In Memoriam Lorens Tato, “Suara Diam dari Gondangdia”
![]() |
| Lorens Tato Gani (1955-2017) |
JURNALTIMUR.COM,-
Sejak, Metro TV membuka rubrik membaca editorial Harian Media Indonesia di pagi hari,
sejak itu pemirsa pun mengenal dan mengakrabi suara Lorens Tato. Suara yang bergetar, tegas dan memiliki posisi penguasaan akan kejelasan persoalan, menjadikannya narasumber dari Media Indonesia yang selalu dinantikan pemirsa.
Jauh
sebelum tampil di Metro TV, Lorens Tato sudah banyak banyak menulis untuk pembaca baik tulisan
reportase maupun opini dan editorial. Dari Gondangdia - Jakarta Pusat, kemudian ke Meruya Jakarta Barat tempat ia bekerja, tulisannya pun selalu dinanti-nantikan pembaca. Lorens Tato adalah wartawan senior media
Indonesia, sempat jadi pemimpin redaksi, walau lebih banyak waktu duduk sebagai
redaktur.
Membuka hari pada minggu ke tiga bulan September, Senin 18
September 2017, pukul 10.15 WIB, Lorens
Tato tutup usia di Rumah Sakit Siloam-Jakarta. Berita segera terbesar dan memang kepergiannya untuk selama-lamanya, sungguh dirasakan sebagai sebuah kehilangan,
Lorens Tato Gani, lama terbaring sakit. Sejak Oktober 2013, saat ia mendapatkan stroke, cerita tentang dirinya pun selalu diwarnai dengan cerita tentang sakit yang dideritanya. Jagad jurnalis yang selalu bersentuhan dengan politik, selalu menghadirkan sosok ini sebagai terang dalam membaca soal sesungguhnya. Tapi karena sakit. orang pun memaklumi, dan hanya mengingat-ingat apa yang pernah ia katakan.
Lorens Tato Gani, lahir di Wekaseko, Desa Tendatoto (kini
Desa Tendakinde), Nagekeo, Flores 19 Agustus 1955. Sebagaimana banyak
pemuda Flores yang memilih mengenyam pendidikan menengah di Seminari, Lorens pun
tercatat sebagai siswa seminari , St Yohanes Berkhmans, Todabelu, Mataloko,
Flores.
Lagi-lagi, sebagaimana cerita yang selalu menjadi kenangan para
seminaris tentang seniornya, Lorens mendapat tempat tersendiri di kalangan siswa-siswa seminari. Ia selalu diceritakan sebagai murid yang
cerdas, karena selalu mendapatkan nilai 9 dalam ujian. Itu nilai yang tertinggi, karena nilai 10 punya Tuhan.
Tamat seminari, Lorens yang juga pandai bermain bola ini, tidak melanjutkan ke pendidikan calon
imam, sebagai kelanjutan pendidikan seminari menengah. Ini tentu mengherankan, karena siswa yang pintar pasti betah dengan jalan
yang sudah dipilihnya. Sekurang-kurangnya oleh guru selalu memotivasi agar tetap di jalan yang semula di pilih untuk menjadi imam katolik.
Tapi itulah kehidupan, apa yang diimpikan dan direncakan, kadang harus bernegosiasi dengan situasi yang selalu berubah-ubah. Saat teman-temannnya berpindah kopor ke seminari tinggi,
Lorens memilih membawa kopornya kembali ke rumah, dan tinggal di Kampung.
Jakarta ? Ya itulah mimpi anak kampung. Bukan karena
metropolitan, tapi Jakarta dan kota-kota besar di Jawa menawarkan kehidupan intelektual yang cukup baik. Belajar di seminari, sudah cukup untuk mengenal siapa-siapa yang beropini ria di koran-koran dan buku-buku terbitan ibukota.
Lorens memutuskan hijrah ke Jakarta. Di kemudian hari ia tercatat sebagai mahasiswa di FISIP,
Universitas Indonesia. Dari kampus Universitas Indonesia, Lorens akhirnya memasuki dunia jurnalistik, dunia tulis menulis dengan bekerja di Koran Prioritas. Sebelumnya, sempat di Harian Jurnal Ekuin yang terbit tahun 1980.
Lorens sudah mendapat identitas sebagai wartawan, yang barangkali di
kalangan orang-orang Flores tempat asalnya memandangnya sebagai sebuah pekerjaan yang luar biasa penting. Bahkan menjadi wartawan adalah menjadi warga negara Indonesia, karena Flores yang jauh dan sepi itu, kini bisa bicara dalam konteks Indonesia secara luas.
Lorens adalah penulis tajuk untuk koran prioritas. Tidak banyak yang terpilih untuk itu. Untuk dirinya sendiri, kekhasan sebagai pemuda
Flores mendapat tempat yang pas. Lugas, tajam namun jenaka. Ketika Koran Priortias berganti ke Media Indonesia, Lorens masih tetap dipercaya mengampuh
editorial.
