Mengenang Emmanuel Subangun
Oleh Daniel Dhakidae
Kita semua kehilangan besar dengan kepergian saudara kita
semua, Emmanuel Subangun! Kami lebih jadi anggota keluarga daripada teman yang
bersama-sama mengalami keadaan susah dan senang.Dia pemikir nakal tapi cerdas,
tidak pernah takluk pada kerutinan, dan selalu mencari sisi lain dari hidup dan
kehidupan.
Salah satunya adalah ketika rumah kontrakan kami di bilangan
Rawasari pada suatu musim hujan akhir tahun 1970-an atau awal 1980-an ditimpa
hujan Jakarta yang berlangsung dari jam 5 sore sampai jam 2 siang besoknya. Air
masuk ke dalam rumah hampir setinggi satu meter, dan kami semua duduk di atas
dipan. Tiba-tiba Em, begitu dia kami panggil, berteriak sambil ketawa khas: “OK
teman-teman mari kita diskusikan revolusi sambil ditenggelamkan air bah
Jakarta.”
![]() |
| ilustrasi |
Itulah sinisme Emmanuel Subangun yang kelihatan seperti
“nakal” dari muda sampai tua; akan tetapi di dalamnya tersembunyi sesuatu yang
khas Emmanuel yaitu tidak pernah diskursusnya itu terpisah dari retorika dalam
artinya yang asli dan khas sebelum istilah itu diperkosa oleh kaum politisi,
yang sekedar mencari perhatian publik untuk mendapatkan suara.
Salah satu jalan yang dibuka lebar-lebar adalah
mengembalikan retorika ke dalam suatu jalur epistemologi yang asli.Bukan dalam
artinya yang sudah diperkosa semua orang tetapi retorika di dalam arti berikut
ini. Retorika itu epistemik, epistemology,dan ontologi, dan ketiga-tiganya
adalah pada dirinya sendiri retorika.Dalam pandangan ini realitas adalah secara
fundamental simbolik; aksi adalah bahasa yang memiliki tubuh; dan bahasa
menjadi unit primer dari pengetahuan empiris.Tidak ada pengetahuan tanpa
bahasa, karena itu Emmananuel mengolah bahasa Indonesia setuntas-tuntasnya.
Dalam hubungan itu berikut ini adalah sesuatu yang khas
Emmanuel. Kemampuan retorikanya terbina dengan kuat dalam setiap tulisannya,
yang dengan retorikanya mempermainkan bahasa, ontologi, dan epistemologi,
seperti yang dikatakannya berikut ini yang lucu tapi getir, keras akan tetapi
melukiskan keadaan senyata-nyata:
“Saya bukan seorang sinis untuk menertawakan keadaan di mana
seorang sarjana menyiapkan kopi untuk tuan direkturnya, membeli nasi bungkus
untuk "sekretaris genit-genit" dan "norak-norak" yang akan
turun gengsi kalau "lunch di kaki lima".
“Namun, saya juga cukup menjadi seorang realis yang mampu
menerima keadaan di mana seorang salah tempat dan setiap tempat salah orangnya,
social displacement.Apa salahnya kalau seorang doktorandus menjadi tukang
jahit, tukang beli nasi bungkus, tukang sapu, tukang cuci kakus.”
Nama social displacement pun salah nama karena seorang baru
boleh mengatakan “salah tempat” kalau ada orang yang punya hak khusus untuk
mengambil suatu posisi khusus di dalam kehidupan seperti yang diwariskan
nenek-moyangnya, baik nenek-moyang biologis maupun nenek-moyang akademik.
“Siapa yang menentukan bahwa Kementrian Luar Negeri milik
Fisip UI? Siapa yang menentukan bahwa Kementrian Dalam Negeri milik UGM? Siapakah
yang menentukan bahwa Kementrian Pertanian milik IPB? Dan siapa pula yang
menentukan bahwa menjadi wartawan adalah hak khusus milik Institut Pertanian
Bogor?”
Dengan kata lain hampir tidak ada yang disebut sebagai
masalah “salah tempat” dan “salah orang” itu; yang ada adalah pertarungan
bebas—meski perlu juga dikatakan adalah ilusi mengatakan itu pertarungan
bebas—karena merebut posisi social berlangsung dengan seluruh perlengkapan yang
dimiliki seseorang— anak kota lebih unggul dari anak desa, anak Jakarta lebih
unggul dari anak-anak lain; yang menguasai bahasa Inggris lebih unggul dari
yang tidak.
Dengan semua yang dikatakan di atas itu sinisme Emmanuel
bukan lagi sinisme akan tetapi kenyataan pahit yang harus ditelan semua orang,
meskipun hanya orang dengan kelasnya Emmanuel Subangun semua itu bisa dan
berani dikatakan dengan semua risiko---yang dia tanggung sepanjang hidupnya dan
memang hidupnya penuh risiko.
ADIEU MON AMI! SELAMAT JALAN KAWAN!
PERDUCANT TE ANGELI ET ARCHANGELI AD SEDEM PATRIS!
SEMOGA MALEKAT-MALEKAT MENGHANTARMU KE HARIBAAN BAPA!
Daniel Dhakidae,
Jakarta,
3 Desember 2017
Catatan : Tulisan ini diambil dari status Facebook Daniel Dhakidae

Tidak ada komentar