Bebas Tak Perlu Bablas (Refleksi Kehadiran Jurnal Maluku)
Oleh : Bobby Kin Palapia
(Kabag Humas Setda Maluku)
Tidak ada demokrasi tanpa kebebasan berpendapat. Dengan
dasar inilah kita melihat tumbuh mekar media massa dengan aneka bentuk sajian.
Apalagi di jaman reformasi seperti yang terlihat dan dirasakan.
Keterbukaan informasi mengalir deras, jauh berbeda dari masa
pemerintahan Presiden ke 2 RI, Soeharto. Banyak kalangan merasa
ini momentum semua bisa bersikap, bisa bersuara, bisa sebebas-bebasnya.
![]() |
| Bobby Kin Palapia |
Menilik UUD 1945 Pasal 28 tentang kebebasan berserikat,
berkumpul dan berpendapat, rasanya tidak salah. Meski begitu, kebebasan yang
dibuka sejak Presiden ke 4 RI, Abdurrahman Wahid, akhir-akhir ini mulai
mengkuatirkan.
Pemanfaatan media massa berikut media sosial pula bermacam
perkumpulan identitas yang dikelolah tidak sehat, sedang berjalan ke arah
ancaman disintegrasi bangsa. Kebersamaan dalam keberagaman perlahan terkoyak.
Sikap saling menghargai terancam ego masing-masing. Negara
dan pemerintah kemudian menjadi sasaran perilaku kebablasan. Sadar atau tidak,
media juga ikut ambil peran dalam kecerobohan informasi yang merangsang sikap
destruktif merusak tatanan sosial. Moral dan etika semakin jauh dari kesadaran
kolektif terhadap pentingnya hidup berdampingan dalam tantangan pluralisme.
Komunikasi publik sudah tidak lagi elok dan elegan. Bahasa kehilangan
rasa, dan itu bisa terlihat dari cara penyebarluasan informasi cenderung
menjauh dari kaidah penulisan berita yang memungkinkan suasana Kamtibmas tetap
terjaga dan berlangsung kondusif.
Atas dasar inilah, "Jurnal Maluku" bertekad menjadi bagian dari
upaya pencerahan, dan ingin memberi warna positif dalam ke-sesak-an sekaligus
ke-sesat-an informasi. Pasalnya, jika dulu pada masa rezim pemerintahan
Soeharto semua merasa ada ruang kosong, justru saat-saat sebegini ruang kosong itu terisi oleh isu, fitnah,
caci, cerca dan maki.
Sejatinya "Jurnal Maluku" beredar di lingkup pemerintahan dan
tidak dipasarkan. Berupaya di jalur sosialisasi yang obyektif dan otomatis
punya misi membumikan seluruh program kegiatan pembangunan yang sudah, sedang
dan akan terus dilakukan. Kami bertekad hadir di tengah rakyat, sekalipun itu
di pelosok desa dan dusun.
"Jurnal Maluku" berusaha memainkan peran sentral bagi
penentuan langkah aparatur dan rakyat menyikapi liarnya opini publik. Malah
menohok kewibawaan pemerintah, seolah-olah tidak ada hal baik lagi yang perlu
dilihat.
Kendati cara penyajian masih sangat sederhana, tetapi kami
percaya langkah awal ini menentukan langkah selanjutnya. Mengamini adagium
klasik, “Kesulitan yang dialami sesungguhnya hanya pada langkah awal”.
Konsolidasi dan penyebarluasan informasi yang terarah
setidaknya menjadi prasyarat bagi perkembangan sosial. Di dalamnya ada berbagai
aktifitas, hubungan antar personal dan kelompok dalam sebuah tatanan, sistim
sosial yang memungkinkan pembangunan dapat berjalan secara baik.
Sebab, keseimbangan kebebasan dan tanggung jawab sosial
menjadi sesuatu yang sangat penting bagi derap langkah pembangunan. Mendapatkan
informasi yang benar, akurat dan berimbang adalah pilihan kami ditengah
kesimpang-siuran pembentukan opini publik yang nyaris menghilangkan setiap
upaya dan langkah positif pelayanan pemerintah kepada rakyat.
Kami berusaha tanggap terhadap situasi publik sambil
memperkokoh posisi internal berkaitan dengan sosialisasi seluruh kegiatan. Kita
tahu bersama pers saat ini begitu menikmati era kebebasan, dan tidak jarang
disebutkan kebebasan kebablasan. Sejatinya Jurnal Maluku ingin menyampaikan,
mengkonstruksikan realitas yang ada. Itu artinya, kami ingin dengan cara kami.
Sedapat mungkin menyajikan atau mengemas framing melalui
seleksi naskah sekaligus seleksi isu yang mengganggu pola relasi sosial baik
internal maupun eksternal, agar semua keterjalinan tetap berlangsung dalam
suasana kondusif penuh semangat berikut selalu mempunyai optimisme.
Melalui bangunan komunikasi, informasi obyektif, memiliki
cara yang bisa berbeda dengan kebanyakan media publik. Pada sikap itu, kami
berusaha mengemas tulisan secara profesional. Tetap berdiri pada etika
penulisan sesuai standar penulisan berita media pada umumnya dengan tidak
menghilangkan sama sekali gaya pesan Humas dari pemerintah.
Kesadaran terhadap posisi penting menciptakan sebuah
kesadaran umum, ide, dan mungkin saja citra bagi kebanyakan orang yang melihat
cara kami bukan selera mereka. Kita maklumi di tengah perang opini media-media
yang mempersepsikan setiap langkah pemerintah sebagai upaya politik atau pun
pencitraan, sesungguhnya tidak berdasar. Sebab, seringkali wacana media justru
dianggap turut memperkeruh hubungan antar elit, termasuk lembaga, dan rakyat.
Humas Setda Maluku, melalui sub bidang publikasi dan
dokumentasi senantiasa berusaha menyesuaikan diri atas perubahan, perkembangan,
dan seluruh dinamika yang terjadi di sekitar termasuk laju teknologi informasi.
Sambil berbenah, sambil tetap menjalin komunikasi,
koordinasi bersama para pengelolah media terutama wartawan. Dengan begitu
masing-masing pihak saling melengkapi bagi upaya pencapaian writing skill saat
mendistribusikan pesan berita Humas yang dimuat oleh rekan-rekan wartawan pada
medianya.
Menurut Water Lippmart, pemberitaan media, menjadi jendela
bagi pengalaman kita tentang realitas dunia luar, serta turut mengarahkan
khalayak pada suatu pola pikir atau opini tertentu, individu tertentu atau
khalayak tertentu.
"Jurnal Maluku" memilih tidak diam, memediasi realitas
sekaligus menyalurkan informasi berimbang, obyektif tentang target, kerja dan
harapan-harapan pemerintah dan rakyat. Akan sia-sia jika segala yang sudah
dilakukan kemudian dianggap tidak ada sama sekali.
Karena itu, naskah "Jurnal Maluku" sebagai pesan kalau waktu
terus berjalan, dan selama itu pula pemerintah terus berupaya bersama rakyat.
Sayang jika tidak diulas tulis pada masa-masa ketika demokrasi bertumbuh, sesak
sesat pada ruang yang dulunya kosong, dan kini terisi oleh aksi saling
menjatuhkan.
Kritik saran bentuk apa pun tetap disikapi dan dalam
keterbatasan sebagai manusia, biarlah masing-masing kita saling melengkapi.
Salam Verba Valent Scripta Manent. Segala yang terucap akan berlalu ditiup
angin dan segala yang tertulis selalu abadi. Pilih dan saringlah segala yang
tertulis. (*)

Tidak ada komentar