Lorens dikenal sebagai sosok yang cerdas dan hangat. Tampil dalam hidup yang sederhana, ia pun banyak melontarkan humor-humor segar. Masalah serius diulas dengan bahasa yang mudah dimengerti, tanpa terjebak untuk menyederhanakan persoalan. Di tangan Lorens Tato, tak ada perbedaan Priortas dan Media Indonesia untuk soal editorial. Ini juga yang membuat
Koran Media Indonesia cepat merebut hati pembaca.
Di tengah kesibukan sebagai wartawan, dalam tahun- tahun terakhir Lorens mulai dikenal sebagai politisi dengan hadirnya Partai Nasdem. Ia sempat
dicalonkan sebagai calon anggota legistalif dapil Flores-Lembata-Alor. Jalan
hidupnya pun berubah.
Walau politik menjnjikan perbuatan yang lebih dari jurnalis, dunia jurnalis tak semudah ia tingalkan. Ia masih datang ke Kupang,dan bersama beberapa wartawan di Kupang melahirkan Koran Viktory News. Ia masih sempat berbagi cerita dan berdiskusi menabur harapan bersama jurnalis NTT. Ia politisi akhirnya, namun jurnalitik sudah menjadi darah dagingnya.
Walau politik menjnjikan perbuatan yang lebih dari jurnalis, dunia jurnalis tak semudah ia tingalkan. Ia masih datang ke Kupang,dan bersama beberapa wartawan di Kupang melahirkan Koran Viktory News. Ia masih sempat berbagi cerita dan berdiskusi menabur harapan bersama jurnalis NTT. Ia politisi akhirnya, namun jurnalitik sudah menjadi darah dagingnya.
Daniel Dhakidae, diakun Facebooknya menulis :
Perjalanan hidupnya mengungkapkan sesuatu jenis hidup yang
biasa karena jarak antara pekerjaan seorang wartawan dan politikus adalah jarak
pendek, dan ini hanya untuk mengatakan bahwa sangat mudah seorang wartawan
bergeser posisi menjadi seorang politikus.
Sebagai wartawan dia menjadi wartawan yang dengan berbagai
ukuran termasuk seorang wartawan dan editor yang berhasil. Kesaksian teman-temannya
memperkukuh anggapan ini: “Bang Laurens adalah sosok penulis editorial dan guru
yang tidak tergantikan. Diksi bang Laurens selalu terpilih, orisinal, otentik,
jenaka, dan kaya paradox.” Kejenakaannya, misalnya keluar dalam editorial yang
ditulisnya tentang ketidaksetujuannya terhadap Dewan Perwakilan Rakyat
membangun gedung besar-baru-mewah. Itu disebutnya sebagai “penghuni miring di
gedung tegak”.
Namun, dia meninggalkan dunia yang menjadi tempat akrabnya
yaitu dunia jurnalistik dan masuk ke dalam dunia politik, dunia baru praktis
untuk Laurens. Baru dari suatu dunia yang penuh intrik, innuendo, dan
jebakan-jebakan yang kentara dan tidak kentara.
Dan itulah urutan terakhir yang dijalankan Laurens yaitu
menjadi politikus profesional dari Partai NASDEM. Di tengah kampanye pada
pemilihan umum 2014 dia berkampanye di Flores, tanah tumpah darahnya sendiri.
Berkampanye di kampung sendiri belum tentu menjadi suatu wilayah mudah. Untuk
itu dia berkampanye tanpa mengenal lelah dan justru bekerja tanpa mengenal
lelah di tengah keluarga sendiri jauh lebih penuh risiko. Semuanya itu yang
menyebabkan dia terkena stroke yang keras dan sejak itu tidak bisa mengeluarkan
suaranya lagi sampai akhir hayatnya.
Ini menjadi titik-balik yang sangat menentukan hidupnya.
Berpolitik artinya mengeluarkan suara; tanpa suara tidak bisa berpolitik.
Berjurnalistik tidak perlu mengeluarkan suara akan tetapi memberikan tenaga,
power dan empowerment pada kata-kata yang berlangsung sebegitu rupa sampai
mengubah dunia. Dia berhasil di sini meski tidak mencapai tujuan politiknya.
Namun, semuanya itu cukup untuk menjadi bekal di akhirat
karena di sana tidak akan ditanya “siapa yang sudah kau kalahkan dan siapa kau
taklukkan”---pertanyaan khas politik; akan tetapi “siapa yang sudah kau
cerahkan, agar hidupnya lebih bermakna” di bumi--- pertanyaan khas untuk dunia
jurnalistik dan intelektual.
Tulisan Daniel itu sudah cukup untuk mengakhiri tulisan ini.
Selamat jalan Senior. (Benjamin Tukan)

Tidak ada komentar