuat hal yang
sulit menjadi gampang, bukan seperti saat ini, dengan mengutip Ignas sendiri,
"membuat hal gampang menjadi sulit dengan meruwetkannya."
Ketika turut terlibat dalam penyuntingan buku ini dan
membaca riwayat hidupnya, saya menangkap impresi yang sama. Pak Jan Riberu
lahir dan menjalani hidupnya sebagai seorang guru. Tidak menggurui tetapi
meyakinkan. Ia berbicara dengan gaya magisterialnya. Ia menjelaskan dan
meyakinkan mengapa sesuatu harus demikian. Ia melakukan peran itu dalam
berbagai bidang kegiatan di mana ia terlibat. Hal itu diakui oleh Pak Stef Agus,
mantan Dirjen rekan kerjanya dulu di PPM Manajemen. Jika ada hal yang kurang
jelas, tanyakan kepada Pak Jan, masalah akan dengan mudah terurai.
Sebagaimana terungkap dalam riwayat hidupnya, menjadi guru
adalah cita-cita masa kecilnya. Cita-cita yang terinspirasi dari ayahnya, juga
seorang guru. Ia mendapat gelar doktor dalam bidang pedagogi, yang memiliki
dasar dalam ilmu psikologi. Ia melakukan peran itu dalam lingkungan besar atau
pun kecil, di lingkungan di mana beliau tinggal.
Dalam usianya 86 tahun lebih, Pak Jan tampak sehat, tetap
segar dan pikirannya tetap jernih. Selamat Pak Jan Riberu.

Tidak ada komentar