Jalur Tengah Nubatukan Rusak Parah, Uji Nyali ke Wulandoni
![]() |
| Ruas Jalan Kerbau Kenoki (Foto Yogi Making) |
LEWOLEBA, JURNALTIMUR.COM,- Parah sekali, mungkin inilah
kata yang pas untuk menggambarkan kondisi ruas jalan poros tengah menuju
pedalaman Kecamatan Nubatukan hingga desa-desa di Kecamatan Wulandoni, Kabupaten Lembata-Nusa Tenggara Timur. Entah
kenapa, ruas jalan jalur tengah yang senantiasa menjadi jalan alternatif menuju
desa-desa pesisir Kecamatan Wulandoni ini nyaris luput dari perhatian
pemerintah.
Wajar, kondisi jalan yang sangat rusak ini terus
dikeluhkan masyarakat, karena fungsi jalan sangat vital bagi pergerakan roda
perekonomian secara keseluruhan mulai dari perkotaan hingga ke pedesaan.
Melintas di jalan ini tidak saja membutuhkan kendaraan yang fit, namun nyali
pengemudi pun harus benar teruji.
Sabtu, (29/7/2017) media ini berkesempatan untuk memantau
ruas jalan jalur tengah hingga ke pesisir selatan kecamatan Wulandoni. Medan
terparah sudah ditemukan kurang lebih sepuluh kilometer dari kota Lewoleba,
atau tepatnya di sekitar desa Paubokol Kecamatan Nubatukan, semakin jauh ke
padalaman semakin parah kondisi jalan yang kita temui.
Pada segmen ini terdapat sungai yang belum dibangun
jembatan. Informasi yang berhasil dihimpun menyebutkan, bila musim hujan tiba,
ruas jalan yang terhitung dari desa Paobokol hingga desa Udak Melomata, putus
total. Selain karena derasnya aliran sungai dan bertambahnya debit air, juga
terdapat jalan tanah yang becek akibat terendam air hujan.
Padahal peningkatan jalan poros tengah menuju kecamatan wulandoni
menjadi penting, karena jalur ini menghubung kota Lewoleba dengan desa-desa
kantong ekonomi. Desa-desa pedalaman Kecamatan Nubatukan hingga beberapa desa
di kecamatan Wulandoni merupakan desa dengan masyarakatnya yang menggantungkan
hidup pada komiditi pertanian. Kemiri, kopi hingga cengkeh adalah hasil
pertanian yang menjadi andalan warga di wilayah ini. Selain itu daerah ini juga
terkenal sebagai daerah penghasil buah dan sayuran.
Selain itu, pembangunan jalan menuju jalur perdesaan mutlak
diperlukan guna memperlancar distribusi barang kebutuhan masyarakat dari kota
ke desa dan sebaliknya memperlancar distribusi hasil pertanian dari desa ke
kota.
Kondisi serba parah ini menjadikan situasi berbanding
terbalik. Harga komoditi pertanian anjlok sebagai akibat sulitnya transportasi,
sementara barang industri di perdesaan menjadi mahal mengingat besarnya biaya
trasnportasi untuk mendatangkan barang dari kota.
Kerbau Kenoki Ruas Terparah
Kerbau Kenoki, ruas jalan ini selalu menjadi momok bagi
siapa saja yang melintas. Di ruas jalan ini nyali setiap penggemudi diuji.
Selain posisi jalan yang menurun dengan kemiringan mencapai 30 derajat,
bebatuan lepas dan jurang terjal pada sisi jalan senantiasa menemani pelintas
sepajang kurang lebih satu kilo meter. Kondisi yang demikian, diperparah lagi
dengan badan jalan yang sempit dan terdapat tebing rawan longsor.
Stanis, salah satu warga desa Udak Melomata yang ditemui ketika memantau ruas
jalan ini, menuturkan, setiap musim hujan, jalan di jalur ini selalu
longsor. dan jika sudah begini, akses
jalan poros tengah terputus dan dengan sendirinya warga desa udak, dan desa
Lewuka yang hendak ke Lewoleba, harus melintas melalui poros selatan menuju
Wulandoni. Tentu saja waktu tempuh ke lewoleba semakin lama, dan sudah pasti
ongkos kendaraan pun bertambah.
“Iya parah sekali, kalau musim hujan selalu longsor, sebagian
besar badan jalan tertutup, jadi mobil tidak bisa lewat, paling kita buka
sedikit untuk sepeda motor. Jadi kalau kami mau ke Lewoleba, harus lewat
Wulandoni terus ke puor baru ke Lewoleba, jalan jauh bayar oto juga makin
mahal,”
Terpaksa Swadaya
Jalan poros tengah lintas Kecamatan Nubatukan-Wulandoni
sepantasnya sudah harus dibangun pemerintah, karena pembanganunan jalan menuju
perdesaan bukan sekedar memenuhi desakan warga, atau sekedar memenuhi kewajiban
Negara (baca; Pemerintah) namun lebih dari itu demi medorong percepatan
pembanganun ekonomi masyarakat perdesaan.
![]() |
Warga Desa Belobao, (Lewuka) bahu membahu bangun talud
sepanjang 308 meter (Foto : Yogi Making)
|
Desakan warga bukan tak pernah disampaikan. Dalam banyak
kesempatan baik dalam forum Musrenbang maupun forum diskusi bersama DPRD, warga
di wilayah pedalaman Nubatukan dan Wulandoni sering menyuarakannya. Namun,
desakan demi desakan yang disampaikan tak sedikitpun di respon pemerintah.
Lambannya respon pemerintah Kabupaten Lembata dalam menjawab
kebutuhan masyarakat inilah, memaksa warga desa Belobao (Lewuka) bersama
pemerintah desa mencarikan jalan keluar sendiri. Dengan memanfaatkan sisa dana
desa tahun sebelumnya ditambah swadaya murni dan bantuan pihak ketiga, warga
akhirnya turun tangan memperbaiki jalan. Tak tanggung-tanggung, ruas jalan
sepanjang 308 meter berhasil mereka bangun.
“Mau tunggu dana kabupaten? Kapan baru jadi, padahal kita
butuh jalan. Kami akhirnya bersepakat untuk menggunakan sisa dana tahun
sebelumnya, ditambah swadaya murni dari masyarakat dan ada bantuan dari pihak
ketiga untuk memperbaiki jalan. kami bangun talud sisi kiri-kanan juga
pekerjaan timbun badan jalan. Total badan jalan yang kami kerjakan adalah 308
meter, jadi 154 meter setiap sisi,” kata
Gaspar Wutun.
Gaspar dan warga lainnya yang ditemui disela kesibukan
membangun jalan berharap Pemerintah Kabupaten secepatnya menjawab kebutuhan
jalan bagi warga di pedalaman Nubatukan dan Wulandoni. Poros jalan tengah
adalah jalur utama bagi mereka untuk melintas dari dan ke kota Lewoleba. (Yogi
Making)


Tidak ada komentar