Warga Kampung Terpencil Basira, Dihibur Fajar Band
JURNALTIMUR.COM--Siang itu, tanggal 8 Oktober 2017 panas terik tidak memadamkan semangat syukur umat Katolik di sebuah paroki terpencil di Keuskupan Larantuka. Jujur, di Basira, sebuah kampung di
ujung timur Flores, tepatnya di tengah-tengah pohon-pohon mente,
berdiri megah sebuah panggung, beratap daun pohon lontar. Panggung ini dibangun dengan desain Rumah Adat
(korke).
Di panggung itu, tertulis
sebuah tagline, “Tuhan memerlukannya.” Ternyata panggung itu, pada beberap jam
sebelumnya berfungsi sebagai panti imam misa syukur tahbisan imam, RD Martinus
Pala Weruin.
Cerita lain di balik misa syukur imam diocesan Larantuka
asal Basira itu, tak lain adalah hadirnya band papan atas Flores Timur. Band
yang sudah menelurkan tiga album lagu daerah Flotim ini, seolah-olah tidak
peduli dengan keterpencilan kampong Basira.
Mereka bahkan sudah hadir di kampung di Basira, dua hari sebelum misa syukur.
![]() |
| Fajar Band saat menghibur warga Basira (foto : panus) |
Opin Bahy, Nuzantara Bahy dan kawan-kawan, terlihat serius
mempersiapkan diri untuk manggung di kampung yang terisolir dan bebas signal
handphone itu. Opin Bahy, sang pemain keybord terlihat serius otak-otak sound
system karena pasokan arus sangat terbatas. “Walaupun pasokan arus terbatas,
kami tetap berusaha tampil live yang sama baiknya kami tampil di kota-kota, dan
kampong lain,” ujar Opin Bahy dalam obrolan sehari sebelum manggung.
Lebih dari itu, Basira mempunyai arti tersendiri bagi sang drummer,
Nuzantara Bahy. “Basira, adalah konser pertama kami, setelah manggung di Malaysia,”
ujar Nuzantara Bahy. “Walaupun
terpencil, warga Basira memiliki apresiasi seni yang luar biasa,” ujar Drumer
Fajar Band, Nuzantara Bahy dalam obrolan hari itu dengan jurnaltimur.com.
Melihat postingan video performance vokalis Edy Lasaren yang
menyanyikan lagu “Rindu” di facebook, Nuzantara menyahut “Rindu, rindu, Basira. Ternyata,
kampung Basira yang terpencil itu dirindukan oleh personil Fajar Band. (panus)

Tidak ada komentar