Suanggi, Apa yang Mesti Diperbuat?
Oleh Pieter Hadjon
Namanya menaka(ng) atau suanggi sejenis mahluk yang paling
ditakuti di Flores dan juga Papua, Ambon dan Pulau bagian di NTT yaitu Alor.
Konon suanggi diyakini sebagai manusia yang bersekutu dengan setan sehingga mereka bisa
membuat orang sakit dan mati seketika.
Pada jaman dengan teknologi yang sudah semaju ini, orang masih saja
percaya adanya suanggi. Lebih mengerikan lagi bahwa maindset masyarakat terlanjur terbentuk mempercayai bahwa suanggi bisa mematikan orang, "memakan" anaknya sendiri termasuk
keponakan dan kerabat dekat lainnya.
![]() |
| Pieter Hadjon, Advokat |
Cara berpikir ini secara turun temurun
dikembangkan dari mulut ke mulut. Padahal bersamaan dengan itu, lain orang meragukan jalan pikiran itu, bahkan dianggap sesuatu
yang tidak jelas kebenarannya.
Tapi tetap saja, orang yang percaya dan terus melancarkan pendapat tentang kerja suangi. Dikatakan, jika mereka yang disebut suanggi ini tidak medapatkan mangsa orang lain. maka hanya untuk mengasah dan memperkuat ilmu hitamnya, mereka para suanggi akan "memakan" anaknya sendiri. Mengerikan sekali ?
Apa Masalanya?
Masalahnya, seringkali terjadi bahwa isu suanggi atau
tukang santet sering menimbulkan tindakan anarkhis terhadap orang yang dituduh dengan kebenaran yang sangat sumir. Mereka yang dituduh harus kehilangan harta
benda bahkan nyawa, karena perbuatan anarkhis tersebut. Fenomena ini pun masih terjadi di Jawa, pulau yang menjadi dianggap kiblat modernisasi di negeri kita.
Idealnya
orang yang hidup dengan normal, bekerja dan hidup bersosial layaknya masyarakat
pada umumnya,tidak menyakiti orang lain,tidak memiliki banyak musuh diikuti
dengan rajin berdoa dan iman yang kuat, santet atau pelet atau apa saja yang
berbau mistik dan berhaluan kekirian tidak akan bisa mempengaruhinya apalagi
sampai melukai maupun membunuhnya.
Keberadaan suanggi benar tidaknya masih sangat sumir untuk
dibuktikan, semuanya kembali kepada pola berpikir kita bagaimana mengkritisi
terhadap fenomena ini dan ratio yang harus dikedepankan untuk menilai
keberadaan suanggi.
Contoh, suatu saat ada orang yang mati mendadak kemudian ramai
orang serta merta menuduh kena santet, bahkan awal mula datangnya isu santet
tersebut tidak tahu juntrungnya, mereka tidak mengerti bahwa mati mendadak
dikarenakan heart attack ( serangan jantung) atau stroke yang sebelumnya tidak
terdeteksi.
Bagaimana mungkin mau terdeteksi,jangankan general check up,
kontrol dan berobat ke dokter saja jarang sehingga seseorang yang sakit ketika
dibawa ke rumah sakit dan dirawat inap, kondisinya sudah parah dan hampir
dipastikan pulang sudah jadi mayat. Belum lagi masalah infrastruktur dan ketersediaan tenaga medis yang sangat tidak
memadai serta peralatan medis di rumah sakit setempat tidak lengkap.
Di Jawa peralatan medis dan dokter yang sudah sangat maju pun
dan menjadi rujukan pasien seluruh Indonesia, pasien- pasiennya sudah mulai
cerdas mencari second opinion dengan pergi ke Singapore atau Penang untuk
sekedar cek kesehatan bahkan sebagai bahan pembanding guna mendapat solusi
terbaik untuk sebuah penyakit .Kalau saja pelayanan kesehatan memadai terjadi di Flores sudah pasti isu suanggi yang makan manusia bisa ditepis.
Teringat cerita seorang bapa ketika
pulang dari rumah sakit, dokter mengharuskan operasi hernia. Bapa itu bertanya kepada
anaknya, berapa biaya operasi. Anaknya menjawab dua juta bapa....Spontan si Bapa menjawab dua juta "pa nai saja" yang artinya dua juta bapa pergi (mati)
saja. Ironis bukan ..?
Yang lebih aneh lagi ada yang mati karena ditabrak sepeda
motor. Masih saja isu bahwa menaka atau suanggi yang melakukan dan anehnya lagi
yang dituduh adalah adiknya almarhum sendiri.
Bagaimana
caranya bisa muncul tuduhan seperti itu? Walau ada saja alibi mereka yang
menyatakan bahwa almarhum sebelum ditabrak digiring oleh orang yang namanya
menaka melewati TKP sehingga terjadi tabrakan. Ditambah lagi selama ini almarhum
tidak pernah melewati jalan itu, semuanya dikait-kaitkan sehingga sepintas
kelihatan logis dan meyakinkan.
Ada lagi isu yang menyatakan bahwa di tengah malam ketika
lewat di jalan, ada orang memergoki adiknya almarhum dengan mulut merah
berdarah dan berasumsi itu habis makan orang.
Semua menjadi irasional karena menaka(ng) itu berkaitan dengan
hal gaib sehingga apa yang dilakukan pun pasti juga tidak kasat mata alias gaib. Tapi dalam cerita itu kelihatan seperti habis makan daging mentah
manusia hidup hidup sehingga mulut berlumuran darah, aneh bin ajaib.
Yang
memperkuat isu santet adalah fenomena- fenomena kucing hitam lewat atau
mengeong, belum lagi burung hantu atau gagak berbunyi pasti ada yang mau mati,
yang semuanya menjadi pertanda Menaka datang. Hal yang paling dipercaya adalah
ketika seorang kerasukan menyebut si A mati karena disantet si B
Hilangnya Rasa Percaya Diri
Sebenarnya isu santet pelet dan sebagainya marak di
masyarakat kita di level low society... masyarakat di kelas bawah, bukan low
secara materi saja tapi yang terbesar adalah low secara keimanan.
Bahkan di jaman yang sudah modern ini pun masyarakat masih
kental mempercayai hal semacam itu. Adanya degradasi iman dan melunturnya nilai-
nilai kemayarakatan toleransi, tepo selira dan lain-lain itu yang membuat orang begitu
buas menunjukkan ego dengan memaksa orang mengikuti jalan pikirannya dengan
berbagai cara.
Orang sampai kehilangan kepercayaan diri karena gagal
dalam perolehan sesuatu, mulailah dukun menjadi jujukan dan tidak percaya pada
doa dari diri sendiri dan mencari pendoa-pendoa yang konon bisa menerawang
semuanya, dan merasa para pendoa punya jalan tol yang cepat sampai doanya.
Isu santet ini makin tumbuh subur karena orang sudah
kehilangan arah dan asal tuduh. Dua hal yang selalu jadi pembicaraan orang di
kampung saya yang pertama adalah isu politik dan kedua adalah isu santet,
menjadi gosip panas karena semua orang jadi ahli dan sok tau semua...
Tidak Mudah
Masalah santet ini sebenarnya sudah diteliti secara ilmiah
oleh Prof. Dr. TB. Nitibaskara, pakar anthropologi UI, Berpuluh tahun dia
meneliti soal Santet yang terjadi di Banyuwangi, Banten, pulau-pulau Jawa dan luar
Jawa akhirnya kembali lagi bahwa pembuktian Santet tidak semudah dan
sesederhana yang orang - orang bilang.
Sebab, santet pada dasarnya adalah
cerita turun menurun yang diyakini ada tapi sangat sulit dibuktikan
kebenarannya, energy negatif tersebut ,yang sudah ada sejak jaman dahulu bahkan
sampai manusia hidup beradab seperti sekarang bisa ditepis dengan energi
positif seperti beribadah, iman yang kuat, hidup tertib, patuh pada tatanan
hukum dan menimba ilmu yang manfaat..
Semoga ini bisa menjadi informasi bahkan memberi masukan
berarti untuk kita terutama saudara- saudaraku yang berada di kampung sana.
Marilah kita lebih arif dan wise untuk menilai dan jangan lagi ada tuduhan-
tuduhan sesat, apalagi sampai berakibat fatal dengan hilangnya harta benda
sampe nyawa seseorang karena tuduhan tersebut. Bahkan aparat penegak hukum pun
belum bertindak, masyarakat begitu gegabah menghakimi seseorang...
Jangan lagi terjadi saudaraku...

Tidak ada komentar